Kemendag kaji penurunan batas bea impor e-commerce

Kemendag kaji penurunan batas bea impor e-commerce

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto ketika mengecek barang impor ilegal dan tidak sesuai SNI di kantornya di Jakarta, Rabu (18/12/2019) (ANTARA/Dewa Wiguna)

Yang jelas ini (batas maksimal bea masuk) kita akan turunkan, kami masih rundingkan ini
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mengkaji penurunan batas maksimal bea impor untuk transaksi dalam jaringan (e-commerce) yang saat ini pengenaan pungutan masih berlaku untuk produk dengan harga paling banyak 75 dolar AS.

"Yang jelas ini (batas maksimal bea masuk) kita akan turunkan, kami masih rundingkan ini," kata Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di kantornya di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Mendag: Urus izin usaha "e-commerce" sangat mudah dan gratis

Mendag tidak menyebutkan perkiraan batas maksimal harga namun, ia menyebut pengenaan bea masuk untuk impor e-commerce itu bisa jadi sampai nol atau tanpa batasan harga maksimal.

Namun, Agus menyatakan pengenaan bea masuk impor e-commerce masih terus dikaji dan dalam tahap pembahasan.

"Bisa saja, itu tergantung masih belum final ini," imbuhnya.

Ia menargetkan pengenaan bea masuk untuk produk impor dalam transaksi online itu mulai berlaku awal tahun depan.

Saat ini, harga produk impor melalui transaksi dalam jaringan maksimal 75 dolar AS tidak dikenakan pungutan.

Namun, banyak produk impor dari e-commerce yang membanjiri pasar dalam negeri di bawah harga 75 dolar AS.

Pembebasan bea masuk dengan nilai pabean paling banyak 75 dolar AS itu tercantum dalam pasal 13 ayat 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.04/2018.

Dalam pasal 20 peraturan itu juga disebutkan pembebanan bea masuk ditetapkan sebesar 7,5 persen yang melebihi nilai 75 dolar AS untuk setiap penerima barang per kiriman.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan nilai impor Indonesia pada November 2019 mencapai 15,34 miliar dolar AS atau naik 3,94 persen dibanding Oktober 2019, namun jika dibandingkan November 2018 turun 9,24 persen.

BPS menyebutkan tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-November 2019 dari China dengan nilai 40,51 miliar dolar AS (29,6 persen), kemudian Jepang sebesar 14,5 miliar dolar AS (10,6 persen) dan Thailand sebesar 8,68 miliar dolar AS (6,36 persen).

Baca juga: Presiden minta Mendag dan Menlu percepat negosiasi perjanjian dagang
Baca juga: Mendag ajak masyarakat belanja produk dalam negeri


 

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

RI–Australia tekan perjanjian dagang bebas bea masuk barang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar