Tiga desa di Kecamatan Tambelan terendam banjir bah

Tiga desa di Kecamatan Tambelan terendam banjir bah

Situasi warga menghadapi banjir bah di tiga desa di Kecamatan Tambelan, Bintan, Kepri. Banjir setinggi satu meter terjadi setelah air sungai meluap akibat hujan dan air pasang laut. (Foto. Istimewa)

Bintan (ANTARA) (ANTARA) - Tiga desa di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri dilanda banjir bah dengan ketinggian sekitar satu meter pada pukul 09.45 WIB, Kamis (5/12).

"Tiga desa tersebut, yaitu Desa Batu Lepuk, Desa Kampung Melayu dan Desa Kampung Hilir," kata Kapolsek Tambelan, Ipda Missyamsu Alson, Kamis.

Menurut Alson, banjir bah di Desa Kampung Melayu dan Desa Batu Lepuk disebabkan meluapnya air di Sungai Bentayan Desa Batu Lepuk, akibat hujan deras selama dua hari tanpa henti, ditambah pasangnya air laut.

Sementara banjir bah di Desa Kampung Hilir disebabkan meluapnya air di Sungai Simbat, Desa Kampung Hilir. Pun disusul hujan deras selama dua hari terakhir dan pasangnya air laut.

Banjir bah tersebut, kata dia, menyebabkan rumah warga dan kantor pemerintahan di tiga desa itu terendam banjir.

Desa Batu Lepuk, lanjut Alson, sekitar 30 rumah warga terkena banjir tepatnya di RT 001 dan RT 002, termasuk Kantor KUA Tambelan.

Desa Kampung Melayu, sekitar tujuh rumah terkena banjir, yang berlokasi di RT 03 dan RT 02

Sementara, di Desa Kampung Hilir, sekitar lima rumah warga juga terkena banjir, yang berlokasi di RT 06 ditambah SD Negeri 005 Tambelan.

"Polisi membantu mengevakuasi anak sekolah SD Negeri 001 dan 003 di Desa Batu Lepuk karena akses jalan tertutup air. Kemudian membantu warga mengamankan barang-barang berharga," ujar Alson.

Dikatakannya, sekitar pukul 12.00 WIB air banjir berangsur surut karena hujan mulai reda dan air laut mulai surut. Selanjutnya masyarakat yang terkena banjir mulai membersihkan rumahnya.

Alson juga memastikan tak ada korban
jiwa dalam banjir bah tersebut. Sementara untuk kerugian materil belum bisa dipastikan, sebab warga masih fokus membersihkan rumah masing-masing dari sampah dan lumpur tanah akibat banjir.

Pewarta: Ogen
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar