Soal kelanjutan KFX/IFX, Dahnil sebut masih dinegosiasikan

Soal kelanjutan KFX/IFX, Dahnil sebut masih dinegosiasikan

Menhan RI Prabowo Subianto (kanan) tengah melakukan pertemuan bilateral dengan Menhan Korea Selatan, Jeong Kyeong-Doo saat melakukan kunjungan kehormatan, ke Kantor Kemhan, Jakarta, Kamis (12/12/2019). (ANTARA/Humas Setjen Kemhan)

Jakarta (ANTARA) - Staf Khusus Menteri Pertahanan bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antar-Lembaga, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebutkan, Kementerian Pertahanan masih melakukan negosiasi terhadap kelanjutan proyek bersama pembuatan pesawat tempur Korean Fighter Experimental/ Indonesian Fighter Experimental (KFX/IFX).

"Masih dibicarakan, kita masih bernegoisasi terkait hal tersebut," kata Dahnil menanggapi kunjungan Menhan Korea Selatan Jeong Kyeong-Doo ke Kantor Kemhan, Jakarta, Kamis, yang diterima langsung oleh Menhan RI Prabowo Subianto.

Baca juga: Korea Selatan paham kekhawatiran penundaan KFX/IFX

Baca juga: GE menang tender pemasok mesin jet tempur Korsel

Baca juga: Proses pengembangan pesawat tempur KFX/IFX capai 20 persen


Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung sekitar tiga jam itu juga membahas terkait kelanjutan proyek pesawat tempur KFX/IFX.

"Pak Menhan juga masih bernegoisasi dengan melihat berbagai kemungkinan keputusan yang bisa diambil termasuk terkait anggaran dan lainnya," kata Dahnil.

Jadi, lanjut dia, negoisasi tentu dalam posisi tidak merugikan Indonesia.

Sementara itu, Kepala Biro Humas Setjen Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiharto mengatakan, dalam pertemuan itu Menhan Prabowo menyampaikan penghargaan atas kunjungan Menhan Korea ke Indonesia, mengingat Korea bagi Indonesia merupakan negara bersahabat yang keberadaannya sangat penting di wilayah regional.

"Hubungan diplomatik kedua negara ini telah terjalin sejak tahun 1973 dan semakin berkembang dari tahun ke tahun khususnya di bidang pertahanan dan teknologi industri," kata Totok.

Perjanjian kerja sama pertahanan kedua negara ini juga tertuang dalam dokumen perjanjian kerja sama yang ditandatangani pada tanggal 12 Oktober 2013 di Jakarta. Dokumen tersebut berisi kerja sama yang menitikberatkan pada kerja sama dalam bidang logistik dan industri pertahanan.

Menhan Prabowo, kata dia, berharap pertemuan dengan Menhan Republik Korea ini dapat meningkatkan hubungan kerja sama pertahanan kedua negara yang telah terjalin atas dasar saling menghormati dan menghargai.

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD menerima kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan Korea Selatan, Jeong Kyeong-Doo yang salah satunya membahas soal kelanjutan proyek kerja sama pesawat tempur KFX/IFX yang dikembangkan kedua negara.

"Dalam pembicaraan tadi, (proyek pesawat) tetap dilanjutkan," kata Mahfud usai bertemu Menhan Korsel, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu.

Menurut dia, kunjungan Menhan Korsel merupakan kunjungan biasa, yang salah satu menjadi perhatian, yakni melanjutkan pembicaraan tentang kerja sama alutsista pesawat tempur KFX/IFX.

"Itu sekarang sedang dinegosiasikan dan vocal point dari Indonesia memang yang ditunjuk pak Prabowo selaku Menteri Pertahanan untuk berbicara antar-menteri pertahanan," tutur Mahfud.

Dalam pertemuan dengan Menhan Korsel, kata dia, juga tidak membicarakan soal kesepakatan.

"Ya itu biar nanti lah saya tidak masuk ke substansi, substansinya nanti biar Pak Prabowo yang membicarakan," ucapnya.

Baca juga: Menkopolhukam pimpin rakorsus pengembangan pesawat tempur KFX/IFX

Baca juga: Menkopolhukam: pengembangan pesawat tempur KFX/IFX upayakan imbal beli

Baca juga: Jet tempur Korea-Indonesia KFX/IFX hadir 5 tahun lagi




Terdapat tiga fase pembuatan KF-X/IF-X. Pertama, yakni pengembangan teknologi atau pengembangan konsep, pengembangan rekayasa manufaktur atau pengembangan prototipe, dan proses produksi massal. Targetnya, pada tahun 2020 pesawat tempur sudah bisa diproduksi dan pada 2025 diharapkan sudah bisa beroperasi.

KFX/IFX merupakan proyek jangka panjang Indonesia dan Korsel. Indonesia harus mengeluarkan anggaran sebesar 2 miliar dollar AS untuk proyek tersebut.

Dalam kerja sama ini, pemerintah Korea menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat, sisanya ditanggung KAI (perusahaan pembuat pesawat Korea) 20 persen, sementara pemerintah Indonesia hanya 20 persen.

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar