UNS kenalkan TBS kepada petani Klaten

UNS kenalkan TBS kepada petani Klaten

Para anggota tim pengabdian masyarakat dari UNS saat meninjau areal persawahan di Kabupaten Klaten. (ANTARA/HO/Humas UNS)

Solo (ANTARA) - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengenalkan teknologi Trap Barrier System (TBS) kepada para petani di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah untuk mencegah hama tikus.

"Kami melakukan kegiatan penerapan teknologi ke masyarakat dalam rangka mengendalikan hama tikus yang efektif, ramah lingkungan, dan berdampak jangka panjang, salah satunya dengan pemasangan TBS," kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) UNS Supriyadi di Solo, Selasa.

Ia mengatakan TBS merupakan teknik pengendalian tikus dengan prinsip memasang perangkap di lahan padi.

"Komponen TBS terdiri atas dinding sebagai pagar dengan bahan fiber agar tahan lama dan dapat dipasang berulang-ulang, bubu perangkap dari ram kawat, dan tanaman pemikat yaitu tanaman padi yang telah membentuk malai isi," katanya.

Baca juga: UNS akan jaring 6.706 mahasiswa baru 2020

Baca juga: UNS sebagai kampus sehat diluncurkan Kemenkes

Baca juga: UNS Surakarta berikan pendampingan desa wisata


Ia mengatakan pemasangan TBS akan efektif apabila padi di lahan sekitarnya belum mencapai masa bunting atau bermalai atau pada masa bera.

"Tikus akan masuk ke TBS karena mencari padi yang mengandung pati atau karbohidrat sebagai kebutuhan pakan pokok guna tikus berkembang biak. Untuk bubu berangkap ini dipasang pada sore hari dan diperiksa pagi hari, selanjutnya tikus yang terperangkap dalam bubu dibunuh dengan cara ditenggelamkan," katanya.

Ia mengatakan TBS modifikasi ini cukup efektif karena mampu menangkap antara 1-18 ekor setiap malam pemasangan.

"Dari penelitian kami jumlah lubang atau sarang aktif tikus di sekitar lokasi pemasangan TBS juga turun signifikan. Ini menunjukkan bahwa TBS efektif menurunkan populasi tikus di lapangan," katanya.

Ia mengatakan spesifikasi teknologi TBS yang diterapkan, yaitu luas tanaman padi untuk tanaman pemikat seluas 120 m2 dengan panjang 12 m dan lebar 10 m. Selanjutnya, tanaman dipagari dengan plastik fiber setinggi 80 cm dengan rapat.

"Rapat ini artinya bagian bawah fiber ditambal dengan tanah basah dan penyangga fiber ditempatkan di dalam pagar," katanya.

Sementara itu, untuk pemasangan TBS ini dapat diintegrasikan dengan pemanfaatan burung hantu "Tyto Alba" untuk mendapatkan hasil lebih efektif, ramah lingkungan, dan efek jangka panjang.

"Pemanfaatan burung hantu akan lebih efektif apabila disertai dengan pembuatan rubuha sebagai sarangnya. Burung hantu dapat mengendalikan populasi tikus karena makanan utamanya adalah tikus," katanya.

Ia mengatakan pemasangan TBS efektif apabila dipasang dengan benar, baik cara pemasangan, waktu pemasangan, maupun tanaman padi dalam TBS, yaitu padi fase generatif dan tanaman padi sekitarnya baru pindah tanam atau bera.

"Selanjutnya, pemasangan rubuha atau rumah burung hantu di wilayah serangan tikus bersinergi baik dengan TBS untuk mengendalikan populasi tikus dalam jangka panjang. Di sisi lain, pola tanam dengan selingan bukan padi dan waktu tanam padi serempak perlu dikembangkan dan dijalankan petani untuk mengurangi perkembangbiakan tikus dan populasinya," katanya.*

Baca juga: Hukum kemarin, KPK surati interpol hingga mahasiswa pembuat "meme" UNS

Baca juga: UNS panggil mahasiswa pembuat meme tentang kampusnya

Baca juga: Prestasi internasional disabet kelompok PSM " Voca Erudita" UNS

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

UNS beri gelar doktor honoris causa untuk Panglima TNI

Komentar