Anggota DPR ingin eksportir perhatikan pengemasan-mutu produk

Anggota DPR ingin eksportir perhatikan pengemasan-mutu produk

Ilustrasi - pelabuhan bongkar muat yang merupakan sarana penting dalam perdagangan internasional. (en.wikipedia.org)

Packaging (model pengemasan) sangat berpengaruh kepada nilai jual dan daya saing pasar barang-barang Indonesia dengan barang dari negara lain
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VI DPR RI Evita Nursanty menginginkan kalangan pengusaha nasional yang mengekspor produk mereka agar benar-benar memperhatikan cara pengemasan serta menjaga mutu produk mereka agar dapat benar-benar masuk ke negara sasaran ekspor yang dituju.

"Packaging (model pengemasan) sangat berpengaruh kepada nilai jual dan daya saing pasar barang-barang Indonesia dengan barang dari negara lain," kata Evita Nursanty dalam rilis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Menurut politisi PDIP itu, peran lembaga Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga sangat esensial dalam menekankan terhadap kebijakan pengemasan produk yang baik dari eksportir Indonesia.

Ia berpendapat bahwa produk Nusantara kerap kalah dari sejumlah negara karena masalah pengemasan serta juga terkait mutu produk sehingga standardisasi juga merupakan hal penting.

Untuk itu, ujar dia, penting pula agar ada kerja sama yang dilakukan, baik oleh BSN atau lembaga lainnya, terkait dengan masalah mutu sehingga produk Indonesia tidak dipermasalahkan di luar negeri karena kualitas mutunya.

"Ngapain kalau misalnya kita (buat perjanjian dagang) dengan Australia tidak ada resiprokal mutu. Kita terima mutunya dia, dia enggak terima mutu kita," katanya.

Evita mengingatkan bahwa selama ini ekspor produk Indonesia kepada dunia internasional sering terganjal aturan berkenaan mutu di masing-masing negara yang dituju.

Oleh karena itu diharapkan agar ada penguatan sinergi yang lebih baik di antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan BSN untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Terkait dengan perdagangan internasional, sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani memaparkan Indonesia memiliki dua peluang dalam memanfaatkan adanya situasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang tak kunjung selesai.

“Warning besar ini. Harusnya kita bisa mengambil keuntungan at least dengan dua aspek,” katanya dalam acara Seminar Nasional Dinamika dan Tantangan Indonesia dalam Perekonomian Global di Widya Graha, LIPI, Jakarta, Kamis (12/12).

Peluang pertama adalah mengambil pasar produk China yang diekspor ke AS sebab berbagai barang tersebut saat ini sedang dikenakan tarif yang cukup tinggi sehingga Indonesia memiliki kesempatan untuk menggantikannya.

Sedangkan peluang kedua adalah Indonesia bisa mengambil para pelaku usaha di China yang memutuskan untuk merelokasi bisnisnya ke negara lain seperti yang terjadi beberapa saat lalu yaitu 33 perusahaan pindah ke Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

Baca juga: Badan Standarisasi Nasional apresiasi komitmen Jatim terapkan SNI

Baca juga: Pemerintah berupaya jamin mutu produk obat dan kosmetika

Baca juga: Produk Indonesia diharapkan raih standar mutu dunia

 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bawadi Coffee, UMKM yang tembus pasar Eropa berkat Pertamina

Komentar