Jakarta diprediksi bebas genangan dengan 1,8 juta sumur resapan

Jakarta diprediksi bebas genangan dengan 1,8 juta sumur resapan

Petugas Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Pusat menyiapkan galian untuk pembuatan sumur resapan di Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, Selasa (22/10/2019). (ANTARA/Livia Kristianti)

Jika target jumlah sumur resapan itu terbangun, kajian kami, Jakarta bakal bebas banjir
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta optimistis Jakarta akan bebas genangan jika target pembangunan 1,8 juta sumur resapan dapat direalisasi.

"Jika target jumlah sumur resapan itu terbangun, kajian kami, Jakarta bakal bebas banjir," kata Plt Dinas Perindustrian dan Ekonomi (PE) Ricki Marajohan Mulia, di Balai Kota Jakarta, Selasa.

Pembangunan sumur resapan tersebut, kata Ricki, dilakukan bersama dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) seperti Dinas PE, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sumber Daya Air dan lainnya. Dinas PE sendiri telah membangun 804 sumur resapan dari target 1.300 titik.

Ricki mencontohkan pembangunan sumur resapan yang terbukti cukup berdampak terhadap penanggulangan genangan atau banjir, seperti sumur resapan di TK Pertiwi, Jalan Swakarya dan Masjid Baiturahman Kompleks DDN, Pondok Labu, Jakarta Selatan, yang biasanya genangan bisa selama 24 jam bahkan dua hari.

Baca juga: Kembangan buat 43 sumur resapan untuk antisipasi banjir

"Sekarang genangan air di situ hanya sampai 15 menit hingga dua jam saja," ujarnya.

Kepala Seksi Pemeliharaan Dinas SDA DKI Juniarto Ardiansyah mengatakan lembaganya telah membangun 990 dari target 1.000 sumur resapan tahun ini dan di lokasi yang telah dibangun sumur resapan itu telah terbukti mampu mempercepat surutnya genangan air.

"Dulu genangan bisa bertahan enam jam, sekarang tidak sampai sejam surut di lokasi yang dibangun sumur resapan," ujar Juniarto.

Menurut ahli Hidrogeolog Fatchy Muhammad, sumur resapan selain dapat menjadi solusi untuk mencegah banjir di ibu kota, juga dapat menjadi solusi untuk mengembalikan cadangan air tanah yang terus disedot.

Baca juga: Muka air tanah tinggi jadi kendala pembuatan sumur resapan di Jakbar

"Air tanah yang terus disedot membuat permukaan tanah turun, yang menyebabkan Jakarta banjir," ucap Fatchy.

Ia menuturkan banjir di ibu kota sudah terjadi sejak era pendudukan Belanda tahun 1900-an. Banjir terjadi karena wilayah resapan air di kawasan selatan mulai dari Puncak, Bogor, beralih fungsi dari hutan menjadi perkebunan teh sehingga tangkapan air tanah berkurang dan permukaan tanah di ibu kota juga terkena dampak penurunan.

"Itu yang menyebabkan Jakarta mulai banjir," kata Fatchy.

Berdasarkan catatannya, Jakarta sempat bebas banjir saat era Kerajaan Padjajaran pada 1.400-an. Sebab, saat itu hutan masih terjaga dan jumlah penduduknya masih sedikit.

Baca juga: Sudin SDA Jaksel kebut pembuatan 174 sumur resapan untuk cegah banjir

Adapun saat masa itu, air hujan mampu meresap hingga 73-97 persen dan yang terbuang 27-3 persen. Sekarang setelah kemerdekaan karena wilayah resapan khususnya di Puncak dibabat menjadi hunian, kondisi berbalik.

Saat ini, air hujan hanya bisa terserap antara 3-27 persen, sedangkan 73-97 persen terbuang. Padahal konsep utama yang harus dibangun DKI untuk mencegah banjir, adalah memaksimalkan resapan air.

"Bukan secepatnya air dibuang. Itu bukan solusi," kata Fatchy menambahkan.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kekeringan, warga Lebak manfaatkan sumur resapan di sungai yang mengering

Komentar