Artikel

Berlomba mengulik bawah laut Maratua

Oleh Virna P Setyorini

Berlomba mengulik bawah laut Maratua

Terumbu karang di titik selam Pantai Kacili yang baru ditemukan dalam kompetisi Indonesia International Dive Adventure di Maratua, Berau, Kalimantan Timur, Kamis (5/12/2019). (ANTARA/HO-Rinaldi Ad/Indonesia International Dive Adventure)

Jakarta (ANTARA) - Bagi penggila petualangan, khususnya bawah laut, Pulau Maratua, pulau terdepan Indonesia yang berada di gugusan Kepulauan Derawan-Sangalaki, Berau, Kalimantan Timur, masih menyimpan rahasia.

Hutan lebat dengan pepohonan berkanopi di ketinggian, bahkan lebih dari 10 meter masih mudah ditemukan, menutupi pulau yang berbentuk menyerupai tapal kuda tersebut, membagi oksigen bagi sekitar 3.402 penduduknya (2014).

Gunung Putih yang menjadi lanskap tertinggi di sana masih tertutup hutan lebat. Bahkan ada pula penduduk pulau tersebut yang mengaku belum pernah menjamah gunung tersebut, seperti halnya Edi Susanto, salah seorang penjaga wisata Gua Halotabung di Pulau Maratua.

Jika beruntung, fauna seperti monyet ekor panjang, murai batu, nuri, burung hantu dan kelelawar berukuran besar yang menjadi penghuni terestrial Pulau Maratua dapat dijumpai saat menjelajah salah satu Teras Nusantara tersebut.

Pesisir Maratua, pulau terdepan di Berau, Kalimantan Timur, Kamis (5/12/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)
Jika melihat peta pariwisata Pulau Maratua, setidaknya ada 48 titik lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi wisatawan, baik itu di bagian terestrial maupun perairannya. Data itu terpampang di sebuah reklame berukuran sedang tepat di mulut jeti pelabuhan lama Maratua yang hingga kini masih digunakan.

Memang jika berbicara soal Pulau Maratua, benar-benar tidak lengkap jika tidak menyebutkan pula kehebatan bawah lautnya. Sebagai bagian dari Segitiga Terumbu Karang Dunia yang dianggap sebagai Amazon of the Sea, kekayaan terumbu karang dan biota laut dari Kecamatan yang memiliki luas daratan hingga perairan mencapai 4.119,54 kilometer persegi (km2) tersebut begitu luar biasa.

Itu pun baru sebagian saja yang terungkap, karena setiap jengkal dasar laut gugusan Kepulauan Derawan-Sangalaki atau khusus di sekitar Maratua saja belum seluruhnya diselami.

Setidaknya itu juga yang menjadi pendapat fotografer profesional bawah laut Ria Qorina Lubis yang menjadi salah satu juri kompetisi Indonesia International Dive Adventure yang melombakan foto bawah laut dan pencarian titik selam baru.

 

Kompetisi berseri

Saat ini, dari luas perairan Pulau Maratua yang mencapai 2.342,06 hektare (ha) terdapat sekitar 32 titik penyelaman, di mana tujuh di antaranya berada di dan sekitar Pulau Kakaban, sedangkan yang lainnya ada di sekitar Pulau Maratua.

Sebagai bagian dari Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) Derawan-Sangalaki dan sekitarnya, penambahan titik penyelaman baru tentu menjadi hal positif untuk menarik wisatawan datang ke Berau, khususnya Pulau Maratua, ujar Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Berau Abdul Madjid.

Ini juga menjadi salah satu alasan konseptor sekaligus pelaksana Indonesia International Dive Adventure, yakni PT Sapta Grahita Dewanti menggelar kompetisi selam berseri di sejumlah provinsi di Indonesia mulai dari Desember 2019 hingga Desember 2020.

Direktur Utama PT Sapta Grahita Dewani Joice Maria Bernadet mengatakan secara keseluruhan kegiatan seri lomba foto bawah laut dan mencari titik-titik selam baru tersebut untuk mendukung visi besar pemerintah dalam mengangkat potensi pariwisata maritim Indonesia yang dikembangkan melalui olah raga menyelam.

Foto kuda laut kecil Pontohi jepretan Royke M Legi yang menjadi pemenang terbaik lomba foto bawah laut kategori Compact Macro di Indonesia International Dive Adventure. (ANTARA/HO-Royke M Legi/Indonesia International Dive Adventure)
Maratua dipilih menjadi titik awal pelaksanaan Indonesia International Dive Adventure karena berkaitan dengan kesiapan infrastruktur dan waktu (cuaca) terbaik untuk melakukan penyelaman.

Gorontalo menjadi titik penyelaman kedua pada Maret 2020 yang kemudian dilanjutkan ke Pulau Weh di Aceh pada Juni 2020, Ambon pada September 2020 dan rencananya ditutup dengan penyelaman ke Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur pada Desember 2020.

Kompetisi selam untuk mencari titik selam baru, menurut Ria, sangat jarang diadakan bahkan boleh jadi pertama kali dilakukan di Indonesia. Karena biasanya resort atau Pemda yang mendanai pencarian titik selam baru.

Potensi titik penyelaman baru di Maratua tentu saja banyak, bahkan tepat di depan resort tempat pelaksanaan kompetisi selam ini berlangsung banyak yang belum diekplorasi. “Apalagi di gugusan Kepulauan Derawan-Sangalaki,” kata Ria.

 

Kesan berlomba

Kompetisi Indonesia International Dive Adventure untuk seri Explore Maratua melombakan foto bawah laut (under water/UW photography) untuk beberapa kategori.

Beberapa peserta memang khusus mengikuti lomba foto bawah laut, namun beberapa lainnya juga tergabung dalam tim eksplorasi bawah laut untuk kompetisi pencarian titik penyelaman baru.

Salah satu peserta lomba foto bawah laut Maratua adalah Muhammad Naufal Hishnul Hashin yang merupakan mahasiswa semester 5 Universiti Utara Malaysia dari Fakultas Hubungan Internasional. Itu kali kedua dirinya mengikuti reli fotografi bawah laut.

Baca juga: Maratua, Pulau Terluar Yang Terlupakan

Jika saat berlomba di Thailand Naufal tidak membawa pulang mendali, kali ini dirinya berhasil menyabet juara tiga untuk kategori wide angle dengan kamera DSLR, dan mengantongi Rp15 juta untuk foto penyu yang diabadikan di titik selam Turtle Point.

Saat melakukan penyelaman hingga 26 meter di Maratua Channel, Naufal mengalami kendala pada strobes kameranya. Karenanya, dirinya merasa belum puas mengabadikan kawanan barakuda yang memang senang bermain di arus kuat titik selam tersebut.

Salah satu diver peserta Indonesia International Dive Adventure, Muhammad Naufal Hishnul Hashin setelah melakukan penyelaman di Maratua Channel, Berau, Kalimantan Timur, Kamis (5/12/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)
Pria yang menjadikan aktivitas menyelamnya sebagai diveplomacy tersebut mengaku senang mengikuti kompetisi selam itu. Semua karena suasana pelaksanaan lombanya lebih terasa kekeluargaan, sehingga tidak menimbulkan ketegangan.

Lain lagi dengan peserta kompetisi dari Austria, Florian Johannes Allgaeuer yang mengatakan dirinya merasa lebih seperti sedang melakukan liburan ketimbang berkompetisi di Indonesia International Dive Adventure.

Pelatih selam PADI yang pernah tinggal di Lombok selama dua tahun itu mengaku begitu menikmati menyelam di Maratua. Titik selam di Indonesia memang diakuinya luar biasa, terutama keanekaragaman biota dan terumbu karangnya.

Florian setidaknya melakukan enam kali penyelaman dalam dua hari. Meski tim pencarian titik selam barunya tidak memenangkan kompetisi, dirinya menikmatinya mengingat ketegangan mengeksplorasi lokasi baru begitu terasa.

“Kita tidak pernah tahu apa yang akan ada di depan kita,” ujar dia bersemangat.

Baca juga: Pertama di dunia lombakan pencarian titik selam baru
 

Penjurian kompetisi

Fotografer bawah laut profesional Yos WK Amerta yang menjadi salah satu juri mengatakan secara umum foto-foto bawah laut yang menjadi juara dipilih selain karena ketajamannya (sharpness), sudut pengambilan (angle), komposisi, keunikan, warna, juga yang tidak kalah penting memiliki “wow effect” sehingga dapat dipakai sebagai bahan promosi.

Khusus untuk foto kuda laut yang kecil, yang disebut Pontohi, selain cantik juga termasuk cukup langka alias tidak di semua titik penyelaman ada, ujar Yos.

Baca juga: Indonesia International Dive Adventure dimulai dari Maratua

John E Sidjabat, Scuba Diving Instructor yang juga merupakan pelaku usaha wisata selam yang menjadi juri untuk kompetisi pencarian titik selam baru itu mengatakan tim yang digawangi para dive master di antaranya Gian Victoria, Roy Legi, Roy Herlambang dan Audita berhasil menemukan titik selam baru di Maratua yang memiliki variasi karang lunak, karang keras, variasi ikan dan jumlahnya yang banyak selain biota lautnya yang memang menjadi sorotan.

Titik selam tersebut diberi nama Pantai Kacili (Small Beach) dan jarak tempuhnya tidak terlampau jauh dari pulau.

Foto jepretan Gian Fictoria di salah satu titik penyelaman di Maratua yang menjadi juara dua untuk kategori wide angle dengan kamera DSLR dalam kompetisi Indonesia International Dive Adevnture. (ANTARA/HO-Gian Fictoria/Indonesia International Dive Adventure)
Setidaknya lokasi yang membuat tim Gian dan kawan-kawan akhirnya membawa pulang hadiah Rp120 juta tersebut, menurut John, kemungkinan memiliki lebih dari 32 jenis karang lunak. Untuk karang keras, kemungkinan lebih dari 18 jenis.

Hang over variasi bentuk dan kedalamannya, warna-warni yang menarik, jumlah schooling fishes dalam 3 hingga 4 jeni ikan, variasi current namun aman bagi penyelam karena banyak cekungan dalam lanskapnya,” katanya menggambarkan kondisi titik selam Pantai Kacili tersebut.

Baca juga: Dua tim berebut Rp120 juta temukan titik selam baru Maratua

Penyelam dapat menikmati keindahan titik selam baru tersebut di kedalaman 20 meter, namun jika hendak diteruskan ke kedalaman 40 meter pun masih terlihat indah. “Tapi tergantung kualifikasi penyelam tentunya. Cahaya dan kejernihan air sangat baik di sana,” ujar dia.

Keindahan dunia bawah laut memang memabukkan, terlebih bagi mereka para petualang yang selalu menanti kejutan-kejutan baru di dalam sana. Tentu petualangan menikmati kedamaian dan keindahan bawah laut Maratua dan Indonesia dapat dilanjutkan, dengan syarat menjaganya dari ancaman sampah, polutan, pemanasan global, bom ikan hingga aksi penangkapan ikan secara ilegal, tidak dilaporkan, tidak mengikuti aturan yang berlaku.

Oleh Virna P Setyorini
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mencari foto dan titik selam baru di bawah laut Maratua

Komentar