Empat mitos melahirkan sesar yang harus diketahui

Empat mitos melahirkan sesar yang harus diketahui

Ilustrasi seorang ibu setelah melahirkan melalui proses sesar (ANTARA News/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Ada anggapan bahwa perempuan yang melahirkan dengan proses sesar bukanlah ibu yang sempurna, hal ini kemudian membuat para calon ibu ragu untuk menjalani operasi. Faktanya, anggap tersebut hanyalah sebuah mitos.

Pada kondisi tertentu seperti letak bayi sungsang, bayi terlalu besar, kembar lebih dari dua dan plasenta yang ada di bawah (plasenta previa), melahirkan secara sesar merupakan jalan terbaik untuk ibu dan anak.

Sebelum berpikir macam-macam tentang melahirkan sesar, berikut ini ada empat mitos dan fakta yang harus Anda ketahui mengenai operasi sesar seperti yang dijabarkan oleh dr. Merry Dame Cristy Pane dari tim dokter ALODOKTER melalui keterangan yang diterima ANTARA, Jumat.

1. Operasi sesar menunda proses menyusui
Anggapan ini tentunya kurang tepat, karena saat melahirkan dengan operasi sesar, ada pilihan metode pembiusan yang akan dilakukan. Jika dilakukan bius total, mungkin pemberian ASI baru bisa dilakukan saat ibu sadar penuh.

Sebagian besar operasi sesar biasanya menggunakan bius sebagian atau epidural yang hanya membuat area pinggang ke bawah mati rasa. Bius epidural akan membuat bayi yang dilahirkan melalui operasi sesar boleh langsung ditaruh di dada ibu, untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) layaknya melahirkan normal.

IMD yang dilakukan pada operasi sesar memang sedikit berbeda dengan melahirkan normal. Pada persalinan normal, bayi akan diletakkan di perut ibu. Sedangkan pada operasi sesar, bayi akan diletakkan di dada.

2. Gagal jadi ibu karena tidak merasakan sakit
Mitos ini tentu tidak benar, karena baik melahirkan normal atau sesar sama-sama merasakan sakit. Bedanya, sakit melahirkan normal terjadi saat proses persalinan, sedangkan sakit melahirkan sesar dirasakan setelah proses persalinan atau setelah efek bius hilang.

Ibu yang melahirkan normal dan sesar tetap mengalami nifas dan memiliki risiko baby blues syndrome, depresi pascamelahirkan dan infeksi.

3. Sekali sesar, selamanya sesar
Anggapan ini tidaklah benar, jika tidak ada masalah kesehatan baik pada ibu maupun janin, Anda tetap masih bisa melahirkan normal setelah operasi sesar.

Namun, memang ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, seperti jarak kehamilan, alasan dilakukan operasi sesar sebelumnya, kondisi janin dan ibu, serta riwayat kesehatan ibu.

4. Bayi yang lahir sesar rentan sakit
Keyakinan ini tak sepenuhnya salah. Bayi yang lahir secara sesar memang lebih berisiko mengalami gangguan pernapasan, terlebih jika proses persalinannya dilakukan sebelum usia kehamilan 39 minggu.

Hal ini karena proses pematangan paru dan proses persalinan normal bisa membantu bayi mengeluarkan cairan dari paru-parunya.
Namun, kesehatan bayi tidak sepenuhnya bergantung pada pilihan proses persalinan yang dilakukan, karena ada banyak faktor lain yang juga memengaruhi, mulai dari proses menyusui, imunisasi, hingga gaya dan pola hidup sehat yang dijalani bayi ke depannya.

Baik melahirkan normal maupun sesar, sama-sama memiliki keuntungan dan kerugian. Jika Anda masih ragu dan bingung, berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan proses persalinan yang terbaik.


Baca juga: Delapan cara turunkan berat badan setelah operasi sesar

Baca juga: Mendadak sesar demi tanggal cantik

Baca juga: Operasi sesar tingkatkan risiko obesitas pada anak

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar