Indonesia waspadai situasi global dilanda rivalitas tidak sehat

Indonesia waspadai situasi global dilanda rivalitas tidak sehat

Presiden Direktur BCA Syariah John Kosasih (kanan) dan CEO Waqara Dino Patti Djalal menunjukkan nota kerjasama antara Bank BCA dan Waqara yang usai ditandatangani di Jakarta, Senin (16/9/2019). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aa.

Kondisi global itu mengarah kepada istilah 'hot peace'. Istilah itu adalah suatu kondisi di mana ada kompetisi zero-sum atau 'jika saya menang, anda harus kalah dan sebaliknya'
Jakarta (ANTARA) - Pendiri organisasi kebijakan luar negeri Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengingatkan pemerintah Indonesia mengenai situasi global yang dilanda persaingan yang tidak sehat antara negara-negara.

"Kondisi global itu mengarah kepada istilah 'hot peace'. Istilah itu adalah suatu kondisi di mana ada kompetisi zero-sum atau 'jika saya menang, anda harus kalah dan sebaliknya'," ujar Dino Patti Djalal dalam sesi pembukaan kegiatan Conference on Indonesia Foreign Policy (CIFP) 2019, di The Kasablanka, Jakarta, Sabtu.

Dinno menekankan bahwa rivalitas yang tidak sehat itu bukan cara yang baik untuk interaksi antarnegara.

"Ada persaingan geostrategis. Ada juga pergeseran kekuatan yang mengganggu di mana AS sekarang merasa China mungkin menyalip AS pada beberapa masalah penting hubungan internasional," ujar dia.

Baca juga: Presiden Jokowi sampaikan langkah ASEAN hadapi situasi global

Baca juga: Airlangga: Hadapi situasi ekonomi global butuh kesolidan politik


Kondisi tersebut, menurut Dinno, juga menimbulkan kecurigaan tinggi dan kepercayaan rendah serta perlombaan senjata yang mengkhawatirkan.

"Kadang-kadang terjadi kebingungan dan konflik yang luas, baik di dunia maya, teknologi, bisnis, dan lain-lain," kata dia.

Dinno mengutarakan perang dingin memang sudah berlalu, tetapi ada suatu rivalitas baru yang muncul sekarang ini yang membuat perdamaian menjadi sangat tidak stabil.

Ini memang konsekuensi dari "hot peace" yang bisa digambarkan sebagai masa damai yang dipenuhi dengan ketegangan serta kecurigaan.

"Ada juga konsekuensi ekonomi dari masa damai yang dipenuhi ketegangan, seperti perang dagang antara AS dan China yang kemungkinan besar akan menelan konsekuensi yang mahal," kata Dinno.

Baca juga: Menkeu: penguatan mata uang karena situasi global

Baca juga: Rupiah menguat tipis ditengah potensi kembali memanasnya perang dagang

Baca juga: Rupiah masih akan melemah hari ini, dibayangi sentimen perang dagang

 

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ma'ruf Amin: Indonesia dukung upaya damai AS dan China

Komentar