Investree bukukan realisasi pinjaman Rp2,4 triliun

Investree bukukan realisasi pinjaman Rp2,4 triliun

Co-Founder dan CEO Investree Adrian Gunadi dalam Konferensi Investree di Jakarta, Kamis (12/12/2019) (Antara News/Dewa Wiguna)

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan penyedia layanan pinjam meminjam dalam jaringan Investree membukukan realisasi nilai pinjaman sebesar Rp2,4 triliun hingga November 2019 atau lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun 2018 mencapai Rp1,1 triliun

"Kurang lebih setelah menjalani ini lebih dari empat tahun, kami sudah memfasilitasi hampir 6.500 peminjaman," kata Co-Founder dan CEO Investree Adrian Gunadi dalam Konferensi Investree di Jakarta, Kamis.

Secara akumulatif, perusahaan financial technology atau fintech itu sudah membukukan realisasi pinjaman sebesar Rp4,2 triliun sejak didirikan empat tahun lalu.

Baca juga: Kemenristek upayakan produk inovasi masuk katalog pengadaan pemerintah

Adrian mencatat sekitar 70 persen pembiayaan yang diberikan berupa pembiayaan tagihan atau invoice financing, kerja sama dengan subdistributor (15 persen) dan sisanya melalui merchant cash advance.

Menurut dia, segmentasi peminjam yang mengakses layanan pembiayaan tersebut adalah pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dengan tingkat kredit bermasalah diklaim rendah yakni di bawah 0,9 persen.

Hingga saat ini, segmen utama Investree masih UKM dan pembiayaan untuk ritel atau sektor produktif seperti modal kerja dan usaha.

Baca juga: Investree pertemukan peminjam dan pemberi pinjaman secara online

Sedangkan tingkat keberhasilan dalam penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai 90 hari (TKB90) adalah 99,24 persen.

Semakin tinggi angka TKB90, Investree menyebutkan maka semakin baik penyelenggaraan pinjam meminjam.

Sementara itu, komposisi nilai pinjaman, lanjut dia, 30 persen berasal dari institusi seperti lembaga jasa keuangan atau bank sedangkan sisanya adalah investor individu dan badan hukum lainnya.

Tahun 2020, pihaknya optimistis pembiayaan tumbuh double digit dari tahun ini seiring mulai meningkatnya nilai pinjaman dari institusi yang masuk menjadi investor.

"Target kami akan perdalam mata rantai UKM. Mungkin saat ini menyentuh perusahaan menengah. Pekerjaan rumah kami makin turun ke rantai pasok yang semakin kecil, mikro dan menyebar di seluruh Indonesia bersama mitra," katanya.

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

OJK pastikan tidak ada fintech beroperasi di Kepri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar