BATAN dan KF terus kembangkan produk radiofarmaka

BATAN dan KF terus kembangkan produk radiofarmaka

Ilustrasi. Limbah radioaktif reflektor reaktor Triga Mark yang akan dipindahkan dari Bandung ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) di Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan. ANTARA/Dokumen BATAN

Ada banyak produk yang sedang kita kembangkan, meski tidak bisa menyebutkan jenis-jenisnya karena namanya penelitian ada yang harus tertutup. Tapi ada misalnya untuk diagnosa pasien TBC, ada juga produk keloid, produk untuk scanning jantung dan terap
Jakarta (ANTARA) - Badan Tenaga Nuklir Nasional dan PT Kimia Farma masih terus mengembangkan produk radiofarmaka yang termasuk salah satunya Iodium 131 yang akan membantu para penderita kanker.

"Ada banyak produk yang sedang kita kembangkan, meski tidak bisa menyebutkan jenis-jenisnya karena namanya penelitian ada yang harus tertutup. Tapi ada misalnya untuk diagnosa pasien TBC, ada juga produk keloid, produk untuk scanning jantung dan terapi kanker tiroid juga sedang kita siapkan," ujar New Product Development Manager Kimia Farma (KF) Ridho Eko Mulyono ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Radiofarmaka adalah adalah senyawa kimia yang mengandung atom radioaktif dalam strukturnya dan digunakan untuk diagnosis atau terapi. Obat dan farmakologi itu dihasilkan dari radiofarmasi atau menggunakan teknologi nuklir.
Baca juga: BATAN satu-satunya pusat kolaborasi teknologi nuklir dunia

Lodium 131 adalah salah satu produk radiofarmaka yang paling banyak digunakan di dunia sebagai terapi paliatif kanker tiroid. Terapi menggunakan radioisotop itu akan membuat radiasi dari Iodium 131 menyerang kelenjar tiroid yang hiperaktif untuk menurunkan produksi hormon tiroid ke level normal dan menyerang sel tiroid yang terindikasi sel kanker.

Iodium 131 didapat dari Telorium Oksida yang diradiasi oleh BATAN dengan neutron di reaktor nuklir Siwabessy di Serpong, Banten untuk menghasilkan Telorium 131 yang diubah menjadi Iodium 131.

Dari hasil itu diproses dan dipisahkan menjadi larutan yang selanjutnya akan diolah untuk farmasi baik diminum ataupun untuk injeksi.
Baca juga: BATAN beberkan alasan dipilih jadi pusat kolaborasi NDI
Baca juga: BATAN perbaiki kualitas varietas lokal perkuat kepemilikan lokal


Menurut Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN Totti Tjiptosumirat produk baru radiofarmaka, termasuk Iodium 131 akan tergantung dari reaktor nuklir yang dimiliki oleh BATAN.

"Baru ada hasil inspeksi Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) untuk pemanfaatan reaktor secara keseluruhan karena reaktornya sudah dimodifikasi. Hasil modifikasinya harus masuk dalam audit dan inspeksi dari Bapeten. Kalau bisa dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan-kebutuhan salah satunya untuk kebutuhan itu (Iodium 131)," ujar Totti.

Sebelumnya, BATAN dan Kimia Farma juga sudah bekerja sama untuk lima produk radiofarmaka yang sudah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan hingga akhirnya mendapatkan persetujuan registrasi Nomor Izin Edar.

Lima produk itu adalah Kit MIBI untuk mendiagnosisi fungsi jantung, Kit MDP untuk diagnosis penyebaran kanker di dalam tulang, DTPA untuk diagnosis fungsi ginjal, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP atau samarium yang digunakan untuk terapi paliatif atau mengurangi rasa nyeri kepada penderita kanker, dan yang terakhir adalah Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG, digunakan untuk mendiagnosis kanker neuroblastoma atau sistem saraf pada anak-anak.
Baca juga: Teknologi nuklir uji tak rusak diperkenalkan BATAN
Baca juga: BATAN:Agro techno park sumbang teknologi bagi kesejahteraan masyarakat

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

China isi bahan bakar di unit nuklirnya dengan reaktor buatan dalam negeri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar