Artikel

Sayap-sayap Garuda kesatria pertahanan udara

Oleh Anggi Romadhoni

Sayap-sayap Garuda kesatria pertahanan udara

Hawk 100/200 TNI AU latihan gabungan bersama Tentara Udara Diraja Malaysia di Pulau Pinang, Malaysia, medio November 2019 lali. (HO Skadron Udara 12)

Pekanbaru (ANTARA) - Deru 871 Adour twin-spool, mesin turbofan pabrikan Rolls-Royce di tubuh si macan hitam "Black Panther" Hawk 100/200 memecah hening pagi di Hanggar Charlie, Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau.

  Lima jet tempur legendaris buatan British Aerospace yang memperkuat Skadron Udara 12 Pangkalan militer terlengkap di wilayah Barat Indonesia itu tengah bersiap untuk menjalankan misi penting di negeri jiran, Malaysia.

  Salah satu misi terjadwal di tahun ini, bersandi Elang Malindo 2019. Latihan bersama dua negara sahabat untuk memperkuat taktik dan teknik. Melibatkan ratusan prajurit silang divisi dengan konsep Full Mission Exercise (FMX) dan Actual Mission Exercise (AMX) "conventional warware" dengan melibatkan penerbangan taktikal.

  Elang Malindo, yang merupakan kegiatan rutin latihan dua negara TNI Angkatan Udara dan Tentara Udara Diraja Malaysia itu berlangsung di Skadron Udara 18 Pangkalan Udara Butterworth Pulau Pinang, Malaysia. Kolaborasi angkatan bersenjata untuk memperkuat pertahanan negara yang terjaga apik sejak 1975 silam.

  Sementara pada waktu bersamaan medio November 2019 lalu, latihan bersama militer negara tetangga Republic of Singapore Air Force (RSAF) bersandi Manyar Indopura 2019 juga diselenggarakan di Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

  Tiga unit helikopter Super Puma kedua negara terlibat latihan penyelamatan saat pertempuran itu bersandi Manyar Indopura XVII 2019. Dua jenis latihan berbeda namun dengan tujuan yang sama. Meningkatkan kemampuan prajurit dalam mengembangkan taktik serta teknik pertempuran udara.

  Pangkalan militer udara Roesmin Nurjadin berada di sebuah kota yang mengalami perkembangan pesat dalam satu dekade terakhir, dan terletak tepat di tengah Pulau Andalas, Sumatera.

  Secara geografis, pangkalan militer yang mengadopsi nama penerbang pesawat tempur pertama Indonesia Laksamana Udara TNI Roesmin Nurjadin itu berbatasan langsung dengan Selat Malaka, Singapura dan Malaysia.

  Saat ini, Lanud Roesmin Nurjadin merupakan satu-satunya pangkalan militer di Pulau Sumatera yang diperkuat dua skadron udara serta satu skadron teknik 045.

  Skadron Udara 12, menjadi kakak tertua setelah berdiri sejak 1983 silam. Skadron Udara 12 diperkuat dengan jet tempur Hawk 100/200 Black Panther buatan British Aerospace, persis sama dengan Skadron Udara 1 yang berbasis di Pontianak.

  Pada 2014, Lanud Roesmin Nurjadin makin digdaya untuk menjaga langit Indonesia dengan diresmikannya Skadron Udara 16 yang diperkuat jet tempur F16 Fighting Falcon.

  Keberadaan burung besi sayap-sayap Garuda itu jelas memberikan dampak besar dalam menjaga kedaulatan bangsa dan mewujudkan poros maritim Indonesia. Meski begitu, kekuatan Indonesia masih perlu diperkuat.

  Secara bertahap Kementerian Pertahanan terus berupaya melakukan regenerasi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) udara, termasuk kedua jenis jet tempur tersebut yang masuk dalam rencana strategis IV.

  Hawk Black Panther akan diganti dengan jet tempur generasi 4,5 yang mempunyai kelebihan mengangkut senjata lebih lengkap serta bahan bakar dengan jarak jauh. Sementara F16 fighting Falcon akan menjalani peningkatan kemampuan setara Block C/D secara bertahap.

  Perkuat pertahanan negara

  Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna menyatakan wilayah udara Ibu Pertiwi akan semakin kuat dengan rencana penambahan pesawat anyar super canggih dari Lockheed Martin, F-16 Block 72 Viper yang rencananya akan didatangkan bertahap para rencana strategis 2020-2024 mendatang.

  "Insya Allah kita akan beli dua Skadron di Renstra berikutnya 2020 sampai 2024. Kita akan beli tipe terbaru Block 72 Viper," kata Marsekal TNI Yuyu Sutisna di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru akhir Oktober 2019 lalu.

  Hingga kini, Indonesia masih mengandalkan pesawat F-16 yang merupakan pesawat tempur favorit di dunia. Sedikitnya, Yuyu mengakui jika 33 unit F-16 Fighting Falcon masih menjadi salah satu senjata utama Angkatan Udara.

  Burung-burung besi penjaga langit ibu Pertiwi itu menyebar di dua Skadron yakni Skadron udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru serta Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Jawa Timur. Ke depan, Indonesia masih akan mengandalkan F-16 sebagai penjaga birunya langit Indonesia, yakni dengan mendatangkan jenis terbaru Block 72 Viper.

  "Mudah-mudahan 1 Januari 2020 di proses sehingga bisa menambah kekuatan kita. Kalau kita memiliki itu berarti kita termasuk memiliki F-16 tercanggih," ujarnya.

  Menjadikan F-16 sebagai pesawat tempur andalan bukan tanpa alasan. Yuyu mengungkapkan jika populasi pesawat jenis F-16 itu mencapai 3.000 unit lebih dan digunakan oleh banyak negara di dunia.

  Selain itu, sejumlah operasi militer juga berhasil dilakukan dengan menggunakan pesawat asal negeri Paman Sam tersebut.

  "Banyaknya yang menggunakan dan banyaknya populasi tentunya keandalan pesawat ini sangat baik," tuturnya.

  Selain mengandalkan F-16 dan rencana mendatangkan jenis Block 72 Viper, Yuyu juga menekankan bahwa TNI AU turut akan mendatangkan pesawat jenis Sukhoi 35 dari Rusia. "Selain itu, juga kita akan ditemani pesawat dari timur, Sukhoi 35 juga sedang proses," urainya.

  F-16 Block 72 Viper adalah versi terbaru dari seri pesawat tempur F-16 dan merupakan versi paling mutakhir yang pernah diproduksi Lockheed Martin. F-16 Fighting Falcon merupakan salah satu pesawat tempur yang paling laris dan battle proven di dunia.

  Indonesia bisa dibilang menjadi operator mula-mula F-16 Fighting Falcon ini di ASEAN, melalui program pengadaan dengan sandi Peace Bima Sena I pada dasawarsa '90-an. Lompatan teknologi pertahanan udara dilaksanakan Indonesia saat itu secara baik dan mulus.

  Industri pertahanan negara

  Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto menyatakan tekatnya untuk meningkatkan kemampuan alat utama sistem persenjataan Indonesia.

  Pada APBN 2020 mendatang, Kementerian Pertahanan bahkan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp127,36 triliun, terbesar dibanding kementerian lembaga lainnya.

  Dari angka itu, Kementerian Pertahanan menganggarkan program modernisasi Alutsista sebesar Rp10,86 triliun atau naik 20 persen dibanding tahun sebelumnya.

  Prabowo pun telah melakukan pendataan terkait spesifikasi belanja alutsista yang akan dilakukan pada tahun 2020 nanti, sehingga alokasi anggaran untuk belanja alutsista dapat terserap dengan baik dan tepat sasaran.

  Prabowo paham betul bahwa kondisi Alutsista yang sudah baik harus ditingkatkan terus dan dimodernisasi tanpa henti, baik angkatan laut, udara, maupun angkatan darat.

  Secara garis besar, visi Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu adalah modernisasi Alutsista, yang tidak hanya bergantung dengan teknologi negara sahabat, melainkan juga memperkuat industri pertahanan negara.

  Dia optimistis industri pertahanan dalam negeri akan lebih mandiri dalam membuat Alutsista di masa mendatang.

  "Kemampuan kita sudah sangat baik sangat maju tentu ada bagian-bagian yang masih kita harus mengadakan penelitian dan pengembangan (litbang) lagi. Tapi insya Allah saya optimis lima tahun lagi kita akan lebih mandiri, lebih berdiri di atas kaki kita sendiri," tegas dia saat meninjau pameran alutsista yang digelar Perkumpulan Industri Alpalhankam Swasta Nasional (Pinhantanas), di Kantor Kemhan baru-baru ini.

  Sejauh ini Prabowo mengaku bangga dengan hasil karya dan kemampuan anak-anak bangsa dalam membuat alutsista untuk TNI dan Polri. Dia kembali menunjukkan sikap optimisme untuk merealisasikan tugas Presiden Joko Widodo dalam meningkatkan peran industri pertahanan dalam negeri.

  Dalam instruksinya, Presiden Jokowi memerintahkan tiga tugas untuk Kementerian Pertahanan. Pertama, "roadmap" harus jelas dalam pengembangan industri alat pertahanan di dalam negeri mulai dari hulu sampai hilir dengan melibatkan baik BUMN maupun swasta, sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada impor Alutsista dari luar negeri.

  Kedua, harus dipastikan ada alih teknologi dari setiap pengadaan alutsista maupun program kerja sama dengan negara-negara lain. Sumber daya manusia harus terus menjadi atensi untuk diperkuat dengan orientasi "strategic partnership".

  Terakhir, Presiden meminta kebijakan pengadaan alutsista betul-betul memperhitungkan dan mengantisipasi teknologi persenjataan yang berubah begitu sangat cepatnya.

  Dengan dukungan anggaran terbesar dalam APBN 2020, menjadi tantangan bagi Menhan Prabowo dan Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono untuk mewujudkan Indonesia yang kembali disegani dunia.

Oleh Anggi Romadhoni
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Prabowo pelajari situasi Pertahanan sebelum bekerja

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar