Artikel

Ajakan menjadi bentara perubahan

Oleh M. Hari Atmoko

Ajakan menjadi bentara perubahan

Dua orang membuat gua Natal dari bahan-bahan alami di Kapel Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (17/12/2019) malam. ANTARA/Hari Atmoko/am.

Magelang (ANTARA) - Sejumlah pengurus organisasi warga eks-Timor Timur, yang suatu pagi datang ke rumah anggotanya di Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mendapatkan aspirasi soal cara pandang diri sebagai korban politik masa lalu ke arah pemberdayaan manusia produktif.

Bahasa kerennya, anggota diajak move on, terlebih sudah 20 tahun wilayah itu tak lagi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia karena jajak pendapat pada 1999 di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, menunjukkan sebagian besar mereka menentukan arah menjadi negara merdeka, Timor Leste.

Aspirasi tersebut diterima mereka secara positif dan terbuka untuk ditindaklanjuti melalui pembicaraan di induk organisasi.

Tidak mudah membawa diri sendiri maupun dalam semangat kebersamaan ke arah perubahan dengan tona positif. Terlebih belantara perubahan kehidupan bersama-sama penuh dengan tantangan yang juga harus dihadapi secara bersama-sama. Dibutuhkan para bentara perubahan.

Ketika Joko Widodo berpidato di hadapan Sidang Paripurna MPR pada pelantikannya bersama Kiai Haji Ma'ruf Amin sebagai Presiden-Wakil Presiden RI periode 2019-2024 pada 20 Oktober lalu, ia bertutur singkat tentang hal yang nampak sederhana, namun terlihat amat sebagai pesan penting menyangkut daya ubah.

Baca juga: TNI-Polri siap memberikan rasa aman Perayaan Natal di Medan

Sang Presiden ingin mengajak seluruh kalangan masyarakat dan jajaran birokrasi melepaskan diri dari jebakan rutinitas maupun hal yang terasa risi karena bisa mengarah kepada ikhwal rutin.

Cerita Jokowi pada kesempatan itu, soal tempat sebagaimana diatur secara protokoler oleh pihak Istana Negara, di mana dia harus berdiri saat halalbihalal.

"Tahun pertama saya di istana, saat mengundang masyarakat untuk halalbihalal, protokol meminta saya untuk berdiri di titik itu, saya ikut. Tahun kedua, halalbihalal lagi, protokol meminta saya berdiri di titik yang sama, di titik itu lagi," ucap dia.

Seketika, Presiden Jokowi berbicara kepada Menteri Sekretaris Negara Pratikno untuk mengajak pindah lokasi untuk dia berdiri saat halalbihalal, supaya variatif, tidak monoton, dan tak terkesan cuman rutinitas.

"Kalau kita tidak pindah, akan jadi kebiasaan. Itu akan dianggap sebagai aturan dan bahkan nantinya akan dijadikan seperti undang-undang," katanya.

Cerita ringan soal keinginan pindah tempat berdiri pada halalbihalal yang disampaikan Jokowi dalam forum kenegaraan berupa sidang paripurna MPR itu, tentu saja menjadi pesan simbolik untuk mengajak semua warga bangsa dan elemen pemerintahan negara move on, menjalani perubahan ke arah hidup bersama, berbangsa, dan bernegara agar tidak stagnan namun semakin maju.

Belantara perubahan dengan berbagai tantangan terlihat dipaparkan Presiden ketika itu, antara lain menyangkut arah masa depan negara dan bangsa, bukan hanya soal capaian signifikan atas kemajuan ekonomi dan paradigma gres tentang layanan birokrasi.

Namun, juga pentingnya sejak saat ini manusia Indonesia masa depan digagas, disiapkan, dan digarap sungguh-sungguh secara tepat ke arah perwujudannya, yakni sumber daya manusia unggul dan mampu berkompetisi pada era global.

Kerja cepat dan produktif disodorkannya untuk dikerjakan melalui pengembangan inovasi agar transformasi inovasi itu bukan sekadar pengetahuan, namun sebagai budaya. Budaya inovasi, menjadi salah satu poin penting ajakan transformatif yang disampaikan Presiden Jokowi.

Baca juga: Hadapi Natal, Polda Papua Barat identifikasi potensi gangguan

Seruan menjadi bentara perubahan yang transformatif dikeluarkan Keuskupan Agung Semarang untuk umat Katolik setempat yang meliputi sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu, dalam rangkaian persiapan spiritual umat menuju perayaan agung Natal tahun ini dengan puncaknya pada 25 Desember mendatang.

Selama masa Adven 2019 (persiapan menuju Natal), melalui kelompok-kelompok umat basis, Keuskupan Agung Semarang mendorong mereka berkumpul secara berkala, menginovasi forumnya untuk berbagi pengalaman diri dan merenungkan usaha-usaha mewujudkan umat yang berdaya ubah.

Komisi Kateketik KAS yang dipimpin Romo Antonius Dodit Haryono mengeluarkan buku panduan adven lingkungan untuk umat di berbagai tempat di keuskupan setempat menyiapkan Natal bermakna mereka pada tahun ini.

Dalam buku panduan berjudul "Orang Katolik Transformatif" itu, mereka diajak fokus merefleksikan tema-tema "Bangunlah dari tidurmu!", "Satu hati dan satu suara memuliakan Allah", "Bersabarlah dan teguhkanlah hatimu", serta "Kamu telah dipanggil menjadi milik Kristus".

Satu persatu tema itu menjadi fokus bahasan umat selama empat kali pertemuan berkala menuju Natal mendatang, dengan dipimpin pemuka masing-masing. Para pemuka mereka, sebelumnya wajib menjalani pelatihan teknis di setiap parokinya agar mampu memimpin dengan baik pertemuan-pertemuan adven itu.

Umat, kata Romo Dodit dalam pengantar buku panduan tersebut, diajak mempersiapkan dan membangun Gereja sebagai promotor utama memajukan pemahaman dan penghayatan semangat bermisi di tengah masyarakat yang beragam.

Gereja keuskupan setempat harus hadir di tengah bangsa Indonesia di daerah itu, berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat, serta hadir dalam gerak afirmatif melalui aksi sosial yang nyata, untuk menjadi Gereja yang semakin mendalam dan misioner.

"Tentu semua itu, merupakan perjalanan dari arah Gereja KAS yang selalu ingin menjadi bentara perubahan. Gereja memang selalu berubah mengikuti konteks zaman. Gereja sendiri selalu berbenah," ucap dia.

Daya ubah diarahkan untuk setiap pribadi mampu membawa kehadirannya semakin berperan dalam pengembangan kemajuan kehidupan banyak orang dan dalam konteks hidup bersama yang beragam.

Bagi sekelompok kecil umat basis di Secang, Kabupaten Magelang, wujud tranformatif itu terkesan tidak muluk-muluk. Mereka menautkan semangat tranformasi tersebut melalui kesadaran bersama membangun kecintaan terhadap nilai-nilai lokal, sosial, dan penghargaan terhadap lingkungan.

Mereka menggagas perubahan pembuatan gua natal untuk kapel kecilnya di tepi sawah di pusat kota kecamatan setempat, dari yang kebiasaan umum menggunakan lembaran-lembaran bekas wadah semen, pada tahun ini mereka merancangnya dengan menggunakan bahan baku, antara lain berongsong, kelobot, bambu, kukusan, besek, daun kelapa, dan kepang.

Oleh karena kesadaran bersama atas ketidakmampuan secara memadai dalam mewujudkan gagasan itu, mereka pun menggandeng dua seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) untuk mengajari keterampilan merajut aneka bahan tersebut dengan sejumlah properti lain menjadi gua Natal kontemporer.

Tatanan berbagai bahan alam yang diperoleh dari sekitar kawasan itu menjadi gua Natal kontemporer mereka, mungkin bukan untuk meraih takjub orang lain agar menilai sebagai karya spektakuler. Akan tetapi, bisa jadi simbol perambahan mereka terhadap kesadaran bersama atas kekayaan nilai-nilai lokal dan lingkungan alam sekitar.

Sejumlah seniman komunitas yang membantu pembuatan gua Natal kontemporer desa itu, yakni Khoirul "Iroel" Mutaqin (30) dan Pangadi (51) pun, bukan berlatar belakang agama yang sama dengan mereka.

Namun, mereka memandang karya tersebut sebagai bermakna inspiratif terkait dengan semangat kebersamaan, eratnya nilai-nilai sosial, dan penghargaan inovatif atas produk lokal.

Pengalaman bersama dalam jagat lokal dengan wujud karya sederhana itu, setidaknya menjadi bagian dari taburan semangat transformasi mereka, untuk memantik lahirnya beragam inspirasi yang lain pada masa mendatang dan membebaskan diri dari hal yang rutin atau begitu-begitu saja.

Baca juga: Menko Polhukam pimpin rakor persiapan Operasi Lilin

Oleh M. Hari Atmoko
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Persiapan Natal di Aceh

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar