Lippo hadirkan pemakaman muslim seluas 50 hektar di Karawang

Lippo hadirkan pemakaman muslim seluas 50 hektar di Karawang

Pembukaan pemakaman Muslim Raudlatul Jannah Memorial Park di Karawang Kiri-Kanan memberikan penjelasan: Agus Sujatmiko, General Manager Raudlatul Jannah, Danang Kemayan Jati, Direktur Komunikasi PT. Lippo Karawaci Tbk., Suziany Japardy, Direktur San Diego Hills Memorial Park, dan KH. Ahmad Ruhiat Hasby, Penasihat Raudlatul Jannah. (Foto ANTARA/ Ganet Dirgantoro)

Jakarta (ANTARA) - PT Lippo Karawaci Tbk membangun pemakaman muslim "Raudlatul Jannah Memorial Park" seluas 50 hektare di Kabupaten Karawang Jawa Barat.

"Kami bangun baru karena lokasi pemakaman khusus muslim di San Diego Hills Memorial Park kian terbatas. Lokasinya bersebelahan dengan San Diego Hills kalau dari jalan Tol Jakarta-Cikampek keluar di Gerbang Tol Karawang Barat," Direktur San Diego Hills Memorial Park di Jakarta, Selasa.

Raudlatul Jannah yang secara harafiah berarti Taman Surga ini pengelolaannya dilakukan sesuai dengan aturan dan kaidah Islam untuk memberikan layanan kepada masyoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam.

"Konsep desain arsitektur bangunan yang ada di Raudlatul Jannah Memorial Park mengingatkan kita sebagai umat Islam untuk memuji kebesaran Allah SWT dan selalu melakukan perintah Allah," ujarnya.

Misalnya, kata dia,  pada bangunan totem yang berdiri di kiri kanan jalan utama menuju Family Center, tertulis kalimat Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir. Arti dari kalimat dzikir tadi adalah Maha Suci Allah, Segala Puji bagi Allah, Tiada sesembahan yg berhak disembah selain Allah dan Maha Besar Allah.

Kalimat ini merupakan kalimat dzikir yg senantiasa harus di amalkan oleh umat Islam dalam kesehariannya, karena makna dari kalimat tersebut sungguh tinggi.

"Di dalam memberikan nama mansion di Raudlatul Jannah Memorial Park, pengelola menggunakan nama untuk mengingatkan kebesaran Allah. Mansion pertama yang kami buka bernama Al-Fattaah yang artinya Maha Pembuka Kebaikan. Rezeki ada banyak jalannya dan Allah Ta’ala tahu mana rezeki yang terbaik untuk hamba-Nya," ujarnya.

Baca juga: San Diego Hills miliki izin dari BPM dan PT Pemkab Karawang

Dia mengatakan bagi umat muslim pemakaman adalah sesuatu yang sakral dan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan agama, antara lain, jenazah harus membujur ke utara dengan muka menghadap ke arah kiblat dan tidak menggunakan beton.

"Karenanya, pengelolaan pemakaman di Raudlatul Jannah Memorial Park dilakukan dengan mengikuti standar ketat sesuai aturan dalam agama Islam,” kata KH. Ahmad Ruhiat Hasby selaku Penasihat Raudlatul Jannah Memorial Park.

Pemakaman ini dibangun untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya dan ini sejalan dengan tradisi umat muslim untuk berziarah ke makam para leluhur.

Raudlatul Jannah dilengkapi dengan fasilitas penunjang seluas 2 hektar yang terdiri dari Masjid Raudlatul Jannah berkapasitas 150 orang, Restaurant Acacia yang menyediakan menu ala nusantara, Food Mart, Jasmine Florist Shop dan Marketing Office.

Semua itu membuat pemakaman ini menjadi tempat yang nyaman bagi keluarga yang ingin berziarah ke makam leluhur mereka.

Baca juga: Pemakaman Islam ramai dikunjungi jelang Ramadhan

Agus Sujatmiko, General Manager Raudlatul Jannah mengatakan berbeda dengan pemakaman pada umumnya dengan harga sekitar Rp32 juta keluarga almarhum tidak lagi dibebani biaya-biaya lagi.

Selain penyediaan lahan pemakaman, Raudlatul Jannah juga memberikan pelayanan lengkap mulai dari memandikan jenazah, mengkafani, menshalatkan, membawa jenazah ke pemakaman, hingga memakamkan jenazah.

Mengingat pemakaman jenazah seorang muslim harus dilakukan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam setelah meninggal, maka Raudlatul Jannah menyediakan pelayanan di luar jam kerja atas permintaan khusus.

Usai pemakaman, Raudlatul Jannah juga memberikan pelayanan penyediaan batu nisan, penyediaan tenda dan kursi untuk ziarah di makam, hingga pemeliharaan lahan pemakaman dan penjagaan keamanan selama 24 jam 7 hari seminggu.

 

Pewarta: Ganet Dirgantara
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar