SEA Games 2019

Evaluasi tim Hearthstone usai gagal penuhi ekspektasi emas SEA Games

Evaluasi tim Hearthstone usai gagal penuhi ekspektasi emas SEA Games

Tim Esports Indonesia Mobile Legends untuk SEA Games 2019 berfoto bersama pelatih, manajer, dan analis seusai bertanding di San Juan Arena, Metro Manila, Filipina, Jumat (6/12/2019). (ANTARA/HO/IESPA)

Jakarta (ANTARA) - Tim nasional esports nomor Hearthstone melakukan evaluasi mereka seusai gagal memenuhi ekspektasi publik untuk menyumbangkan medali emas SEA Games 2019 Filipina.

Berlaga di San Juan Arena, Manila pada Kamis (5/12) hingga Jumat (6/12), Indonesia yang mengirimkan dua wakilnya, yakni Rama Ariangga Akbar dan Hendry Koentarto harus rela menggantungkan asa mereka meraih medali emas dari nomor Hearthstone.

Baca juga: Timnas esports Indonesia waspadai Vietnam di SEA Games 2019

Akbar yang tergabung dalam Grup A berhasil menang dengan skor 2-0 atas Singapura dan 2-1 atas Filipina. Namun, ia harus takluk oleh perwakilan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Hasil tersebut memaksa perjalanannya di SEA Games 2019 harus berakhir lebih cepat.

Berbeda dengan Akbar, perwakilan Indonesia lainnya, yakni Hendry yang menghuni Grup B sukses menjadi juara di grup stage seusai mengalahkan Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Namun, ia dibuat bertekuk lutut 1-3 atas Thailand, sehingga harus turun ke lower bracket. Kemudian, perjalanannya pun resmi terhenti usai takluk 2-3 saat menghadapi perwakilan Vietnam.

Pelatih timnas Hearthstone Indonesia Reza Servia pun angkat bicara soal kegagalan itu. Ia mengungkapkan meski strategi yang digunakan oleh tim Indonesia merupakan strategi terbaik dibandingkan lawan-lawannya, mereka masih belum cukup beruntung.

Baca juga: Indonesia hadapi tim kuat pada dua nomor esports SEA Games 2019

"Strategi Highlander Hunter Akbar lebih menguntungkan dibandingkan strategi Combo Priest lawan, tetapi dikalahkan dua kali karena undian. Ini adalah target pertama yang terlewatkan, Akbar tidak maju ke playoff stage," kata Reza dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu (7/12).

"Selama 'playoff', Hendry menghadapi Disdai dari Thailand. Hendry telah menghadapi Disdai beberapa kali termasuk di Asian Games 2018, dia selalu menang. Strategi kami, di atas kertas, cukup adil tetapi kami menyusun strategi urutan permainan kami untuk melemahkan Holy Wrath Paladin. Sayangnya pada detik-detik terakhir, Hendry 'kosong' selama dua detik dan membuat kesalahan krusial hingga kehilangan permainan. Skor akhir adalah 1-3," papar Reza.

Selain itu, Reza juga mempermasalahkan peraturan waktu pertandingan dan waktu jeda yang menurutnya sangat tidak sesuai untuk sebuah turnamen level internasional.

Baca juga: Tim Indonesia Mobile Legends melaju mulus ke grandfinal SEA Games 2019

"Di babak penyisihan grup, pelatih diizinkan untuk berbicara dengan pemain di sela pertandingan. Tiba-tiba pada babak playoff, aturan ini diubah, artinya kami harus bermain empat kali selama 30 menit tanpa istirahat. Ini belum pernah terjadi sebelumnya di Hearthstone, semua turnamen internasional pasti ada jeda antarpertandingan," tuturnya.

“Kegagalan untuk mencapai target kami di Hearthstone disebabkan oleh beberapa hal. Ini bukan karena gagal dalam strategi, tapi lebih kepada kinerja yang masih kurang. Kami mohon maaf atas kegagalan kami,” katanya.

Sebelumnya, timnas esports Indonesia ditargetkan bisa merebut medali emas dari tiga nomor pertandingan, yakni Hearthstone, Mobile Legends, dan Arena of Valor (AOV).

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PB Esports resmi dibentuk

Komentar