Arab Saudi terobos lagi aturan sosial, tak perlu pintu masuk terpisah

Arab Saudi terobos lagi aturan sosial, tak perlu pintu masuk terpisah

Seorang perempuan Arab Saudi bekerja di layanan call center perempuan pertama di sektor keamanan kerajaan, di kota suci Makkah, Arab Saudi, Selasa (29/8/2017). ANTARA/REUTERS/Suhaib Salem/aa.

Riyadh (ANTARA) - Restoran di Arab Saudi kini tidak perlu lagi memisahkan pintu masuk berdasarkan gender, menurut otoritas pada Minggu, langkah yang semakin menggerus aturan sosial paling ketat di dunia saat terjadi reformasi besar-besaran.

Sebelumnya Arab Saudi mengharuskan seluruh restoran memilik satu pintu masuk untuk keluarga dan kaum hawa dan satu lagi untuk pria. Kementerian Urusan Kota dan Perdesaan mengumumkan di Twitter bahwa aturan ini tidak lagi diwajibkan.

Pria dan perempuan yang tak memiliki ikatan dilarang berbaur di tempat umum berdasarkan aturan sosial yang pernah diterapkan oleh ulama garis keras dan polisi agama.

Namun Putra Mahkota Mohammed bin Salman membuat pondasi agama menjadi lemah - sebagian dengan penangkapan kritikus - dan melonggarkan pembatasan lainnya, termasuk menghapus larangan perempuan mengemudikan mobil dan hiburan masyarakat.
Baca juga: Arab Saudi tanggalkan aturan pembatasan wanita pergi ke luar negeri
Pemisahan secara diam-diam menurun selama setahun terakhir sebab tempat makan, cafe, pusat konferensi dan aula konser tak lagi memberlakukannya secara ketat.

Juru bicara kementerian yang dihubungi Reuters tidak menentukan apakah pemisahan tempat duduk di dalam restoran juga bakal dihapus. Aturan yang baru tidak wajib, itu artinya restoran masih dapat memberlakukan pemisahan pintu masuk jika pemilik memilih melakukannya, katanya.

Tidak ada pengumuman perubahan terhadap fasilitas masyarakat lainnya seperti sekolah dan rumah sakit, yang tampaknya akan tetap terpisah untuk saat ini.
Baca juga: Sebagian pria Saudi masih gamang soal izin mengemudi bagi perempuan
Arab Saudi, salah satu negara dengan pemisahan gender paling ketat, juga telah menggunakan sistem perwalian yang mengharuskan semua perempuan mengantongi persetujuan kerabat laki-laki untuk keputusan penting, kendati beberapa batasan utama tetap terjaga.

Putra mahkota berusia 34 tahun itu merupakan pewaris takhta Saudi sekaligus penguasa de fakto. Apabila dan ketika ia menggantikan sang ayah, Raja Salman, ia akan menjadi raja Saudi pertama dari generasi baru setelah suksesi enam saudara yang telah berkuasa sejak 1953.

Sumber: Reuters
Baca juga: Arab Saudi perbolehkan perempuan dan pria asing dalam satu kamar hotel
 Baca juga: Sebagian pria Saudi masih gamang soal izin mengemudi bagi perempuan
​​​​​​​
Baca juga: Lepas dari tradisi, perempuan Saudi rancang abaya warna-warni

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menag: Indonesia sudah lama satukan identitas keagamaan & kebangsaan

Komentar