Kilas Balik 2019

Esport menanti kepastian menuju pengakuan

Oleh Shofi Ayudiana


Peraturan menteri itu memang belum rampung dan masih dalam tahap kajian. Namun apabila regulasi tersebut telah disahkan, Gatot berharap dapat memberi pemahaman serta edukasi tentang esport yang sebetulnya memiliki prinsip dan nilai-nilai yang sama dengan cabang olahraga lainnya.

Bertentangan

Esport memang telah dipertandingkan untuk pertama kali sebagai cabang olahraga eksibisi di Asian Games 2018, namun belum mendapat pengakuan dari Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Selama setahun terakhir ini, IOC telah mengambil langkah-langkah untuk lebih memahami esports dan belajar bagaimana olahraga elektronik itu bisa duduk berdampingan dengan olahraga pada umumnya. IOC pun membentuk sebuah organisasi bernama Kelompok Penghubung Esports dan Gaming.

Kelompok tersebut merupakan sebuah badan yang memusatkan kolaborasi antara olimpiade dengan komunitas olahraga dan gaming. Kelompok ini terdiri dari sekitar 40 pakar olahraga, esports, dan game yang misinya adalah memberikan inisiatif strategis kepada pimpinan IOC dan KTT Olimpiade untuk mempromosikan nilai-nilai olimpiade dalam olahraga dan esport.

Kendati demikian, Manajer bidang esport IOC Giacomo Modolo, saat melakukan wawancara bersama British Esports Association, pada Agustus lalu mengungkapkan, bahwa esport tampak masih sulit untuk diakui sebagai olahraga. Sebab untuk dapat diakui oleh IOC diperlukan federasi internasional yang mengatur seluruh ekosistem cabang olahraga tersebut.

"Kami tidak mengakui federasi esport manapun hingga saat ini karena berbagai alasan. Pertama, setiap video gim kompetitif, ada properti intelektual yang dimiliki oleh publisher game. Ini jelas yang paling membedakan dengan olahraga lain," kata Modolo.

Selain alasan komersial yang tak bisa dipisahkan dengan esport, faktor lain adalah konten gim yang kerap bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung dalam ajang olimpiade.
 
Warga menghadiri PUBG Global Invitational 2018, turnamen esport resmi pertama untuk permainan komputer PlayerUnknown's Battlegrounds di Berlin, Jerman, Kamis (26/7/2018). (REUTERS/Fabrizio Bensch)

"Gim-gim dewasa menampilkan kekerasan secara eksplisit dan simulasi peperangan, misalnya, dan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai olimpiade."

Berdasarkan alasan tersebut, dengan demikian IOC hingga kini hanya memperlakukan esports sebagaimana adanya yakni sebatas permainan video kompetitif.

Baca juga: Dilema dunia olah raga di tengah perkembangan esport

Pembicaraan soal masa depan esport kemudian berlanjut pada 8th Olympic Summit yang dilaksanakan pada 7 Desember lalu di antara para petinggi federasi olahraga internasional.

Presiden Federasi Balap Sepeda Internasional (UCI) David Lappartient pun turut merekomendasikan agar nilai-nilai olimpiade bisa diterapkan ke dalam esport.

Selanjutnya IOC ...

Oleh Shofi Ayudiana
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

PB Esports resmi dibentuk

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar