Mewaspadai eksistensi kelompok teror

Oleh Anita Permata Dewi

Mewaspadai eksistensi kelompok teror

Petugas keamanan menyelinap di truk bahan bakar untuk mengerebek teroris yang membajak pesawat pada simulasi di Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman, Kamis (12-12-2019). ANTARA/Ikhwan Wahyudi

Jakarta (ANTARA) - Aksi teror memang agak berkurang selama tahun 2019 namun bukan berarti lenyap. Meskipun tidak ada lagi aksi teror besar, paling tidak ada empat aksi teror yang menonjol terjadi sepanjang tahun 2019.

Peristiwa teror terjadi pada tanggal 3 Juni 2019 di pertigaan Pos Pantau Polres Sukoharjo, Kartasura, Jawa Tengah.

Pada saat itu seorang lelaki bernama Rofik Asharudin meledakkan diri di dekat pos polisi pada pukul 22.30 WIB.

Suasana saat itu sedang ramai karena sedang dalam masa mudik Lebaran. Rofik akhirnya selamat meski dalam aksinya menggunakan bom lontong berdaya ledak rendah yang melukai perut dan tangannya.

Rofik diketahui terpapar paham radikal ISIS. Namun, dia tidak terlibat kelompok teroris mana pun.

Baca juga: Densus 88 dalami komunikasi pelaku bom bunuh diri dengan 'sel tidur'

Selanjutnya, aksi teror kembali terjadi pada tanggal 10 Oktober 2019, kali ini dengan cara yang berbeda, yaitu dengan penusukan.

Korban yang menjadi sasaran adalah Menkopolhukam (saat itu) Wiranto yang tengah melakukan kunjungan dinas ke Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dua pelaku, Syahril Alamsyah alias Abu Rara dan Fitri Andriana merupakan suami istri yang terpapar ideologi radikal. Akibat penusukan tersebut, Wiranto harus mendapatkan perawatan medis di RSPAD Gatot Subroto.

Pengeboman kembali terjadi pada tanggal 13 November 2019 di Polrestabes Medan, Sumatera Utara. Rabbial Muslim Nasution, sang pelaku datang mengenakan jaket sebuah perusahaan ojek daring ingin membuat teror dengan memanfaatkan keramaian para pemohon SKCK yang memadati Polrestabes Medan.

Aksinya menyebabkan pelaku tewas di tempat dan enam korban mengalami luka-luka. Dari kasus ini, Polri menangkap 74 orang jaringan teroris yang berasal dari 11 wilayah. Dari puluhan orang itu, 23 di antaranya merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sumut dan Aceh.

Sebelum aksi-aksi teror tersebut terjadi sebetulnya Polri, dalam hal ini Densus 88 Antiteror, sudah menangkap para pelaku teror sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Hingga Mei 2019, Densus 88 telah menangkap 68 orang pelaku terorisme yang tergabung dalam JAD.

Baca juga: Warga Bantul sebut aparat berseliweran sebelum tangkap terduga teroris

Baca juga: Terduga teroris ditangkap Densus di Bantul warga Gunung Kidul

Baca juga: Densus 88 tangkap seorang pria terduga teroris di Wonocatur Bantul


Jumlah pelaku yang ditangkap tersebut terdiri atas empat orang ditangkap pada bulan Januari 2019, satu orang pada bulan Februari 2019, 20 orang pada bulan Maret 2019, 14 orang pada bulan April 2019, dan 29 orang pada bulan Mei 2019.

Dalam rentang waktu tersebut, terjadi aksi bom bunuh diri di Sibolga pada tanggal 12 Maret 2019.

Peristiwa tersebut terjadi saat Densus menangkap tiga terduga teroris di Sibolga, Sumatera Utara.

Tiga orang yang ditangkap adalah Husain alias Abu Hamzah, AAH, dan AR alias D. Istri Abu Hamzah yang saat itu juga akan ditangkap oleh Densus 88 memilih meledakkan diri daripada menyerahkan kepada Densus.

Penangkapan teroris dalam jumlah banyak terjadi pada bulan Mei 2019 karena diperkirakan para teroris akan memanfaatkan momen pengumuman rekapitulasi resmi pemilu, 22 Mei 2019.

Diketahui para teroris merencanakan aksi di tengah kerumunan massa pada tanggal 22 Mei dengan menggunakan bom.

Sembilan orang dari 29 orang yang ditangkap pada bulan Mei tersebut adalah anggota aktif JAD dan pernah berangkat ke Suriah.

Salah satu terduga teroris yang ditangkap adalah Bondan yang merupakan pemimpin JAD Bekasi.

Bondan merencanakan penyerangan terhadap demonstran dan polisi ketika demo 21—22 Mei di KPU dan Bawaslu. Namun, sebelum melakukan aksinya, Bondan terlebih dahulu diciduk Densus.

Baca juga: Polri membeberkan peta jaringan ISIS di Indonesia

Berikutnya, Densus 88 menangkap Novendri pada tanggal 8 Juli 2019 yang juga mempunyai hubungan dengan Bondan.

Novendri berperan sebagai penghubung simpul JAD. Novendri bisa menghubungkan simpul JAD Lampung, Sibolga, dan Bekasi, termasuk kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora dan JAD di luar negeri, termasuk Filipina dan Malaysia.

Novendri juga berencana menyerang polisi pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2019.

Menurut Polri, Novendri dikendalikan oleh seseorang bernama Saefulah alias Daniel alias Chaniago yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga Perpustakaan Ponpes Ibnu Mas'ud.

Saefulah memiliki simpul jaringan dari Afganistan, Filipina, dan Indonesia. Ia diyakini berada di Khurasan, wilayah perbatasan Afganistan dan Iran.

Saefulah sudah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang oleh Densus 88 karena diduga memberikan uang kepada Novendri untuk disalurkan kepada kelompok-kelompok teroris di Indonesia.

Densus 88 menangkap kembali teroris di penghujung tahun. Ada delapan teroris yang diamankan. Awalnya teroris berinisial KWN ditangkap pada tanggal 6 Desember 2019.

Tujuh lainnya ditangkap pada tanggal 7 Desember 2019. Mereka anggota kelompok JAD jaringan Lampung dan Medan. Yang unik adalah para teroris ini ditangkap di wilayah Papua.

Baca juga: Enam warga NTB ditangkap Densus 88 diduga terafiliasi jaringan JAD

Baca juga: Polri: Teroris JAD jadikan Papua daerah perluasan perjuangan

Baca juga: Kapolda NTB: Situasi kondusif pasca penangkapan enam terduga teroris


Mereka berada di sana karena terdesak di berbagai daerah. Namun, mereka tidak berencana akan melakukan aksi teror di Papua.

Secara keseluruhan selama tahun 2019, sebanyak 297 orang telah ditangkap terkait dengan tindak pidana terorisme atau turun 24,8 persen dari data pada tahun 2018.

Sementara itu, jumlah aksi teror juga berkurang dari 19 aksi pada tahun 2018 menjadi sembilan aksi pada tahun 2019 atau turun 52,6 persen.

Dari sisi korban dari personel Polri, pada tahun 2019 sebanyak 12 orang yang menjadi korban teror dengan perincian satu orang meninggal dunia dan 11 orang luka.

Dari 297 teroris yang telah ditangkap, sebanyak 202 orang kasusnya masih dalam tahap penyidikan, 81 orang sedang disidangkan, tiga orang sudah divonis, dan 11 orang meninggal dunia.

"Sepanjang tahun 2019, jumlah aksi teror menurun turun 52,6 persen dari data pada tahun 2018 berkat pencegahan Polri bersama masyarakat," kata Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis dalam acara Rilis Akhir Tahun, Sabtu (28/12).

Baca juga: Terduga teroris Cirebon tertutup dari warga

Meskipun tidak ada aksi teror yang memakan banyak korban jiwa pada tahun 2019, banyaknya teroris yang ditangkap menandakan bahwa para teroris masih memiliki organisasi yang kuat di Indonesia.

Masyarakat berharap agar jajaran Polri selalu waspada terhadap gerakan para teroris ini serta meminta pemerintah agar melakukan upaya-upaya untuk mencegah menyebarnya paham radikalisme di tengah masyarakat.

Oleh Anita Permata Dewi
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

LPSK salurkan Rp2,1 miliar bagi korban terorisme Poso & Surabaya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar