Bursa saham Korea jatuh karena kekhawatiran ketegangan Timur Tengah

Bursa saham Korea jatuh karena kekhawatiran ketegangan Timur Tengah

Bursa Saham Seoul, Korea Selatan. (kospi)

Sebagian besar saham-saham berkapitalisasi besar jatuh
Seoul (ANTARA) - Saham-saham di Korea Selatan turun lebih dari 1 persen pada penutupan perdagangan hari Rabu (8/1) karena kekhawatiran atas ketegangan di Timur Tengah menyusul laporan bahwa Iran menembakkan beberapa rudal ke pangkalan udara AS di Irak.

Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) jatuh 24,23 poin atau 1,11 persen menjadi menetap pada 2.151,31 poin.

Volume perdagangan mencapai 900 juta lembar saham senilai 8,6 triliun won atau setara 7,3 miliar dolar AS.

Serangan rudal Iran memicu kekhawatiran eskalasi yang lebih serius di Timur Tengah, setelah serangan udara AS menewaskan Komandan Pasukan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran, Qassem Soleimani, pada Jumat lalu (3/1).

Saat itu drone militer AS menyerang konvoi di Bandara Internasional Baghdad yang menewaskan Soleimani sehingga memicu kemarahan dan ancaman balas dendam dari Iran.

Investor institusi dan individu menjual saham, ketika investor asing justru menjadi "net buyers" di pasar saham lokal.

Sebagian besar saham-saham berkapitalisasi besar jatuh. Saham mesin pencari yang paling banyak digunakan, Naver, mundur 2,1 persen, dan produsen mobil terkemuka Hyundai Motor merosot 3 persen. Saham pembuat suku cadang mobil terbesar, Hyundai Mobis anjlok 3 persen, dan perusahaan kimia terkemuka LG Chem tergelincir 2,9 persen.

Namun pemimpin pasar Samsung Electronics sahamnya naik 1,8 persen setelah mengumumkan angka awal untuk pendapatan kuartal keempat yang mengalahkan ekspektasi pasar.

Saham raksasa chip memori SK Hynix melonjak 3,6 persen di tengah harapan untuk rebound di industri chip global tahun ini.

Sementara itu mata uang Korea melemah terhadap dolar karena meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Mata uang Korea Selatan berakhir pada 1.170,8 won terhadap greenback, turun 4,4 won dari penutupan sebelumnya.
 

Penerjemah: Risbiani Fardaniah
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar