BNN sinyalir 90 persen anak pengguna narkotika dari kalangan OAP

BNN sinyalir 90 persen anak pengguna narkotika dari kalangan OAP

Kepala BNN Papua Brigjen Pol Jackson Lapalongan didampingi sejumlah staf saat memberikan keterangan pers di Jayapura, Selasa (10/12). (ANTARA/Evarukdijati)

Jayapura (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) Papua mensinyalir 90 persen anak pengguna narkotika berasal dari kalangan orang asli Papua (OAP).

Kepala BNN Papua Brigjen Pol Jackson Lapalongan dalam keterangan persnya di Jayapura, Selasa mengakui, tingginya anak dari kalangan OAP yang menjadi pengguna narkoba harus menjadi perhatian dan tanggung jawab semua pihak.

Baca juga: Presiden ingin pelajar di Papua jauhi narkoba

Baca juga: Ratusan siswa baru SMAN 1 Manokwari jalani tes narkoba

Baca juga: BNN: Ketahanan remaja Papua Barat terhadap peredaran narkoba rendah


Apalagi anak-anak yang menjadi pengisap lem seperti Aibon juga berasal dari OAP.

“Butuh kerja sama dengan semua untuk menangani hal itu mengingat dampaknya yang sangat merugikan bagi masa depan mereka,” kata Jackson yang didampingi sejumlah pejabat di lingkungan BNN Papua.

Dikatakan, terungkap banyaknya anak AOP yang mengonsumsi narkoba itu setelah BNN Papua melakukan sampling terhadap 1.829 pelajar yang mengkonsumsi narkoba.

Anak-anak yang menjadi pengguna narkoba itu pada umumnya mengkonsumsi jenis ganja yang dapat dengan mudah ditemukan dan diperoleh dan hanganya juga relatif murah.

Memang ini sangat ironis sehingga pihaknya sangat berharap agar hal itu dapat ditangani secara serius, harap Lapalonga.

Kepala BNN Papua mengakui, selama 2019 tercatat 18 orang ditangkap dan dijadikan tersangka terkait kepemilikan narkotika baik jenis ganja maupun sabu.

Tercatat 19 kg ganja berhasil diamankan baik oleh BNN Papua maupun BNN Mimika dan sabu sebanyak 700 gram.

Dengan banyaknya ganja yang diamankan menyebabkan pihaknya memprediksi sekitar 1 kg ganja setiap bulan beredar di Papua, tambah Jackson Lapalonga.

Pewarta: Evarukdijati
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar