Sempat bangkrut dan ditutup, label Sonia Rykiel kembali diluncurkan

Sempat bangkrut dan ditutup, label Sonia Rykiel kembali diluncurkan

Seorang model melenggang mengenakan busana karya Julie de Libran dari rumah mode Sonia Rykiel sebagai bagian dari pagelaran pakaian siap pakai, untuk musim Semi/Panas 2019 di Paris Fashion Week (29/9/2018). ANTARA/REUTERS/Stephane Mahe

Jakarta (ANTARA) - Toko fesyen daring Showroomprive pada hari Rabu (18/12) waktu setempat mengumumkan akan meluncurkan kembali merek mewah asal Perancis, Sonia Rykiel, setelah merek ini dinyatakan gulung tikar pada Juli 2019.

Pengadilan di kota Paris memerintahkan penutupan merek serta rumah mode yang didirikan oleh perancang busana Sonia Rykiel ini karena sudah dinyatakan bangkrut, seperti dilansir dari AFP pada Jumat.

Rykiel yang dijuluki "Queen of Knits" meninggal dunia pada tahun 2017 di usia 86 tahun. Dia dikenal melalui rancangannya berupa sweter hitam "Poor Boy Sweater", yang kerap dikenakan aktris Audrey Hepburn dan kemudian menjadi ciri khas dari penampilannya.

Kendati demikian, meskipun merek ini termasuk fesyen mewah di Perancis, rumah mode Sonia Rykiel rupanya mengalami kendala untuk mendapatkan pembeli hingga akhirnya dinyatakan bangkrut.

Namun, pengadilan pada Rabu malam, mengizinkan penjualan aset merek Sonia Rykiel untuk kepentingan Eric dan Michael Dayan, dua kakak beradik yang merupakan pendiri dari Showroomprive. Kakak beradik itu melalui pernyataan pers mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk mempromosikan merek Sonia Rykiel di dunia, sebagai salah satu warisan budaya fesyen Perancis yang dapat diunggulkan.

"Rumah mode Sonia Rykiel kembali pada 2020," demikian ditulis dalam pernyataan pers tersebut.

Showroomprive merupakan perusahaan e-commerce dari Perancis yang didirikan pada 2006. Perusahaan ini adalah salah satu pengecer daring terbesar di Eropa.

Butik pertama Sonia Rykiel dibuka di ibu kota Perancis pada Mei 1968. Rykiel identik dengan penampilan serba hitam dari ujung kepala hingga kaki, dengan alasan enggan membuang waktunya hanya untuk memilih warna pakaian.

Pada 2018 rumah mode ini mengalami kerugian hingga 30 juta euro (sekitar Rp470 miliar). Beberapa investor telah menyatakan minatnya untuk mengambil alih rumah mode tersebut, termasuk mantan kepala rumah mode Balmain, Emmanuel Diemoz, serta seorang konglomerat asal Cina.


Baca juga: Virgil Abloh bilang "streetwear" akan mati gaya tahun 2020

Baca juga: Hampir 20 tahun berkarya, Zac Posen tutup label fesyennya

Baca juga: Label fesyen Victoria Beckham tak laku, rugi miliaran rupiah

Penerjemah: Maria Rosari Dwi Putri
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aceh harus rebut pasar busana Muslim

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar