UI: Anak dan perempuan rentan jadi korban saat terjadi bencana

UI: Anak dan perempuan rentan jadi korban saat terjadi bencana

Ketua Program Studi Kajian Wilayah Eropa Universitas Indonesia Dr Polit Sc Henny Saptatia DN SS MA menyerahkan perangkat peringatan dini bencana pada Perguruan Al Khairiyah di Jakarta, Senin(30/12/2019). ANTARA/ Indriani

Dalam pengamatan Program Magister Studi Kajian Wilayah Eropa (PS KWE) ditemukan bahwa umumnya kegiatan mitigasi bencana yang sering dipraktekkan adalah bencana gempa bumi.
Jakarta (ANTARA) - Ketua Program Studi Kajian Wilayah Eropa Universitas Indonesia Dr Polit Sc Henny Saptatia DN SS MA mengatakan anak dan perempuan rentan menjadi korban bencana, untuk itu perlu diberikan edukasi mitigasi bencana sejak dini.

"Di Aceh pada bencana  tsunami 2004 yang paling banyak menjadi korban adalah anak-anak dan perempuan, karena mereka tidak tahu bencana sudah datang tapi anak-anak masih bermain. Sementara, bapak-bapak bisa langsung menyelamatkan diri dengan naik sepeda motor ke tempat yang lebih tinggi, " ujar Henny pada penyerahan perangkat peringatan dini bencana di Perguruan Al Khairiyah di Jakarta, Senin.

Henny menjelaskan pihaknya menemukan langkah- langkah yang perlu diperhatikan baik oleh warga dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana, yaitu dengan pembentukan kampung-kampung dan sekolah-sekolah yangmemiliki kesiagaan yang tinggi terhadap bencana, dengan cara selalu waspada dan bereaksi cepat setelah mengetahui dan merasakan tanda kebencanaan, atau tanda peringatan bencana.
Baca juga: Bahan ajar kesiapsiagaan bencana tsunami diuji coba di PAUD
Baca juga: Presiden menyempatkan bermain bersama anak korban tsunami

"Dalam pengamatan Program Magister Studi Kajian Wilayah Eropa (PS KWE) ditemukan bahwa umumnya kegiatan mitigasi bencana yang sering dipraktekkan adalah bencana gempa bumi."

Selain dilakukan melalui simulasi-simulasi, sosialisasi juga dilakukan melalui pembuatan materi audio visual. Namun pihaknya melihat bahwa ada yang lebih penting yakni kesadaran sedang terjadinya bencana yang ditandai dengan membunyikan tanda peringatan bencana.

"Kewaspadaan dan reaksi cepat terhadap bunyi peringatan bencana inilah yang sangat penting diperkenalkan dan disimulasikan kepada warga," terangnya.
Baca juga: Kak Seto katakan anak-anak Indonesia harus dididik mitigasi bencana
Baca juga: Jember berikan beasiswa kepada anak-anak korban bencana

Selain diberikan edukasi mengenai mitigasi bencana sejak dini, juga perlu adanya perangkat peringatan dini bencana. Dengan demikian, anak-anak dan perempuan bisa mengetahui bencana yang akan dihadapinya. Dalam kesempatan itu, UI menyerahkan tiga set perangkat peringatan dini bencana berupa sirine tanda bahaya dan lampu tanda bahaya. Tiga set perangkat tersebut diserahkan masing-masing kepada Kelurahan Tegal Parang, Ketua RW 07 Kelurahan Tegal Parang, dan satu set perangkat pada Perguruan Al Khairiyah yang juga berada di Kelurahan Tegal Parang.

Henny menjelaskan wilayah Tegal Parang dipilih dikarenakan di daerah tersebut rentan dengan bencana terutama banjir. Dengan adanya perangkat tersebut, warga bisa mengetahui jika terdapat bencana.

"Sirine ini bisa terdengar hingga jarak satu kilometer. Jadi tidak hanya untuk sekolah ini saja, tetapi juga warga sekitar. Harapannya masyarakat langsung bisa mengetahui peringatan dini terhadap apa yang terjadi di wilayahnya," harap dia.
Baca juga: Pakar: Belum ada perbaikan mitigasi struktural hadapi gempa
Baca juga: BNPB luncurkan program keluarga tangguh bencana di Aceh
 

Pewarta: Indriani
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar