Waktu kedatangan kereta di Jepang hanya satu menit

Waktu kedatangan kereta di Jepang hanya satu menit

Director International Relations Department Corporate Planning Headquarters Tokyo Metro Co.Ltd Naoto Kimura menjelaskan terkait pengoperasian Tokyo Metro di Tokyo Metro Comprehensive Learning and Training Center, Tokyo, Rabu. (ANTARA/ Juwita Trisna Rahayu)

Saat ini, Tokyo Metro mengangkut rata-rata 7,58 juta penumpang per hari dengan mengoperasikan 2.719 kereta yang menghubungkan 179 stasiun.
Tokyo (ANTARA) - Salah satu jalur kereta di Ibu Kota Jepang, Tokyo, yang dioperasikan oleh Tokyo Metro, yakni Marunouchi Line memiliki waktu kedatangan (headway) yang sangat singkat, yakni hanya satu menit 50 detik.

Director International Relations Department Corporate Planning Headquarters Tokyo Metro Co.Ltd Naoto Kimura dalam paparannya di Tokyo Metro Comprehensive Learning and Training Center, Tokyo, Rabu, mengatakan upaya tersebut dilakukan untuk melayani banyaknya penumpang yang harus diangkut, terutama di jam-jam sibuk, seperti jam pergi dan pulang bekerja.

“Saking banyaknya penumpang yang kami angkut jadi headway-nya pendek sekali. Terpendek itu satu menit 50 detik,” kata Kimura.

Headway atau waktu kedatangan merupakan rentang waktu kedatangan antara satu kereta dengan kereta lainnya.

Baca juga: MRT Jakarta berkomitmen seluruh pelanggannya dapat layanan setara

Saat ini, Tokyo Metro mengangkut rata-rata 7,58 juta penumpang per hari dengan mengoperasikan 2.719 kereta yang menghubungkan 179 stasiun.

Total panjang lintasannya, yakni 195,1 kilometer dengan sembilan lintasan, di antaranya Ginza Line sepanjang 14,3 kilometer, Marunouchi Line 27,4 kilometer, Hibiya Line 20,3 kilometer, Tozai Line 30,8 kilometer, Chiyoda Line 24,0 kilometer, Yurakucho Line 38,3 kilometer, Hanzomon Line 16,8 kilometer, Namboku Line 21,3 kilometer dan Fukotoshin Line 11,9 kilometer.

Dengan banyaknya penumpang yang diangkut, Kimura menjelaskan, pendapatan paling besar masih disumbang dari tiket (farebox), yakni 85 persen dan 15 persen lainnya (non-farebox), yakni dari iklan serta penyewaan ruang-ruang komersial di sekitar stasiun.

Kimura menyebutkan penjualan bersih (net sales) sepanjang 2018 oleh Tokyo Metro sendiri, yakni 3,6 miliar dolar AS atau setara dengan Rp50,3 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp14.000 per dolar AS.

Sementara itu, lanjut dia, penjualan bersih berikut dengan grup perusahaan mencapai empat miliar dolar AS atau setara dengan Rp55,9 triliun.

Baca juga: Komnas HAM apresiasi MRT atas pemenuhan hak kelompok rentan

“Kami juga berencana melakukan IPO (penawaran saham perdana ke publik) ke depan,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Pakar dari Japan International Cooperation Agency (JICA) Hideaki Tanaka menyebutkan modal share masyarakat yang menggunakan kereta api mencapai 48 persen, bus tiga persen, sepeda 14 persen, jalan kaki 23 persen dan mobil 12 persen.

“Dibandingkan dengan kota besar lainnya di negara maju di dunia, seperti Seoul, London, New York dan Beijing, Jepang masih menduduki posisi tertinggi dalam penggunaan kereta,” katanya.

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anies resmikan fasilitas integrasi TransJakarta-MRT

Komentar