Pegiat iklim Greta Thunberg dekati pelabuhan Lisabon

Pegiat iklim Greta Thunberg dekati pelabuhan Lisabon

(ki-ka) Sekjen PBB Antonio Guterres, aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, Presiden Austia Alexander Van der Bellen dan mantan gubernur California Arnold Schwarzenegger berfoto bersama dalam R20 Austrian World Summit di Wina, Austria, Selasa (28/5/2019). (REUTERS/LISI NIESNER)

Lisabon (ANTARA) - Pegiat iklim Greta Thunberg mendekati Lisabon di perahu dengan dua lambung (catamaran) pada Selasa, setelah melintasi Samudra Atlantik, dari New York, demikian tayangan Televisi Reuters.

Greta dijadwalkan tampil dalam pertemuan puncak di Madrid untuk menuntut dilakukannya tindakan mendesak mengenai pemanasan global.

Baca juga: Buka COP 25, Sekjen PBB desak dunia serius tangani darurat iklim

Perahu tersebut, La Vagabonde, membawa pengampanye Swedia itu --yang menolak melakukan perjalanan dengan naik pesawat, melintasi samudra sehingga ia bisa menghadapi pertemuan iklim COP25 di Madrid, kata Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa. Ia akan menghabiskan waktu satu hari untuk mengadakan pertemuan dengan pegiat iklim Portugal dan beristirahat sebelum kepergiannya ke Madrid.

"Menuju Lisabon!" ia mengunggah pesan di Twitter yang disertai gambar di atas perahu.

Menteri Lingkungan Hidup Portugal Matos Fernandes berterima kasih kepada Greta atas kegiatannya, di dalam surat pada Kamis lalu (28/11) karena telah bertolak untuk menghadiri COP25.

Baca juga: Muhaimin jadi salah satu pembicara utama di UNCCC COP25 di Madrid

Presiden negeri itu Marcelo Rebelo de Sousa mengatakan "suatu kebahagiaan sangat besar" untuk menerima dia di Lisabon tapi tidak merasa bahwa ia secara pribadi mesti menyambut pegiat tersebut.

Greta Thunberg luput dari pemogokan iklim Jumat lalu sebab angin kencang menunda kedatangannya di Lisabon tapi ia dijadwalkan bergabung dengan ribuan pegiat yang berpawai di Madrid pada Jumat sore di sisi COP25.

Baca juga: Greta Thunberg pilih berlayar ke AS demi kurangi jejak karbon

Konferensi tersebut diluncurkan pada Senin dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa planet ini telah mencapai "titik tanpa jalan kembali".

Prioritas utama meliputi pembentukan kerangka waktu bersama buat semua negara untuk melaksanakan rencana komitmen iklim nasional mereka, dan menyelesaikan masalah pasar karbon internasional, satu-satunya aspek bagi buku peraturan Paris, yang peserta gagal sepakati pada COP24 tahun lalu di Polandia.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Generasi muda aksi damai sikapi perubahan iklim

Komentar