Kembangkan energi baru dan terbarukan, pemerintah gandeng Denmark

Kembangkan energi baru dan terbarukan, pemerintah gandeng Denmark

Sebanyak 1.200 Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU - TS) yang dibangun oleh Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) terpasang di Jawa Timur (Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro). ANTARA/Afut syafril.

Tantangan kita adalah memanfaatkan potensi EBT dalam outlook dan mereduksi ketergantungan energi fosil
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjalin kemitraan strategis dengan Pemerintah Denmark dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT).

Kerja sama ini ditandai dengan pemberian rekomendasi Denmark kepada Indonesia dalam bentuk Regional Energy Outlook di empat provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Riau.

"Denmark telah memberikan dukungan terhadap pengembangan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) untuk empat provinsi," kata Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam informasi tertulis yang diterima Antara di Banyuwangi, Jumat.

Arifin mengungkapkan Pemerintah Denmark membantu menganalisa skenario yang paling cocok untuk 4 wilayah tadi terkait sistem tenaga listrik yang terjangkau, tangguh dan ramah lingkungan, serta bagaimana energi alternatif khususnya peran EBT dalam menggantikan energi fosil.

"Tantangan kita adalah memanfaatkan potensi EBT dalam outlook dan mereduksi ketergantungan energi fosil," tegas Arifin.

Baca juga: Luhut: energi hijau bantu perbaiki neraca transaksi berjalan

Kemitraan ini disambut hangat oleh Menteri Kerja Sama Pembangunan Denmark Rasmus Prehn. Rekomendasi yang diberikan oleh Denmark diharapkan dapat menciptakan iklim industri EBT yang lebih murah dan efisien. "Selain bisa meningkatkan pemanfaatan EBT, rekomendasi ini mampu mewujudkan harga EBT yang lebih murah dan efisien dari teknologi yang diterapkan," ujar Rasmus.

Secara rinci, rekomendasi outlook RUED yang diberikan oleh Denmark, pertama Outlook Sulawesi Utara dan Gorontalo. Sulawesi Utara memiliki potensi pengembangan EBT, khususnya hidro, sedangkan Gorontalo berpotensi besar untuk mengembangkan solar. Apabila kedua provinsi ini berhasil mengembangkan energi hidro, energi surya dan menggunakan gas alam untuk menggantikan batubara, maka kedua provinsi ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar kurang lebih 50 persen pada tahun 2030.

Baca juga: Pengembangan energi terbarukan perlukan sinergi lintas kementerian

Kedua, Outlook Kalimantan Selatan. Provinsi ini masih didominasi oleh penggunaan batubara, namun energi angin, energi surya dan gas alam combined cycles dapat dijadikan alternatif energi yang murah untuk menggantikan batubara. Apabila pada tahun 2030 provinsi ini berhasil mengembangkan EBT hingga 34 persen untuk pasokan listrik, maka emisi gas rumah kaca dapat berkurang hingga 48 persen pada tahun 2030.

Ketiga, Outlook Riau dan Sumatera secara keseluruhan memiliki potensi EBT, khususnya energi angin dan energi surya melampaui peran EBT yang digambarkan pada RUPTL 2019-2028. Energi surya dan biogas dianggap kompetitif apabila mendapatkan skema pembiayaan yang baik. Apabila bauran EBT dapat mencapai 2/3 pasokan listrik Riau pada tahun 2030 sesuai RUPTL, maka akan terjadi penghematan pembiayaan infrastruktur listrik sebesar 13 miliar rupiah.

Baca juga: Produksi listrik PLTB Sidrap terus meningkat, April-Oktober tertinggi
Baca juga: PLN kembangkan kapasitas pembangkit EBT di NTT capai 22,72 MW

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tekan nilai impor LPG, DPR dorong RUU EBT

Komentar