Menteri paparkan kemajuan peran, pemberdayaan perempuan di Afghanistan

Menteri paparkan kemajuan peran, pemberdayaan perempuan di Afghanistan

Menteri Informasi dan Kebudayaan Afghanistan Hasina Safi menyampaikan pidato pembukaan dalam "Dialogue of the Role of Women in Building and Sustaining Peace: Women as Agent of Peace and Prosperity", di Jakarta, Jumat (29/11/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Presiden kami sangat tegas, jujur, berkomitmen, dan berperan nyata dalam mendukung pemberdayaan perempuan
Jakarta (ANTARA) - Menteri Informasi dan Kebudayaan Afghanistan Hasina Safi mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, negaranya mencapai kemajuan dalam hal peningkatan peran dan pemberdayaan perempuan.

Dalam pidato yang disampaikan dalam Dialogue of the Role of Women in Building and Sustaining Peace: Women as Agent of Peace and Prosperity, di Jakarta, Jumat, Hasina menjelaskan bahwa kemajuan tersebut adalah hasil perjuangan perempuan Afghanistan sejak tahun 2001-2002 untuk bisa berdaya di berbagai bidang, meskipun dengan fasilitas dan kepercayaan diri yang sangat terbatas mengingat konflik berkepanjangan yang dihadapi warga di negara tersebut.

“Hari ini dengan bangga saya dapat menyampaikan dua pesan, yaitu perempuan Afghanistan bisa menyelesaikan sendiri masalah mereka dan perempuan Afghanistan tidak akan mundur,” kata Hasina.

Sejumlah kemajuan di bidang pemberdayaan perempuan yang berhasil dicapai Afghanistan antara lain, parlemen yang beranggotakan 24 persen perempuan, 16 wakil menteri perempuan, serta 4 hingga 6 duta besar perempuan yang mewakili Afghanistan di luar negeri.

Selain itu, jumlah perempuan yang menempuh pendidikan tinggi di Afghanistan juga semakin bertambah, begitu pula dengan jumlah perempuan yang menekuni profesi tertentu seperti dokter, insinyur, wartawan, dan pembuat film. Afghanistan juga memiliki 3.000 perempuan yang berkarir di sektor keamanan.

Baca juga: Menlu Retno tegaskan tidak ada perdamaian tanpa keterlibatan perempuan

Berbagai kesuksesan tersebut, kata Hasina, tidak lepas dari kebijakan dan keberpihakan pemerintah Afghanistan yang kini dipimpin Presiden Ashraf Ghani.

Dalam lima tahun terakhir pemerintahannya, Presiden Ghani melakukan sejumlah terobosan diantaranya menetapkan seorang perempuan di pengadilan tertinggi, menunjuk duta besar perempuan, termasuk memilih Hasina sebagai Menteri Informasi dan Kebudayaan.

Untuk memutuskan berbagai hal yang baru pertama kali dilakukan dalam sejarah Afghanistan itu, dibutuhkan keberanian tinggi dari seorang pemimpin negara.

“Presiden kami sangat tegas, jujur, berkomitmen, dan berperan nyata dalam mendukung pemberdayaan perempuan,” kata Hasina.

Namun, kemajuan yang dinikmati perempuan Afghanistan bukannya tanpa tantangan.

Saat ini, negara tersebut masih membutuhkan peningkatan perempuan untuk pembangunan dan perdamaian yang berkelanjutan, juga kesetaraan gender.

“Saat ini, para perempuan di Afghanistan sedang berjuang untuk kualitas dan efektivitas,” kata Hasina.

Dukungan untuk pembangunan tersebut diharapkan bisa dilakukan melalui kerja sama, salah satunya dengan Indonesia, yang secara konsisten berkomitmen membantu perdamaian di Afghanistan.

Baca juga: Dukung perdamaian, Menlu Retno Marsudi kunjungi Afghanistan awal 2020

Baca juga: Afghanistan harap Indonesia bantu wujudkan kesetaraan, perdamaian
 

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar