Hasil penelitian pupuk cair Bio-Inokulum dari Bali lolos Insinas 2020

Hasil penelitian pupuk cair Bio-Inokulum dari Bali lolos Insinas 2020

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) TPHbun I Wayan Sunada saat memaparkan proposal penelitian pupuk organik cair Bio-Inokulum. ANTARA/Istimewa/pri.

Denpasar (ANTARA) - Hasil penelitian mengenai pupuk organik cair Bio-Inokulum yang disusun Tim UPTD Pertanian Terpadu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHBun) Provinsi Bali lolos dalam tahap seleksi nasional program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (Insinas) yang akan mendapatkan pendanaan pada 2020.

"Sebelumnya kami telah mengajukan proposal Insinas Riset Kemitraan dengan fokus bidang riset pangan pertanian. Sedangkan judul yang diangkat dalam pengajuan proposal ini adalah Intensifikasi Lahan Sub Optimal Melalui Pengembangan Pupuk Organik Cair Bio-Inokulum Plus dalam Meningkatkan Produksi Tanaman Lokal Berkualitas Ekspor di Bali dan Nusa Tenggara Timur," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian Terpadu TPHbun I Wayan Sunada, di Denpasar, Selasa.

Tim pengusul dari pengajuan proposal ini ada enam orang antara lain, I Wayan Sunada sebagai ketua peneliti, dan anggota peneliti yang terdiri dari Eko H Agustin Juwaningsih, Lena Walunguru, I Made Buda, I Made Londra, dan Chatlynbi T Br Pandjaitan.

Dari usulan yang sudah diajukan dan telah melewati seleksi administrasi Program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional, melalui Surat undangan Kemenristedikti Nomor: B/464/E4.4/KT.04.00/2019.

Sebagai ketua tim peneliti, Wayan Sunada berkesempatan untuk memaparkan proposal penelitian di Banten pada 9 Desember 2019 dengan agenda Paparan Proposal Insinas 2020.

"Dari seluruh Indonesia yang mengajukan proposal Insinas 2020 sebanyak 68 peserta yang akan bersaing untuk mendapatkan bantuan insentif penelitian senilai Rp1,65 miliar," ujarnya.

Menurut Sunada, kegiatan penelitian ini berawal dari keadaan wilayah Bali dan di NTT yang mempunyai kesamaan kondisi lahan kering dan melihat fakta di lapangan dimana masyarakat yang berprofesi sebagai petani yang kurang menyadari pentingnya pengelolaan yang baik.

"Oleh karena itu, perlu mengubah pola pikir untuk pengelolaan lahan dengan penggunaan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Pupuk organik yang baik adalah pupuk yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, serta tersertifikasi berdasarkan standar mutu pupuk," ujar Sunada.

Sedangkan tujuan Riset Pratama Kemitraan ini untuk mengoptimalkan pengelolaan lahan lahan kering di Bali dan NTT dengan cara meningkatkan kesuburan tanah.

Baca juga: Petani Rejang Lebong kembangkan pupuk organik cair

Baca juga: Pemkab Bangka Tengah bertekad jadi kabupaten organik 2021

Baca juga: Aa Gym luncurkan pupuk organik


Peningkatan kesuburan tanah tersebut, lanjut dia, ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman organik lokal khususnya padi hitam dan bawang merah yang mempunyai nama sebagai varietas unggul nasional spesifik dan berkualitas ekspor. Penelitian juga ditujukan untuk memproduksi benih berlabel dan bersertifikasi organik melalui aplikasi POC Bio-Inokulum Plus.

"Setelah melalui banyak tahapan, akhirnya saya mendapatkan undangan untuk memaparkan proposal yang diajukan sebagai riset pengembangan teknologi yang rencananya akan dikembangkan untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara Timur," ujar Sunada.

Sistem Inovasi Nasional (SINas) merupakan suatu kesatuan fungsional yang saling berinteraksi dan bertujuan untuk mengembangkan inovasi nasional, meningkatkan kemampuan iptek, serta meningkatkan daya saing. Penguatan SINas telah menjadi kebijakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi dan perlu didukung secara konsisten oleh Kemenristek-BRIN dan para pemangku kepentingan.

Kemenristek-BRIN memberikan dukungan untuk penguatan SINas melalui instrumen kebijakan pendanaan riset seperti Program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (Insinas), Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI pada Direktorat Pengembangan Teknologi Industri.

Insinas merupakan bantuan pendanaan riset yang diselenggarakan dengan misi utama untuk penguatan Sistem Inovasi Nasional melalui peningkatan sinergi, peningkatan produktivitas, dan pendayagunaan sumberdaya litbang nasional.

Sebagai salah satu instrumen kebijakan di Kemenristek-BRIN, Program Insinas didedikasikan untuk mendorong dan menyiapkan riset yang menghasilkan produk inovasi atau produk riset yang dapat dikembangkan lebih lanjut di industri melalui program PPTI.

Program Insinas menyiapkan materi pokok hasil riset yang dapat dikembangkan dalam skema-skema pendanaan riset berikutnya yang lebih bersifat pengembangan produk menuju implementasi hasil penelitian dengan mendasarkan pada pengukuran proses pengembangan teknologi menggunakan alat ukur Tingkat Kesiapterapan Teknologi.*

Baca juga: Padi sehat lahan rawa hasilkan produktivitas 8 ton

Baca juga: Pupuk kompos produksi TPS 3R segera uji mutu

Baca juga: Petani diminta gunakan pupuk organik untuk cegah kerusakan tanah

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar