ASN Kemenag pastikan masyarakat punya moral tinggi

ASN Kemenag pastikan masyarakat punya moral tinggi

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid menyampaikan sambutan pada silaturahim dengan ASN Kementerian Agama di Sulteng, dalam kunjungan kerjanya ke Sulteng, berlangsung di Palu. ANTARA/Muhammad Hajiji/am.

Ini suatu kondisi faktual yang sangat dinamis, yang telah dan akan mengubah kehidupan kita secara menyeluruh hingga ke akar-akarnya
Palu (ANTARA) - Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid mengemukakan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama, termasuk di Sulawesi Tengah, harus mampu memastikan bahwa masyarakat telah memiliki moral yang tinggi dan etika yang baik.

"Konsekuensinya ASN Kementerian Agama harus menjadi cermin atau teladan yang baik di lingkungan kita masing-masing," ucap dia di Palu, Rabu.

Zainut Tauhid melakukan kunjungan kerja perdana ke Sulawesi Tengah sejak Selasa (17/12)- Rabu (18/12). Ia juga mengunjungi Donggala dan Kota Palu, serta bersilaturahim dengan tokoh lintas agama dan ASN Kemenag di Sulteng.

Ia mengatakan ASN Kementerian Agama harus mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang terpuji dalam kehiduapan sosial dan bermasyarakat sehingga misi utama menjadikan Kementerian Agama sebagai simbol ikhlas beramal benar-benar bisa terwujud, karena adanya peran ASN yang baik di masyarakat.

"Di sini kita harus bisa membuktikan bahwa dialektika keagamaan antara agama dan negara harus dapat hidup sejalan, seiring, saling menopang,dan saling melengkapi," katanya.

Baca juga: Wakil Menag: Kita dukung IAIN Palu jadi UIN

Oleh karena itu, ia meminta kepada ASN Kementerian Agama ikut berkontribusi secara nyata, agar nilai-nilai agama tetap memberi warna bagi kehidupan masyarakat.

Apalagi, sebut dia, di tengah arus perubahan yang begitu dahsyat sebagai dampak revolusi industri 4.0 sehingga mengakibatkan disrupsi.

"Ini suatu kondisi faktual yang sangat dinamis, yang telah dan akan mengubah kehidupan kita secara menyeluruh hingga ke akar-akarnya," katanya.

Dia menyebutkan sebelum era disrupsi dan belum adanya perubahan revolusi industri, kebanyakan masyarakat membutuhkan sosok pemimpin agama, tokoh agama, dan ulama.

Saat ini, jumlah para ulama, kiai, biksu, pendeta semakin berkurang di tengah tantangan keumatan yang kompleks. Apalagi pada era saat ini, kemajuan sistem informasi membuat banyak masyarakat lebih memilih bertanya dan belajar tentang agama di media sosial.

"Hal ini menjadi tantangan para tokoh agama, pemerintah, termasuk ASN Kementerian Agama, untuk kembali memberikan pencerahan kepada masyarakat agar belajar agama kepada orang yang paham dan mengerti tentang agama," katanya.

Baca juga: Babel tuan rumah Kongres Umat Islam Indonesia
Baca juga: Wamenag: Guru penangkal radikalisme lewat pendidikan

Pewarta: Muhammad Hajiji
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita pasien sembuh COVID-19 yang 2 kali khatam Al Qur'an saat isolasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar