Komunitas Banyu Bening gelar "Kenduri Banyu Udan" di Sleman

Komunitas Banyu Bening gelar "Kenduri Banyu Udan" di Sleman

Kegiatan "Kenduri Banyu Udan" yang digelar Komunitas Banyu Bening, Donoharjo, Sleman. Foto Antara/ HO/ Humas Sleman

Memasuki musim hujan ini, sangat bijak jika masyarakat mempersiapkan tandon air hujan sehingga dapat memanen air hujan baik agar tidak membludak dan menimbulkan banjir
Sleman (ANTARA) - Komunitas Banyu Bening menggelar "Kenduri Banyu Udan" di Dusun Tempursari, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu.

Pelaksanaan kenduri tahun 2019 ini, juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dengan Komunitas Banyu Bening.

MoU tersebut berisikan kesepakatan alih teknologi pengelolaan air hujan secara terintegrasi untuk solusi air bersih di Provinsi Bangka Balitung.

"Kondisi air tanah di sebagian besar Provinsi Bangka Belitung diketahui tidak layak konsumsi, padahal curah hujan di Babel sangat tinggi dan hampir sepanjang tahun selalu hujan, jadi kami melihat air hujan ini bisa jadi solusi," kata Kepala Pelaksana BPBD Bangka Belitung, Mikron Antariksa.

Baca juga: Babel kerja sama dengan Komunitas Banyu Bening kelola air hujan

Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan oleh Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung Abdul Fatah dan Ketua Yayasan Mutiara Banyu Bening Sri Wahyuningsih.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun yang hadir menyambut Wakil Gubernur Bangka Belitung mengatakan kegiatan tersebut guna menyiapkan masyarakat untuk menyambut datangnya musim hujan, yakni dengan menampung air hujan.

"Memasuki musim hujan ini, sangat bijak jika masyarakat mempersiapkan tandon air hujan sehingga dapat memanen air hujan baik agar tidak membludak dan menimbulkan banjir," katanya.

Sri juga memberikan apresiasi kepada Komunitas Banyu Bening karena telah memberikan kontribusi untuk masyarakat Sleman dan Indonesia pada umumnya.

Kegiatan Kenduri Banyu Udan tersebut tidak hanya dalam rangka memanfaatkan air hujan tetapi juga turut melestarikan kebudayaan yakni dengan kirab warga serta tari-tarian.

Baca juga: Hari ini, waspada hujan dan petir di Jakarta

"Kegiatan ini sekaligus membangun karakter generasi penerus, karena yang hadir dari balita hingga orang dewasa, dan juga dari berbagai komunitas air hujan yang ada di Indonesia juga hadir di sini," katanya.
Kegiatan "Kenduri Banyu Udan" yang digelar Komunitas Banyu Bening, Donoharjo, Sleman. Foto Antara/ HO/ Humas Sleman


Ketua Komunitas sekaligus Pendiri Banyu Bening Sri Wahyuningsih mengatakan melalui kenduri tersebut pihaknya mengajak banyak orang untuk lebih dekat dan mengenal fungsi air hujan.

"Kami sengaja membuat Kenduri Banyu Udan setiap tahun, selain sebagai ucapan rasa syukur atas berkah dari air hujan, juga merupakan sarana sosialisasi mengenai pentingnya air hujan," katanya.

Menurut dia, tahun ini merupakan pelaksanaan kenduri yang keempat kalinya sebagai langkah untuk mengedukasi masyarakat akan cara pemanfaatan air hujan.

"Dengan pemanfaatan air hujan ini diharapkan tidak terjadi lagi eksploitasi air tanah yang berlebihan yang berpotensi memunculkan permasalahan air di lingkungan. Selain itu masyarakat juga dapat menghemat pengeluaran untuk mendapatkan air bersih," katanya.

Baca juga: Waspadai potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Jakarta

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dhika Bhayangkara resmi berseragam Persib Bandung

Komentar