Kenang 15 tahun tsunami Aceh, ziarah dilakukan di pekuburan massal

Kenang 15 tahun tsunami Aceh, ziarah dilakukan di pekuburan massal

Sejumlah warga yang merupakan korban dan keluarga korban gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam sedang menziarahi kuburan massal Ulee Lheue di Banda Aceh, Kamis (26/12/2019). (FOTO ANTARA/Muhammad Said)

Bacaan Al Quran ini untuk ibu saya yang jasadnya tidak kami temukan setelah peristiwa itu
Banda Aceh (ANTARA) - Salah satu pekuburan massal akibat gempa bumi dan gelombang tsunami tempat menguburkan sebanyak 14.264 jasad di Gampong (Desa) Ulee Lheue, Kamis,  tidak luput dari aktivitas ziarah keluarga korban di Banda Aceh dan sekitarnya mengenang bencana 15 tahun silam.

Wartawan ANTARA melaporkan di lokasi kuburan massal Ulee Lheue, Banda Aceh terlihat belasan orang melakukan ziarah dengan membaca beberapa surat dalam Al Quran yang dihadiahkan untuk doa bagi keluarga korban meninggal dunia pada peristiwa gempa bumi dan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004.

"Bacaan Al Quran ini untuk ibu saya yang jasadnya tidak kami temukan setelah peristiwa itu," kata Riana (45), keluarga korban sambil menitikkan air mata ketika mengenang musibah tersebut.

Ia mengaku tidak sanggup melanjutkan jalan cerita yang menewaskan sebagian anggota keluarga akibat peristiwa meluluhlantakkan sebagian besar Provinsi Aceh.

Tidak jarang warga yang membacakan ayat suci Al Quran menahan rasa haru dan pilu, sedangkan sebagian lagi menangis tersedu akibat terkenang dasyatnya peristiwa yang baru pertama kali terjadi di provinsi paling barat Indonesia itu.

"Maaf ya pak," kata seorang peziarah perempuan yang enggan menyebutkan nama, dan mengenakan jilbab sembari membaca lantunan Surat Yasin.

Umumnya mereka yang datang ke kuburan massal Ulee Lheue di Banda Aceh ini akibat tidak mengetahui persis kuburan keluarganya. Namun mereka meyakini jasad keluarga yang meninggal ketika tsunami 15 tahun silam dikuburkan di lokasi tersebut.

"Kami juga sering ke kuburan massal lain di Aceh, seperti di Lhoknga, dan Lambaro, Aceh Besar. Sewaktu tsunami terjadi, ayah, mama, abang, adik, mertua, kakak ipar, dan anak saya satu orang semua habis," kata Sheila (47), keluarga korban lainnya.

Pada Ahad, 26 Desember 2004 silam, provinsi berjuluk "Serambi Mekkah" itu diguncang gempa bumi berkekuatan 9,1 Skala Richter di laut yang memiliki jarak sekitar 149 kilometer dari Kota Meulaboh, Aceh Barat.

Beberapa menit kemudian disusul gelombang tsunami yang meratakan bangunan terutama wilayah pinggiran pantai di Aceh dengan korban lebih 170 ribu jiwa.

Gelombang tsunami mencapai 30 meter itu menewaskan total 230.000 jiwa di 14 negara, dan menenggelamkan sejumlah permukiman pesisir. Indonesia merupakan negara yang dampaknya paling parah selain Sri Lanka, India, dan Thailand.

Baca juga: Seratusan warga PLTD Apung peringati 15 tahun tsunami dengan zikir

Baca juga: JK ke Aceh jelang peringatan 15 tahun tsunami Aceh

Baca juga: Menyiapkan generasi tangguh bencana belajar dari tsunami Aceh

Pewarta: Muhammad Said
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lari 250 km untuk amal 15 tahun tsunami

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar