Akademisi: perkuat posyandu guna mendukung pencegahan stunting

Akademisi: perkuat posyandu guna mendukung pencegahan stunting

ilustrasi stunting (HO)

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman dr. Yudhi Wibowo, M.PH mengingatkan pentingnya memperkuat peran posyandu guna mendukung program pencegahan kekerdilan atau stunting.

"Giatkan upaya preventif dengan memaksimalkan peran posyandu dalam deteksi dini tumbuh kembang anak," katanya di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Baca juga: 260 kabupaten/kota jadi daerah prioritas penanganan stunting

Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman tersebut mengatakan posyandu dapat menjadi wahana pertama dan utama untuk meningkatkan edukasi pencegahan kekerdilan.

"Posyandu bisa menjadi sarana yang tepat untuk menyukseskan program pencegahan stunting dengan mengintensifkan pendekatan kepada masyarakat," katanya.

Baca juga: BATAN ikut usaha turunkan stunting dengan manfaatkan teknologi nuklir

Dia menambahkan, pemerintah daerah juga perlu meningkatkan sosialisasi mengenai pentingnya memberikan anak gizi seimbang.

"Khususnya anak-anak pada usia emas, perlu diberikan nutrisi yang baik sesuai dengan yang dibutuhkan pada masa pertumbuhan," katanya.

Baca juga: Pemerintah dorong upaya penanggulangan stunting

Dia menambahkan, dengan melakukan berbagai upaya pencegahan stunting maka akan dapat mendukung program SDM unggul.

"Tentu ini akan sesuai dengan program prioritas pemerintah yaitu menciptakan SDM unggul," katanya.

Baca juga: Pencegahan "stunting" bisa lewat perencanaan keluarga, sebut BKKBN

Sebelumnya, Dokter Spesialis Anak dr. Agus Fitrianto, Sp.A mengatakan masalah kekerdilan atau stunting dapat menyebabkan perkembangan otak anak menjadi tidak maksimal.

"Stunting adalah indikator kekurangan energi dan protein dalam waktu lama atau malnutrisi kronik," katanya.

Baca juga: Alat deteksi "stunting" untuk balita dikembangkan UI

Dr. Agus Fitrianto, Sp.A yang praktik di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Kabupaten Banyumas, mengatakan stunting paling umum terjadi dalam rentang usia 0 hingga 2 tahun.

"Padahal rentang usia tersebut adalah periode penting di mana otak sedang berkembang secara pesat sehingga kalau anak stunting dipastikan perkembangan otaknya juga tidak maksimal. Sehingga anak harus sembuh dari stunting," katanya.

Dia mengatakan dirinya mengapresiasi program pemerintah yang tengah fokus untuk menciptakan SDM unggul.

"Untuk menciptakan SDM unggul dan berdaya saing berarti harus mengatasi masalah stunting atau kekerdilan," katanya.

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mensos: e-Warong efektif tekan angka kemiskinan & stunting

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar