BMKG: Banjir bandang Sangihe akibat angin belok

BMKG: Banjir bandang Sangihe akibat angin belok

Personel Polisi, TNI, pihak terkait dan komponen masyarakat lainnya dalam membantu warga korban banjir bandang dan tanah longsor di Kampung Lebo Kecamatan Manganitu, Sangihe. (HumasPolda Sulut) (1)

Manado (ANTARA) - Kepala Seksi Observasi dan Informasi, Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado Carisz Kainama menyebutkan banjir bandang di Kampung Lebo, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, disebabkan daerah belokan angin (shearline) akibat massa udara yang kuat dari arah Timur Laut berbelok tepat di atas wilayah Sulawesi Utara (Sulut).

Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan awan konvektif di sebagian besar wilayah Sulut dan mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang dengan durasi yang cukup lama di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud dan Kepulauan Sitaro.

Selanjutnya dalam analisis cuaca ekstrem yang menyebabkan terjadinya banjir bandang di lokasi tersebut dari pantauan citra satelit, kondisi cuaca sore hingga malam hari khususnya di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe masih berpotensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

Baca juga: Satu korban banjir bandang di Sangihe ditemukan meninggal

Baca juga: Banjir bandang mengakibatkan satu orang meninggal di Sangihe

Baca juga: Tanggap darurat bencana Sangihe sampai 25 Juli


Sementara untuk wilayah lainnya di Sulut berpotensi hujan ringan hingga sedang dikarenakan puncak musim hujan wilayah Sulawesi Utara terjadi di bulan Januari.

Selain itu, berdasarkan prospek cuaca ekstrem tiga hari ke depan serta hasil prakiraan cuaca harian di Stasiun Meteorologi Klas II Sam Ratulangi Manado menunjukkan adanya potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang terutama pada pagi, siang, sore, malam, dan dini hari.

"Kami tetap berharap warga waspada," kata Carisz.

Dia menyebutkan, berdasarkan analisis meteorologi, pola angin pada 3.000 kaki tanggal 3 Januari 2020 jam 00.00 UTC (08.00 WITA) menunjukkan bahwa terdapat tekanan rendah (1009 hPa) di Samudera Hindia sebelah Selatan Pulau Jawa, dan terdapat sirkulasi Eddy (Eddy circulation) di wilayah Laut Sulawesi dan Laut Banda.

Adanya gangguan cuaca tersebut menyebabkan terbentuknya daerah belokan angin (shearline) sepanjang wilayah Sulawesi Utara yang menyebabkan pertumbuhan awan konvektif di sebagian besar wilayah Sulawesi Utara.

Hal ini mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang dengan durasi yang cukup lama.

Sebagaimana informasi dari BPBD Provinsi Sulut, hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat/petir terjadi di Kampung Lebo, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tanggal 3 Januari 2020, pukul 06.00 Wita.

Dampaknya, terjadi banjir bandang yang melanda wilayah tersebut dan menyebabkan korban jiwa.*

Baca juga: Kerugian pascabencana longsor di Sangihe Rp57,09 miliar

Baca juga: Korban meninggal longsor Sangihe bertambah dua orang

Pewarta: Karel Alexander Polakitan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar