Kemenkes selidiki kemungkinan kasus pneumonia berat di Indonesia

Kemenkes selidiki kemungkinan kasus pneumonia berat di Indonesia

Foto Arsip. Bayi Penderita Pneumonia Akibat Asap Bayi dari pasangan Heri dan Rani, M Septiawan Gunawan terbaring di tempat tidur saat menjalani perawatan penyakit Infeksi Paru-Paru di ruang anak Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi) Pontianak, Kalbar, Senin (14/9). Orangtua M Septiawan Gunawan menyatakan bahwa anaknya mengalami infeksi paru-paru atau Pneumonia setelah dua kali terserang ISPA akibat menghirup kabut asap pekat yang melanda Kota Pontianak sejak tiga bulan terakhir. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/aww/15.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan berupaya untuk menyelidiki dan meneliti kemungkinan adanya kasus baru pnemuonia berat di seluruh rumah sakit dan segera melakukan penanggulangan dan investigasi atas penyakit baru tersebut.

Berdasarkan siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono mengatakan pihaknya telah memberikan menugaskan kepada seluruh jajaran fasilitas kesehatan di Indonesia untuk melakukan antisipasi.

Kemenkes memerintahkan rumah sakit untuk melakukan deteksi, pencegahan, dan respon cepat jika ditemukan pasien dengan gejala pneumonia berat seperti di Wuhan, China.

Baca juga: Kemenkes: Masyarakat tidak perlu panik kasus pneumonia berat di China

Jika ditemukan pasien kasus pneumonia berat seperti di Wuhan akan dilakukan perawatan, pengobatan, isolasi, serta melakukan investigasi dan penanggulangan untuk mencegah penyebaran penyakit meluas dan berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah.

Kemenkes juga memerintahkan seluruh jajaran kesehatan untuk melakukan deteksi, pencegahan dan respon terhadap kemungkinan masuknya pasien pneumonia berat dari luar negeri, termasuk dari China, ke Indonesia melalui bandar udara, pelabuhan laut dan pos lintas batas negara yang mencakup langkah aktivasi alat pemindai suhu tubuh.

Kemenkes terus memantau kemungkinan ditemukannya virus atau mikroorganisme baru dari hasil pemeriksaan laboratorium pasien pneumonia berat, dan memantau perkembangan penyakit tersebut yang belum diketahui penyebabnya di dunia agar dapat segera dilakukan langkah yang diperlukan di Indonesia.

Baca juga: Pneumonia bunuh satu anak per 39 detik

Sejak akhir Desember 2019 hingga saat ini dikabarkan telah ditemukan pasien-pasien pneumonia atau radang paru-paru berat yang belum diketahui penyebabnya di Kota Wuhan, China. Jumlah pasien yang awalnya hanya 27 orang kini telah meningkat menjadi 44 orang.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa penyakit ini bukan disebabkan virus influenza dan bukan penyakit pernafasan biasa. Penelitian lebih lanjut juga tengah dilakukan apakah mengenai kemungkinan kesamaan penyakit tersebut dengan penyakit Severe Acute Respiratory Infection (SARS) yang disebabkan Coronavirus dan pernah mewabah di dunia pada tahun 2003.

Semua pasien di Wuhan telah mendapatkan pelayanan kesehatan, diisolasi, dan dilakukan penelusuran atau investigasi untuk mengetahui penyebab terjadinya penyakit. Hasil investigasi sementara menyebutkan sebagian dari pasien-pasien tersebut bekerja di pasar ikan yang juga menjual berbagai jenis hewan lainnya termasuk burung.

Hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa penyakit ini dapat menular dari manusia ke manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) masih melakukan pengamatan dengan cermat terkait kejadian di Wuhan tersebut.

Baca juga: Imunisasi upaya preventif tekan radang paru-paru balita, sebut pakar
Baca juga: Menguak fenomena pneumonia balita Jakarta

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar