Waspadai bencana hidrometeorologi di Sleman, imbau BPBD

Waspadai bencana hidrometeorologi di Sleman, imbau BPBD

Salah satu kejadian pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang yang terjadi di Sleman. ANTARA/HO-BPBD Sleman/pri.

Dalam sepekan ini saja tercatat dalam laporan ada 91 titik kejadian angin kencang
Sleman, Yogyakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap terjadinya bencana hidrometeorologi karena sejak awal musim hujan hingga pekan ini kejadian angin kencang banyak menimpa sejumlah wilayah di Sleman.

"Dalam sepekan ini saja tercatat dalam laporan ada sebanyak 91 titik kejadian angin kencang," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, Sabtu.

Menurut dia, kejadian paling parah terjadi pada 21 Desember. Yakni ada sebanyak 66 titik dengan korban luka sebanyak dua orang.

"Bahkan ada kejadian rumah tersambar petir dan menyebabkan korban luka," katanya.

Ia mengatakan, wilayah yang sering terjadi hujan angin yakni di Kecamatan Berbah, Prambanan, Cangkringan, Pakem, Ngaglik, Ngemplak, Turi.

"Namun yang perlu diingat dan diwaspadai, bahwa potensi bencana hidrometeorologi di Sleman ini ada di seluruh kecamatan," katanya.

Makwan meminta agar setiap masyarakat waspada karena ada kemungkinan selama musim hujan ini akan terjadi hujan lebat dan angin kencang.

"Saat hujan lebat masyarakat agar tidak berhenti terlalu lama di sekitar pohon. Untuk menghindari kejadian warga tertimpa pohon tumbang," katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Dwi Anta Sudibya memperbolehkan warga untuk membantu memangkas dahan pohon yang dianggap rawan tumbang.

"Pohon yang dimaksud yakni pohon perindang jalan milik Pemkab Sleman. Boleh, selama itu memotong dahan dan bukan batang pohon," katanya.

Ia mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih terkendala keterbatasan peralatan untuk melakukan pemangkasan pohon.

"Sampai saat ini kami hanya ada satu kendaraan 'skylift', di mana per harinya baru rata-rata bisa memangkas 3-4 pohon," katanya.

Menurut dia, akibat keterbatasan alat tersebut pihaknya tidak bisa memenuhi semua permintaan masyarakat terkait pemangkasan pohon. Padahal permintaan semakin meningkat terutama saat musim hujan ini.

"Jadi kami baru akan memenuhi permintaan jika kondisi pohon benar-benar mengganggu," demikian Dwi Anta Sudibya.

Baca juga: BPBD Sleman : seluruh wilayah Sleman miliki potensi bencana

Baca juga: Lintas sektor perkuat pengurangan risiko gempa-hidrometeorologi

Baca juga: Yang diingatkan BMKG terkait bencana hidrometeorologi


Baca juga: DLH Sleman perbolehkan masyarakat pangkas dahan secara mandiri

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pantau Merapi lewat aplikasi “Jarak Aku dan Merapi”

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar