Kemenkeu pantau pergerakan harga minyak usai ketegangan Iran-AS

Kemenkeu pantau pergerakan harga minyak usai ketegangan Iran-AS

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) didampingi Wakil Menteri Suahasil Nazara (kiri) memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir November di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (19/12/2019). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/pras

Terjadi peningkatan eskalasi tensi di Timur Tengah dan pengaruhnya cepat ke pergerakan harga minyak, tentu kita memperhatikan ini terus
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia seiring dengan adanya peningkatan ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat.

"Terjadi peningkatan eskalasi tensi di Timur Tengah dan pengaruhnya cepat ke pergerakan harga minyak, tentu kita memperhatikan ini terus," kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Minyak naik dipicu ketegangan di Timur Tengah, Brent sentuh 70 dolar

Suahasil menjelaskan pantauan harga minyak dunia ini penting karena harga minyak merupakan salah satu variabel penting dalam pengelolaan APBN yang mampu mempengaruhi penerimaan maupun belanja pemerintah.

Namun, menurut dia, pelaksanaan kinerja APBN tersebut tidak hanya memperhatikan satu asumsi makro saja, tetapi juga instrumen lainnya seperti nilai tukar dan lifting minyak.

"Pengaruhnya ke APBN tidak hanya harga minyak tapi juga nilai tukar dan lifting minyak. Ini yang akan kita update setiap bulan," kata Suahasil.

Oleh karena itu, potensi harga minyak dunia yang meningkat dalam waktu dekat bukan merupakan hal yang mengkhawatirkan mengingat implementasi APBN 2020 baru berjalan dalam beberapa hari.

"Perkiraan kita harga minyak di APBN 2020 sebesar 63 dolar AS per barel. Kita lihat saja, karena Januari ini baru berjalan tujuh hari," kata Suahasil.

Dalam kesempatan ini, Kemenkeu ikut mencatat pencapaian sepanjang tahun asumsi ekonomi makro yang ditetapkan dalam APBN 2019 antara lain pertumbuhan ekonomi 5,05 persen atau lebih rendah dari target 5,3 persen.

Laju inflasi 2,72 persen atau lebih rendah dari asumsi 3,5 persen, tingkat bunga SPN 3 bulan 5,6 persen atau lebih tinggi dari asumsi 5,3 persen dan nilai tukar Rp14.146 per dolar AS atau lebih rendah dari asumsi Rp15.000 per dolar AS.

Kemudian, harga minyak mentah Indonesia 62 dolar AS per barel atau lebih rendah dari asumsi 70 dolar AS per barel, lifting minyak 741 ribu barel per hari atau lebih rendah dari asumsi 775 ribu barel per hari dan lifting gas 1.050 ribu barel setara minyak per hari atau lebih rendah dari asumsi 1.250 ribu barel setara minyak per hari.

Baca juga: Sofjan Wanandi khawatirkan dampak situasi Iran-AS bagi Indonesia
Baca juga: Harga minyak melonjak dipicu meningkatnya ketegangan AS-Iran

Pewarta: Satyagraha
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Wamenkeu sebut UMKM tangguh dalam menghadapi krisis akibat pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar