LIPI ungkap alasan orang belanja "online" produk impor dan dampaknya

LIPI ungkap alasan orang belanja "online" produk impor dan dampaknya

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) Nika Pranata (kanan) saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Jumat. (ANTARA/ Sella Panduarsa Gareta)

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, 90 persen barang yang dijual secara online merupakan produk impor
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) Nika Pranata melansir hasil penelitian tentang penjual dan pembeli online di Indonesia, salah satunya mengupas alasan orang Indonesia senang belanja produk impor secara online.

“Ada dua alasan, pertama adalah produknya langka atau tidak tersedia di Indonesia dan kedua harganya murah,” kata Nika saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Nika memaparkan hasil penelitian tersebut didapat dari survei yang dilakukan terhadap 1.626 responden yang terdiri dari 820 pembeli online dan 806 penjual online yang tersebut di Pulau Jawa, Kepulauan Riau, Jawa Barat, dan Sulawesi Utara.

Dari sisi pembeli, ditemukan tiga platform digital yang paling sering digunakan oleh pembeli online asal Indonesia yakni Alibaba dan Aliexpress asal China, serta Amazon asal Amerika Serikat.

Menurut Nika, kebanyakan pembeli asal Indonesia menggunakan platform tersebut untuk berbelanja peralatan elektronik seperti ponsel, kamera, laptop, dan komputer. Selain itu produk aksesori elektronik, yakni audio, printer, penyimpanan data, hingga aksesori hp juga banyak dicari.

Ia menambahkan berdasarkan temuan lapangan hampir semua penjual online Indonesia menyatakan bahwa praktik tersebut menurunkan penjualan mereka dan mengancam keberlangsungan bisnisnya.

“Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, 90 persen barang yang dijual secara online merupakan produk impor. Nah, hal ini membuat persaingan semakin ketat,” ujar Nika.

Nika menyampaikan saat ini dunia memasuki era perdagangan tanpa batas, pergerakan barang dan jasa menjadi sangat mudah. Dampaknya, impor barang melalui e-commerce meningkat tajam.

Oleh karena itu, tren impor barang melalui e-commerce perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Diketahui, data dari Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan menunjukan bahwa sepanjang 2018 rata-rata jumlah barang kiriman impor melalui e-commerce meningkat 10,5 persen per bulan, sedangkan dari sisi nilai transaksi melonjak 22 persen dari tahun sebelumnya.

Tren tersebut terjadi akibat mudahnya konsumen Indonesia untuk membeli barang dari luar negeri.

“Bahkan beberapa platform e-commerce besar di Indonesia menyediakan fasilitas kepada penjual asing untuk membuka toko online di Indonesia,” tukas Nika.

Jika permasalahan ini tidak ditindaklanjuti dengan cermat, ungkapnya, maka hal tersebut mengancam keberlangsungan usaha produsen dan penjual online di Indonesia.

Baca juga: Pengiriman paket saat Harbolnas 12.12 melonjak 30-40 persen

Baca juga: Barang impor kuasai pasar online Indonesia


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Agar kecantikan dan fashion menjadi Trending Products

Komentar