UI kukuhkan dua guru besar rumpun ilmu kesehatan

UI kukuhkan dua guru besar rumpun ilmu kesehatan

Dokumentasi - Gedung Rektorat UI. ANTARA/Feru Lantara/pri.

bayi berat lahir rendah menyumbang hampir 40 persen terjadinya stunting
Depok (ANTARA) - Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Ari Kuncoro memimpin Upacara Pengukuhan Dua Profesor UI yaitu Prof. Yeni Rustina sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Keperawatan UI (FIK UI) dan Prof. drg. Nurhayati A.Prihartono yang merupakan Guru Besar Tetap Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM UI)

Dalam pidato pengukuhannya di Balai Sidang UI kampus Depok, Sabtu Prof. Yeni Rustiana memaparkan pidato berjudul “Optimalisasi Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi Berat Lahir Rendah melalui Asuhan Perkembangan.”

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir kurang dari 2.500 gram dan kelahiran prematur yaitu bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari 37 minggu. BBLR memiliki risiko tinggi untuk mengalami berbagai masalah kesehatan bahkan kematian dan mempunyai kecenderungan untuk mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

"Bayi berat lahir rendah menyumbang hampir 40 persen terjadinya stunting. Berkenaan dengan masalah tersebut, Prof. Yeni merekomendasikan melakukan pemberian asuhan perkembangan (developmental care)," katanya.

Baca juga: Alat deteksi "stunting" untuk balita dikembangkan UI
Baca juga: Presiden ingin angka stunting turun jadi 14 persen


Dikatakannya Tim Keperawatan dapat melakukan intervensi berupa pemberian lingkungan yang aman melalui penataan kebisingan, pencahayaan, cara memegang bayi; memfasilitasi kecukupan oksigen; pemberian nutrisi yaitu air susu ibu (ASI); penatalaksanaan nyeri; menjaga bayi tidur, dan pengaturan posisi.

Salah satu contoh asuhan perkembangan adalah Perawatan Metode Kanguru atau Kangaroo Mother Care atau Perawatan Metode Kanguru (PMK). PMK memberikan manfaat yang sangat besar bagi BBLR dan orang tuanya.

"Perawatan metode kanguru memberikan kehangatan kepada bayi, bayi menyusu lebih lama, kenaikan berat badan lebih cepat, tidur bayi lebih lama, dan mengurangi infeksi," jelasnya.

Baca juga: Atasi "stunting" di Parigi Moutong, Rumah Sehat Baznas ikut membantu
Baca juga: BATAN ikut usaha turunkan stunting dengan manfaatkan teknologi nuklir


Sedangkan Prof. Nurhayati menyampaikan pidato pengukuhan bertajuk “Peran Epidemiologi di Lingkungan Kerja dalam Pencegahan Penyakit dan Gangguan Kesehatan sebagai Langkah Meningkatkan Kualitas SDM di Indonesia.”

Epidemiologi merupakan salah satu kunci bagi kita untuk mengetahui faktor risiko dan distribusi suatu gangguan atau masalah kesehatan.

Permasalahan kesehatan di lingkungan kerja di negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan yang besar, antara lain masih lemahnya pengawasan terhadap pajanan yang membahayakan kesehatan.

Salah satu studi yang dilakukan adalah berkenaan dengan pajanan yang bersumber dari kegiatan industri aki dapat berdampak pada pekerja, keluarganya atau penduduk yang tinggal dekat dengan lokasi industri.

Baca juga: PDPI imbau korban asap hindari risiko pajanan cegah masalah lanjutan
Baca juga: Pajanan polusi udara jadi salah satu faktor kanker paru


Suatu penelitian telah dilakukan terhadap 279 anak-anak berusia 1-5 tahun yang bermukim dekat tempat daur ulang aki bekas di Jakarta dan Tangerang. Dinyatakan bahwa sekitar 56 persen anak mempunyai kadar timbal dalam darah yang lebih tinggi dari nilai standar (5 µg/dL), dan sekitar 9 persen diantaranya memiliki kadar timbal darah 10 µg/dL atau lebih tinggi.

"Pajanan timbal dalam darah khususnya pada anak-anak dapat mengakibatkan penurunan tingkat kecerdasan, masalah kesehatan, bahkan berdampak sosial," katanya.

Dengan adanya potensi berbahaya terhadap lingkungan dan kesehatan, maka pemahaman yang ditimbulkan dari proses daur ulang aki bekas, aliran bahan dan sistem pengelolaan aki akan menjadi isu penting di masa yang akan datang.

"Perlu ada upaya pengelolaan limbah berbahaya dan beracun di Indonesia yang lebih baik," katanya.

Baca juga: Pajanan polusi udara prenatal bisa merusak otak anak
Baca juga: KLHK godok peraturan EPR untuk limbah berbahaya dan beracun
Baca juga: Simposium "Extended Producer Responsibility" urai masalah limbah aki

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sosiolog UI ajak lakukan 3 hal di tengah wabah COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar