Kadin-Hipmi Jabar dorong UMKM terapkan konsep bisnis ramah lingkungan

Kadin-Hipmi Jabar dorong UMKM terapkan konsep bisnis ramah lingkungan

Suasana jumpa pers Forum Bisnis Hijau & Cleantech Financing dalam West Java Green Festival 2019, di Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Dok Humas Hipmi Jabar)

Untuk perkuatan ini harus dimulai dengan bertemunya semua pihak, terhubung, membangun Iingkage dan akhirnya berkolaborasi
Bandung (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri Indonesi (Kadin) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jawa Barat (Jabar) mendorong industri usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk menerapkan pola ramah lingkungan atau konsep UMKM Hijau (konsep bisnis hijau) dalam menjalankan bisnisnya untuk keberlangsungan alam.

"Jadi UMKM Hijau ini akan menjadi solusi penting berkelanjutan yang didorong oleh sektor swasta untuk beberapa tantangan pembangunan berkelanjutan yang dihadapi Indonesia ke depan," kata Wakil Ketua Kadin Jawa Barat, Aman Suparman, di Bandung, Kamis.

Dia mengatakan untuk mewujudkan UMKM yang peduli atau ramah lingkungan (UMKM Hijau) amka harus diperkuat dan mengajak semua pihak dalam rantai nilai usaha hijau dalam 'memaksa' penggunaan proses produksi dan distribusi yang lebih ramah lingkungan.

"Untuk perkuatan ini harus dimulai dengan bertemunya semua pihak, terhubung, membangun Iingkage dan akhirnya berkolaborasi," kata dia.

Kadin Jawa Barat, kata Aman, sangat mengapresiasi langkag Asian Cleanch MSME Financing Network (ACMFN) Indonesia melalui Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan berbagai komunitas serta asosiasi di Jawa Barat yang berupaya menfasilitasi dan memperkuatan inkubasi usaha semakin ramah Iingkungan selama empat tahun ini.

"Para komunitas atau perkumpulan peduli lingkungan ini bisa menyarankan aspirasinya di 27 kabupaten/kota di Jabar. Dan kami akan bawa wacana konsep bisnis hijau ini ke forum pemerintahannya. Harapannya ada top down dari pemerintah, dan bottom up dari perusahan. Kampanye itu yang kita harapkan," ujarnya.

Dia mengatakan UMKM punya potensi yang luar biasa namun keterlibatan sektor UMKM Indonesia dalam rantai nilai global masih rendah.

Pihaknya memberi contoh hanya 6,3 persen dari total UMKM yang ada di Indonesia yang mampu terlibat dalam rantai perdagangan di wilayah Asia Tenggara di mana salah satu isu penting dalam rantai nilai global yakni produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.

"Sekitar 99,9 persen itu kontribusi UMKM. Dari PDB Indonesia 60 persen kontribusinya dari UMKM. Makanya ke depan komitmen Kadin mendorong perusahaan untuk lebih green lagi dan peduli lingkungannya," kata Aman.

Aman mengatakan, sebenarnya telah banyak upaya pemajuan yang dilakukan pemerintah dan berbagai pihak dalam isu bisnis hijau ini namun hal ini belumlah cukup.

Namun kini, lanjut dia, momentumnya kembali tumbuh dengan munculnya inisiatif dari gerakan-gerakan komunitas yang semakin peduli pada daya dukung manusia dan lingkungan.

"Hal ini juga telah melahirkan inisiasi kuat untuk mendorong munculnya start-up dan usaha lama yang makin sadar akan tanggung jawab sosial dan lingkungan untuk mulai beralih melakukan produksi dan konsumsi yang berkelanjutan," kata dia.

Sementara itu, Sekretaris Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD Hipmi) Jawa Barat Helma Agustiawan mengatakan, sudah saatnya Indonesia mengadopsi dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan ramah lingkungan atau kebijakan 'hijau’.

Salah satu langkahnya, kata Helma, ialah dengan mengubah kegiatan ekonomi lebih mengutamakan inovasi dan produksi yang punya nilai tambah tinggi.

"Kami mensosialisasi tentang green bisnis ini. Kami bangga di konsorsium ini saat kami mengadakan bootcamp, mereka bisa membuat bisnis plan jauh dari yang sebelumnya dibuat," kata dia.

"Dan ini menjadi salah satu konsep kita, tapi minimal kami meningkatkan awwarness gaya hidup hijau. Selain pengusahan meningatkan green bisnisnya tapi green lifestyle masyarakat juga semakin tinggi," lanjut Helma.

Oleh karenanya, beragam program peningkatan kapasitas UMKM di beberapa sektor mulai dibangun seperti rotan ramah lingkungan, pengembangan model pengolahan sampah yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat hingga menginiasi penggunaan sumber daya alam sebagai bagian dari energi yang terbarukan dan sebagainya.

"Dan kami juga memberikan solusi, contoh komunitas Hayu Hejo yang merupakan komunitas kosumen. Untuk menemukan benar merah, kami pertemukan mereka pengusaha dan komunita pembeli yang punya awwareness soal itu," kata dia.

"Karena intinya, setalah mind set pelaku usaha berubah, lifestyle berubah, nanti ketemu di satu titik maka teman-teman ini semakin ingin mengubah menjadi green bisnis," ujarnya.

Beberapa hari lalu, komunitas 1000 Kebun, Komunitas Organik Indonesia, Komunitas Hayu Hejo KBPA, Kadin Jabar, Hipmi Jabar, The Local Enabler, AIKMA dan Asian Cleanch MSME Financing Network (ACMFN) Indonesia melalui Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Jawa Barat mengadakan acara Forum Bisnis Hijau & Cleantech Financing dalam West Java Green Festival 2019, di Kota Bandung.

Direktur Eksekutif PUPUK, Cecep Kodir Jaelani mengatakan forum ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem menuju tagline #nextlevelcollaboration dengan mempercepat pengembangan produk pembiayaan di ruang teknologi bersih.

Upaya ini dikemas dengan menampilkan praktik dan pelajaran dari bisnis hijau dan lembaga keuangan Indonesia, investor dan UMKM, serta menghadirkan pengalaman dari negara Asia lainnya termasuk China dan India.

Baca juga: PGE Kamojang komit kembangkan bisnis ramah lingkungan

Baca juga: Ketua Hipmi Jabar apresiasi upaya pemerintah turunkan bunga KUR jadi 7 persen

 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kadin Jabar minta Presiden kaji rencana kenaikan premi BPJS Kesehatan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar