Ekosistem ramah tingkatkan jumlah peneliti diaspora, kata Kepala LIPI

Ekosistem ramah tingkatkan jumlah peneliti diaspora, kata Kepala LIPI

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko (ketiga kiri) dan peneliti diaspora Osi Arutanti (ketiga kanan) dalam diskusi di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2019) (FOTO ANTARA/Prisca Triferna)

Kenapa LIPI bisa menarik mereka? Karena LIPI kita buat lebih ramah. Jadi kita tidak "ribet", kalau "ribet" 'kan repot, orang-orang tidak mau datang
Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko menyatakan ekosistem riset yang ramah akan meningkatkan jumlah diaspora peneliti Indonesia yang kembali dan berkarya di Tanah Air.

"Kenapa LIPI bisa menarik mereka? Karena LIPI kita buat lebih ramah. Jadi kita tidak ribet, kalau ribet kan repot, orang-orang tidak mau datang. Sama seperti investasi, mendatangkan investasi dari luar harus dibikin ramah investasi di negara ini," katanya ketika ditemui dalam diskusi soal penciptaan ekosistem riset untuk diaspora peneliti yang diselenggarakan di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Senin.

Sebelumnya, LIPI sudah mulai melakukan perekrutan peneliti dan ilmuwan diaspora Indonesia yang bekerja di luar negeri untuk kembali dan berkarya di Indonesia sejak 2018 lewat mekanisme penerimaan CPNS.

Ia menjelaskan total sebanyak 27 diaspora peneliti menyambut hal tersebut dan hal itu terjadi karena ekosistem riset yang memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan aktualisasi diri sebagai bagian dari pembentukan ekosistem riset yang baik.

Tuntutan yang diberikan kepada mereka tidaklah harus melakukan inovasi yang luar biasa tapi sesuai dengan ranah yang menjadi bidang keahlian para peneliti tersebut.

Osi Arutanti, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI yang masuk pada 2018 dan mantan diaspora peneliti yang menetap di Jepang, juga menyatakan ekosistem riset di LIPI sudah jauh membaik untuk penelitian.

"Orang-orangnya amat sangat mendukung saya. Walaupun CPNS saya diberikan kebebasan untuk tetap menjalin networking (jejaring) dengan kolega di luar," katanya.

Meski demikian masih ada beberapa hal yang menurut Osi perlu dilakukan perbaikan seperti birokrasi rumit yang terkadang terjadi terkait kolaborasi dengan pihak luar, baik antarnegara maupun antarlembaga di dalam negeri.

Menurut data LIPI, saat ini Indonesia hanya memiliki 301.885 sumber daya manusia iptek yang terdiri dari dosen, peneliti dan perekayasa dengan 1.280 peneliti di antaranya telah menempuh pendidikan S3.

Baca juga: LIPI fokus cari SDM unggul diaspora peneliti Indonesia

Baca juga: Ekosistem riset disiapkan LIPI jadi wadah diaspora peneliti Indonesia

Baca juga: Peneliti LIPI cari pengalaman dari peraih Nobel

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

LIPI rintis ekosistem riset untuk diaspora peneliti Indonesia

Komentar