Danau Toba penuhi empat pilar geopark

Danau Toba penuhi empat pilar geopark

Ilustrasi - Pemandangan di salah satu dermaga di Danau Toba. ANTARA/M Razi Rahman

Pembangunan geopark tidak sekedar konservasi warisan geologi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi lokal untuk mengurangi kemiskinan agar dapat memberikan manfaat yang luas bagi kesejahteraan masyarakat...
Medan (ANTARA) - Danau Toba dinilai telah memenuhi empat pilar pembangunan dan pengembangan geopark serta juga siap menjalankan pengelolaan berkelanjutan dengan menganut prinsip konservasi.

"Danau Toba siap memenuhi empat pilar pembangunan dan pengembangan geopark," kata Kepala Dinas Pariwisata Sumut dr Ria Novida Telaumbanua M.Kes di Medan, Minggu.

Dijelaskan, sesuai dengan proyeksi dari Samodra tahun 2002 dan dideklarasikan di Hanoi pada 2011, empat pilar pembangunan dan pengembangan geopark tersebut adalah pro kemiskinan, pro pertumbuhan, pro kesempatan kerja dan pro lingkungan.

Untuk pro kemiskinan, pembangunan geopark harus memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan milenium khususnya terhadap pengurangan kemiskinan.

"Pembangunan geopark tidak sekedar konservasi warisan geologi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi lokal untuk mengurangi kemiskinan agar dapat memberikan manfaat yang luas bagi kesejahteraan masyarakat," ungkapnya.
Baca juga: Danau Toba berpotensi menjadi Geopark Global Network
Baca juga: Wisatawan apresiasi pembenahan infrastruktur Danau Toba


Untuk pro-pertumbuhan, pembangunan geopark harus berorientasi pada pertumbuhan sosial dan ekonomi seluruh pemangku kepentingan. Keterlibatan seluruh pihak dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan dan pengelolaan geopark menjadi penting agar kebutuhan dan kepentingan terhadap pertumbuhan sosial dan ekonomi dapat terpenuhi dengan pembangunan geopark.

Sedangkan pro kesempatan kerja, pembangunan geopark dapat menghasilkan peluang ekonomi baru, khususnya di daerah perdesaan.

Melalui geowisata, banyak peluang kesempatan kerja yang dapat dikembangkan, baik sebagai pekerja pada industri pariwisata, pengelola daya tarik wisata, pramuwisata, tenaga keamanan dan keselamatan, maupun peluang-peluang usaha pariwisata lain, seperti penyediaan akomodasi, penjualan makanan dan minuman, serta cenderamata.

Yang tidak kalah penting, pembangunan geopark yang tujuannya menggali keterkaitan antara komponen keragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya untuk kepentingan pendidikan, konservasi, dan pertumbuhan perekonomian lokal.

"Tentu saja harus mengedepankan prinsip- prinsip berwawasan lingkungan. Konservasi terhadap ketiga komponen pembentuk geopark tersebut merupakan hal yang mutlak dilakukan, tanpa mengesampingkan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat dan daerah," sebutnya.
Baca juga: Indonesia perkenalkan sejumlah "geopark" di ajang internasional

Pada kesempatan ini, Ria juga menjelaskan tata cara penilaian status geopark. Disebutkan, geopark masih memenuhi kriteria yang ditetapkan, maka status UNESCO Global Geopark masih dapat disandang untuk masa empat tahun ke depan, artinya geopark tersebut mendapatkan kartu hijau.

"Bila geopark sudah tidak memenuhi kriteria UNESCO Global Geopark, pengelola diberi waktu dua tahun untuk melaksanakan seluruh rekomendasi yang diberikan oleh UNESCO, status ini memberikan kartu kuning kepada Geopark," paparnya.

Bila geopark tidak melaksanakan rekomendasi yang diberikan oleh UNESCO dalam waktu dua tahun setelah mendapat kartu kuning, maka status UNESCO Global Geopark akan dicabut, atau mendapatkan kartu merah.

"Kita berharap agar semua pihak dalam dengan status tersebut," katanya.
Baca juga: Geopark Kaldera Toba optimistis masuk UNESCO Global Geopark
 

Pewarta: Juraidi
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemenparekraf targetkan bangun 33 lokasi wisata di Danau Toba

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar