BMKG: Tekanan udara di China pengaruhi curah hujan tinggi Jabodetabek

BMKG: Tekanan udara di China pengaruhi curah hujan tinggi Jabodetabek

Relawan Rumah Zakat membantu mengevakuasi warga terdampak banjir di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (3/1/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan munculnya seruak dingin (cold surge) atau penjalaran massa udara dingin yang menyebabkan perbedaan tekanan udara yang ada di Cina atau Tibet dengan Hongkong berpengaruh pada prakiraan meningkatnya intensitas curah hujan tinggi di Jakarta dan sekitarnya pada 5 Januari sampai 10 Januari 2020.

"Bagaimana dengan prospek ke depan tanggal 5 Januari 2020 sampai 10 Januari 2020? Curah hujan bisa intensitas tinggi karena sekitar tanggal 20-an Desember 2019 kami melihat ada gejala masuknya cold surge yaitu seruak atau terobosan udara dingin yang masuk lewat Laut Cina Selatan, pengaruh dari perbedaan tekanan udara yang ada di Cina atau Tibet dengan Hongkong, bayangkan ada di China, Tibet, Hongkong pengaruhnya sampai Jabotabek, ini bagaimana global climate itu seperti itu," kata Dwikorita dalam acara peluncuran operasi Teknologi Modifikasi Cuaca untuk mereduksi curah hujan sebagai penanggulangan banjir Jabodetabek di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat.

Pada 5 Januari sampai 10 Januari 2020, intensitas curah hujan tinggi diprakirakan juga dipengaruhi fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) di mana aliran udara basah berjalan berarak-arakan dari Samudera Hindia dimulai dari timur Afrika ke sepanjang ekuator dan melewati Sumatera Barat, Pantai Barat Sumatera menuju ke Samudra Pasifik. Dengan kondisi ini, maka hujan lebat sampai ekstrem diprakirakan terjadi dengan intensitas bisa lebih dari 150 mm.

Hujan lebat hingga ekstrem berpotensi terjadi di wilayah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung,Jabodetabek, DIY, Jawa Barat dan Jawa Timur.

"Dari Samudera Hindia ke Samudra Pasifik tetapi jalurnya melewati Kepulauan Indonesia masuknya lewat Sumatera Barat bagian barat masuk menuju ke Kalimantan nyenggol ke Jawa, Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung. Jadi, pada tanggal 5 Januari-10 Januari 2020 curah hujan intensitasnya diperkirakan meningkat lagi," ujarnya.

Untuk prakiraan curah hujan tanggal 5 Januari sampai 10 Januari 2020, biasanya hujan mulai meningkat menjelang malam hari sampai dini hari.

"Jadi kalau pagi siang itu kita masih bisa tarik nafas lah beristirahat tapi kalau sudah menjelang gelap itu biasanya intensitasnya mulai meningkat jadi untuk wilayah tadi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, kemudian sampai Jabodetabek, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, itu juga potensi," tuturnya.

Kemudian, setelah tanggal 11 Januari sampai 15 Januari 2050, aliran udara basah itu diprakirakan bergerak melalui Kalimantan Barat ke arah timur melewati Kalimantan bagian Selatan, Kalimantan bagian timur, akhirnya mampir di Sulawesi Selatan dan di Sulawesi Tenggara. Dengan demikian, curah hujan dengan intensitas tinggi diprakirakan terjadi di zona-zona itu. ***3***
Baca juga: Empat penyebab cuaca ekstrem dan banjir awal tahun
Baca juga: Sampah di kabel optik bawah tanah penyebab genangan Green Garden
Baca juga: Anies kembali ingatkan kiriman air dari hulu penyebab banjir Jakarta

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Absen RDP soal banjir, tiga gubernur ditegur Komisi V DPR

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar