Pidato SBY fokus sampaikan isu ekonomi dan kesejahteraan rakyat

Pidato SBY fokus sampaikan isu ekonomi dan kesejahteraan rakyat

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato pada Refleksi Pergantian Tahun Partai Demokrat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (11/12/2019). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc/pri.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono fokus menyampaikan pada persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dalam pidato refleksi pergantian tahun bertajuk "Indonesia Tahun 2020, Peluang, Tantangan, dan Harapan" di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu malam.

"Dalam pidato ini, saya akan memfokuskan pada persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Meskipun isu-isu lain juga penting, dalam kesempatan ini kami tidak bermaksud menyampaikannya, misalnya isu tentang politik dan demokrasi, tentang hukum dan keadilan, serta tentang persatuan dan kerukunan bangsa," kata SBY.

SBY menekankan dari semua permasalahan dan tantangan ekonomi saat ini, Demokrat juga hanya ingin berfokus pada lima isu.

Pertama, menyangkut pertumbuhan ekonomi; Kedua, pengangguran dan lapangan kerja; Ketiga, daya beli dan perlindungan sosial untuk rakyat; Keempat, kebijakan fiskal termasuk utang negara; Kelima, rencana pemindahan dan pembangunan ibu kota baru.

Baca juga: Pembangunan infrastruktur di ibu kota baru diminta dipercepat

SBY menekankan isu itu dikemukakan setelah Demokrat mempelajari apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah, termasuk pula apa yang diinginkan oleh Presiden Jokowi.

Di sisi lain, Demokrat juga mempelajari keadaan dan persoalan yang dihadapi rakyat, termasuk perasaan dan harapan-harapan rakyat.

"Semangat Demokrat adalah apa yang telah menjadi kebijakan dan program pemerintah, termasuk APBN tahun 2020, diharapkan bisa dicapai. Sekali lagi kami ingin pemerintah kita sukses," kata SBY.

Demokrat juga mempelajari dinamika dan perkembangan dunia yang akan berpengaruh pada Indonesia, baik yang menyangkut ekonomi, geopolitik, maupun gerakan-gerakan sosial yang tengah marak saat ini.

"Kita tak boleh lupa, Indonesia pernah terkena dampak prahara global pada tahun 1998, dan juga pada tahun 2008. Pada tahun 1998 kita tidak selamat dan terjatuh dalam krisis yang dalam. Pada tahun 2008, alhamdulillah, kita selamat. Kita bisa mengurangi dampak krisis ekonomi global waktu itu," kata SBY menjelaskan.

SBY menekankan bahwa permasalahan dan tantangan yang mengemuka saat ini adalah ekonomi. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus sungguh memberikan perhatian dan berupaya sekuat tenaga untuk mengatasinya.

"Mengapa? Jika ekonomi menurun, apalagi memburuk, rakyatlah yang paling terkena dampaknya, terutama rakyat golongan miskin dan kurang mampu, yang jumlahnya puluhan juta di negeri kita. Sebaliknya, jika ekonomi kita meningkat, taraf hidup rakyat akan meningkat pula," ujar SBY.

Baca juga: SBY: Demokrat ingin pemerintahan Jokowi-Ma'ruf sukses laksanakan tugas

SBY menegaskan bahwa partainya tahu pemerintah telah berupaya sekuat tenaga untuk mengatasi permasalahan ekonomi, termasuk menjaga pertumbuhan, fundamental, dan aspek-aspek ekonomi makro lainnya.

Menurut pengamatan Demokrat, sebagian upaya itu berhasil dengan baik, sebagian belum, atau paling tidak masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Sementara itu, pada tahun 2020 dan tahun-tahun ke depannya, ekonomi global dan kawasan diperkirakan dalam keadaan tidak baik.

"Banyak yang mengatakan bahwa dunia akan mengalami resesi ekonomi. Artinya, pertumbuhan akan melambat atau tumbuh rendah. Keadaan ini akan berdampak negatif dan makin membebani ekonomi Indonesia," katanya.

Oleh karena itu, Indonesia dinilai tidak cukup hanya berjaga-jaga atau hanya siap untuk melakukan antisipasi dan adaptasi semata. Bangsa Indonesia harus sangat serius dalam upaya mengurangi dampak buruk resesi dunia itu terhadap ekonomi bangsa.

"Sangat berbahaya kalau kita lalai dan bersikap business as usual," kata SBY.

Baca juga: SBY tidak tergoda jabatan presiden tiga periode

Baca juga: SBY akan sampaikan pidato refleksi pergantian tahun


SBY menyatakan bahwa Demokrat mengetahui pemerintah telah melakukan sejumlah langkah untuk "mengamankan” ekonomi pada tahun 2020.

Demokrat juga mengikuti postur APBN 2020 dan berbagai kebijakan yang dijalankan.

Demokrat senang dan memberikan apresiasi yang tinggi untuk hal tersebut.

"Demokrat tidak ingin, dan tentu juga rakyat kita, perkiraan Bank Dunia tentang ekonomi kita menjadi kenyataan. Kita ingin pertumbuhan ekonomi kita tidak serendah yang diperkirakan World Bank yang menaruhnya di angka 4,9 persen," kata SBY.

Apabila dalam pidato refleksi pergantian tahun Demokrat menyampaikan hal-hal untuk diwaspadai oleh Pemerintah, menurut SBY, sejatinya tujuan Demokrat sama dengan tujuan pemerintah, yakni ekonomi selamat, bahkan tumbuh baik di kala ekonomi dunia sedang tidak cerah.

"Kami yakin Pemerintah memerlukan mitra yang berkata jujur dan apa adanya serta mitra yang siap membangun sinergi dan kerja sama yang baik. Kerja sama untuk kepentingan rakyat yang sama-sama kita cintai," ucap SBY.

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menjadi wapres SBY atau Jokowi, yang lebih asyik bagi JK

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar