Paramadina gandeng lembaga riset Taiwan kembangkan inovasi teknologi

Paramadina gandeng lembaga riset Taiwan kembangkan inovasi teknologi

Managing Director PPPI Dr Ahmad Khoirul Umam (kiri) dan Deputy General Director ITRI Dr Jack Chang (kanan) usai menandatangani kerja sama (MoU) inovasi teknologi di sela-sela Taiwan Indonesia Industrial Cooperation Forum (TIICF 2019 di Taipei, Senin (9/12) (ANTARA/HO-PPPI)

Jakarta (ANTARA) - Paramadina Public Policy Institute (PPPI) Universitas Paramadina Jakarta menggandeng
Industrial Technology Research Institute (ITRI), lembaga riset asal Taiwan untuk mengembangkan inovasi teknologi, khususnya pengembangan perusahaan rintisan (start up).

"Kesepakatan kerja sama (MoU) antara ITRI dan PPPI ditandatangani di Taipei, Senin (9/12) di sela-sela acara 'Taiwan-Indonesia Industrial Cooperation Forum' (TIICF) 2019," kata Managing Director PPPI Dr Ahmad Khoirul Umam dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa pagi.

Beberapa poin kesepakatannya di antaranya kerja sama bidang inovasi teknologi, inovasi model kerja sama dan inovasi pengembangan perusahaan rintisan.

"Sebagai think thank yang berfokus pada kebijakan publik di bidang pendidikan dan investasi, kami melihat perlunya kerja sama ini untuk menciptakan kebijakan publik untuk mendukung inovasi teknologi di Indonesia," katanya.

Ia juga berharap kerja sama ini dapat menjadi jembatan bagi kedua negara untuk meningkatkan kerja sama produktif ke depan. Apalagi saat ini Taiwan telah memiliki kebijakan strategis untuk meningkatkan kerja sama dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sebagai negara dengan kekuatan ekonomi (GDP) terbesar di kawasan.

"Karena itu, kami mengajak agar 'business to business and people to people engagements' harus terus ditingkatkan, untuk mewujudkan kesejahteraan di kawasan dan memberikan kesempatan untuk semua," ujar Ahmad.

Baca juga: Pemprov DKI-Universitas Paramadina kerja sama pendidikan

Deputy General Director ITRI DrJack Chang menegaskan pihaknya berharap perusahaan-perusahaan dari Indonesia dapat menemukan teknologi yang tepat dari ITRI.

Selain itu, bersama-sama dapat mengembangkan layanan dan teknologi yang disesuaikan (customized).

Indonesia, menurut Jack Chang, merupakan pasar yang potensial dalam teknologi mengingat negara ini merupakan salah satu negara terbesar di Asia dan hal itu dapat diimplementasikan, baik dalam bentuk kerja sama dengan sejumlah universitas ataupun maupun kerja sama antara perusahaan.

"Banyak perusahaan Taiwan yang ingin bekerjasama, tapi tidak tahu siapa mitra potensialnya. Sebagai lembaga think thank, kami akan menjembataninya," kata Chang.

ITRI adalah organisasi penelitian dan pengembangan (litbang) nirlaba yang terlibat dalam penelitian terapan dan layanan teknis. Sejak didirikan pada 1973, ITRI telah memainkan peran penting dalam mentransformasikan ekonomi Taiwan dari industri padat karya menjadi industri berteknologi tinggi berbasis inovasi teknologi.

Baca juga: Mahfud MD mendapat penghargaan Universitas Paramadina

ITRI telah menginkubasi lebih dari 280 perusahaan inovatif, termasuk nama-nama perusahaan berbasis teknologi terkenal di Taiwan, seperti United Microelectronics Corporation (UMC) dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).

Saat ini ITRI antara lain menaungi laboratorium riset di bidang lingkungan dan energi hijau, penelitian komunikasi dan informasi dan teknologi biomedikal.

Selain kantor pusat di Hsinchu, Taiwan, ITRI memiliki kantor cabang di AS, di Sillicon Valey (Amerika), Jepang, Berlin, Moskwa dan Belanda. Saat ini ITRI juga telah bekerjasama dengan universitas terkemuka lainnya di dunia, seperti Stanford University.

Partner teknologi
Sementara itu, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian Janu Suryanto memaparkan Indonesia membutuhkan pengembangan teknologi dan pengetahuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Hingga kuartal ketiga 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bertengger di lima persen.

Baca juga: Banyak peluang, Taiwan-RI bakal tingkatkan kerja sama ekonomi

Beberapa hasil studi riset menyebutkan industri di Indonesia, khususnya elektronik, memiliki 10 masalah, antara lain keterbatasan pendanaan domestik dan teknologi.

Selain itu juga minimnya sumber daya manusia yang terlatih, serta tidak adanya pusat inovasi. Karena itu, kita perlu partner teknologi," kata Janu.

Ia menyebutkan, angka impor elektronik Indonesia 12 miliar dolar AS pada 2018. Untuk itu, pemerintah tengah menggalakkan investasi asing dengan mengundang investor berbasis teknologi.

Salah satunya Taiwan, menurut Janu, sangat maju dalam bidang teknologi.

Pewarta: Edy Sujatmiko
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BP-Jamsostek lacak kepesertaan TKI Magetan

Komentar