Kisah pria yang bergulat dengan pria bersenjata di "London Brigde"

Kisah pria yang bergulat dengan pria bersenjata di "London Brigde"

Para komuter berjalan melewati lokasi serangan fatal yang terjadi di London Bridge di London, Inggris, Senin (2/12/2019). REUTERS/Henry Nicholls/foc/cfo (REUTERS/HENRY NICHOLLS)

London (ANTARA) - Seorang pria yang menggunakan taring narwhal untuk melawan pria bersenjata pada serangan fatal di London bulan lalu berbicara tentang bagaimana ia dan yang lainnya terus bergulat dengan penyerang itu.

Pria bersenjata itu seperti mengenakan rompi bunuh diri yang bisa meledak setiap saat.

Darryn Frost, yang muncul dalam rekaman video pertarungan antara penyerang dan warga masyarakat di London Bridge pada 29 November, mengatakan kepada PA Newswire bahwa dia menghadiri sebuah acara di sebuah gedung dekat lokasi penyerangan.

Pria berusia 38 tahun itu mengatakan ia mengambil taring narwhal yang dipasang di dinding sementara seorang pria lain menggunakan kursi kayu untuk menangkis penyerang, Usman Khan, seorang teroris mantan narapidana yang dibebaskan lebih awal dari tahanan.

"Dia memiliki pisau di kedua tangannya. Setelah melihat saya dengan taring narwhal, ia menunjuk ke perutnya," kata Frost, seorang pekerja pemerintah yang pindah ke Inggris dari Afrika Selatan 14 tahun lalu.

"Dia berbalik dan berbicara kepadaku, lalu menunjukkan bahwa dia memiliki alat peledak di pinggangnya. Kemudian, pria di sebelahku melemparkan kursi ke pria bersenjata itu. Kemudia pria bersenjata itu berlari ke arahnya dengan mengangkat pisau di atas kepalanya."

Frost memberi tahu PA bahwa dia memberikan taring itu kepada pria yang melempar kursi dan berlari ke atas untuk mengambil taring yang lain.

Beberapa saat kemudian, ia melihat taring pertama hancur di lantai dan orang-orang melarikan diri.

"Bersama dengan yang lainnya, saya mengejar penyerang sampai ke jembatan dengan taring di tangan," katanya.

"Kami memperingatkan masyarakat tentang bahaya. Setelah pergulatan, kami berhasil menjatuhkannya ke tanah. Pada saat itu saya mencoba mengamankan pisau yang digenggam pria bersenjata itu dengan memegang pergelangan tangannya sehingga dia tidak bisa melukai siapa pun."

Polisi menembak Khan beberapa saat kemudian. Rompi itu ternyata palsu.

Dua orang meninggal karena luka tusuk, yaitu Jack Merritt, 25, dan Saskia Jones, 23, keduanya mantan siswa yang aktif dalam program rehabilitasi tahanan.

Frost mengatakan bahwa dia meluncurkan sebuah kampanye, Memadamkan Kebencian, dan dia meminta masyarakat untuk memberikan donasi kepada para korban melalui situs : saskia-jones.muchloved.com dan "Perayaan kehidupan Jack Merritt" di GoFundMe.com.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Maria D Andriana
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar