BI: Konsumsi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Lampung

BI: Konsumsi domestik masih menjadi penopang utama ekonomi Lampung

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Budiharto Setyawan. ANTARA/Agus Wira Sukarta/am.

masih berlangsungnya beberapa proyek strategis nasional di Lampung serta beberapa rencana pembangunan proyek daerah dapat menjadi penopang ekonomi Lampung pada 2020.
Bandarlampung (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung mengatakan konsumsi domestik diperkirakan masih akan menjadi penopang utama ekonomi Lampung pada 2020.

"Perkiraan peningkatan disposible income yang diindikasikan dengan kenaikan UMP (Upah Minimum Provinsi) Lampung sebesar 8,51 persen (year on year), pelaksanaan pilkada di delapan kabupaten dan kota akan menjadi pendorong peningkatan konsumsi domestik," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Lampung, di Bandarlampung, Kamis.

Namun demikian, lanjutnya, kemungkinan tidak adanya kenaikan gaji pokok PNS (Pegawai Negeri Sipil) tahun 2020 dan juga kenaikan beberapa tarif kebutuhan dasar dapat menjadi faktor yang menahan pertumbuhan konsumsi lebih tinggi di tahun depan.


Menurut dia, masih berlangsungnya beberapa proyek strategis nasional di Lampung serta beberapa rencana pembangunan proyek daerah dapat menjadi penopang ekonomi Lampung pada 2020.

Baca juga: Pemerintah perlu genjot investasi jangan bergantung konsumsi domestik

Meskipun, lanjut dia, nilai realisasi investasi diperkirakan akan menurun dibandingkan tahun 2018 dan 2019 seiring dengan telah selesainya pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Selain itu, kebijakan B30 yang digulirkan pemerintah hingga akhir 2020 menjadi B50 juga menjadi faktor yang dapat mendorong pertumbuhan industri pengolahan Lampung untuk tumbuh lebih baik di 2020.

Ia menyebutkan, pertumbuhan volume ekonomi dunia di 2020 diasumsikan relatif membaik dengan potensi bias ke bawah akibat masih berlangsungnya potensi perlambatan ekonomi pada negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok dan Jepang.

"Meski harga komoditas dunia seperti kopi, kelapa sawit, karet dan lada diperkirakan mengalami sedikit perbaikan di 2020, levelnya masih diproyeksikan rendah," jelasnya.

Selain itu, 2020 diprediksi industri otomotif masih akan mengalami kontraksi karena standar emisi baru yang diterapkan oleh negara di kawasan Uni Eropa.

Baca juga: BI prediksi ekonomi Lampung tumbuh 5,3 persen tahun 2020

Di lain sisi, sektor jasa justru mampu mempertahankan pertumbuhan sementara sektor manufaktur dan perdagangan masih cenderung lemah.

Budi menjelaskan, menghadapi perlambatan dan ketidakpastian global serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung semakin tinggi, hilirisasi dan juga penciptaan sumber pertumbuhan baru perlu terus dilakukan.


Hilirisasi produk unggulan Lampung seperti kopi robusta, CPO, karet, lada, nanas, komoditas perikanan serta berbagai komoditas unggulan Lampung perlu terus dipacu dan diintegrasikan dengan kawasan industri untuk meningkatkan nilai tambahnya.

"Dukungan infrastruktur strategis seperti jalan tol, fly over, bandara yang telah berstatus internasional, pelabuhan eksekutif serta pelabuhan ekspor berstandar internasional yang telah dimiliki Lampung dapat menjadi kekuatan utama dalam melakukan hilirisasi," jelasnya.
Baca juga: Jokowi apresiasi pertumbuhan ekonomi stabil berkat doa ulama

Pewarta: Agus Wira Sukarta
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar