Jakarta perlu perbanyak kawasan resapan untuk tanggulangi banjir

Jakarta perlu perbanyak kawasan resapan untuk tanggulangi banjir

Pekerja mengeruk lumpur Sungai Sunter, Jakarta, Rabu (11/11) sebagai salah satu upaya mengantisipasi banjir di Ibu Kota. ANTARA/Wahyu Putro A

naturalisasi itu pada dasarnya memperluas kawasan resapan
Jakarta (ANTARA) - Peneliti senior Southeast Asian Region Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) Dr. Ir. Supriyanto mengatakan Jakarta perlu memperbanyak kawasan resapan untuk menanggulangi banjir.

"Kawasan resapan ini penting sekali," kata mantan ketua gerakan penghijauan peduli banjir Jakarta tahun 2003-2009 itu melalui sambungan telepon kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Ia menyebutkan bahwa penyebab banjir di Jakarta, terutama pada awal Tahun Baru, dipengaruhi oleh curah hujan dan minimnya daerah resapan.

"Curah hujan yang kemarin itu, Bogor itu hujannya kecil sebenarnya. Katulampa saja baru siaga 3. Tapi Jakarta sudah mulai banjir karena intensitas curah hujannya yang tinggi sampai mencapai 377 milimeter per hari. Itu luar biasa ketinggiannya," katanya.

Baca juga: Jakarta diprediksi bebas genangan dengan 1,8 juta sumur resapan
Baca juga: Muka air tanah tinggi jadi kendala pembuatan sumur resapan di Jakbar
Baca juga: Menteri LHK: normalisasi situ perlu kerja bersama semua pihak


Kemudian terkait daerah resapan, ia mengakui bahwa sejak zaman penjajahan Belanda Jakarta sudah dilanda banjir. Namun, saat itu Jakarta masih memiliki banyak rawa sehingga sebagian besar air hujan masuk ke daerah rawa.

Namun, saat ini sebagian besar rawa-rawa tersebut sudah diurug dan menjadi perumahan. Oleh karena itu air hujan banyak mengalir ke jalan raya.

Kemudian, ia juga menekankan bahwa pemerintah daerah perlu memerhatikan koefisien bangunan terhadap lahan.

Ia menyebutkan luas bangunan di Jakarta saat ini, terutama di bagian utara, mencapai 80 persen dibandingkan dengan 20 persen total kawasan resapan.

"Kalau semakin ke selatan semakin tinggi (kawasan resapannya). Ke Depok itu bangunannya lebih sedikit. Jadi masih banyak lahan-lahan penyerapan," katanya.

Baca juga: Normalisasi atau naturalisasi, tak perlu diperdebatkan
Baca juga: Pemkot Jakpus siapkan dua strategi antisipasi banjir

Baca juga: Pemerintah segera normalisasi Situ Pladen Depok

Oleh karena itu, ia menilai bahwa upaya naturalisasi yang direncanakan Gubernur DKI untuk mengatasi banjir Jakarta merupakan gagasan yang cukup baik.

"Karena naturalisasi itu pada dasarnya memperluas kawasan resapan, supaya air masuk ke bumi. Untuk siapa? Untuk orang-orang Jakarta yang perlu sumur," katanya.

"Karena itu harus dibuat sumur resapan sebanyak-banyaknya. Terus danau yang ada dihidupkan semuanya," katanya lebih lanjut.

Ia mengatakan setu atau danau di Jakarta saat ini sudah banyak berkurang. Karena itu kapasitas setu-setu yang tersisa untuk menyerap air akibat hujan deras juga semakin berkurang.

"Setu di Jakarta dulu ada 284. Sekarang tinggal 108 karena diurug jadi perumahan," katanya.

Oleh karena itu, pemerintah Jakarta perlu benar-benar serius mengoptimalkan fungsi danau guna meminimalkan dampak akibat hujan lebat.

Ia juga menyarankan pemerintah DKI untuk membuat aturan agar setiap rumah menyediakan sumur resapan.

Baca juga: Peneliti: Normalisasi sungai butuh relokasi yang tidak merugikan
Baca juga: Presiden perintahkan Gubernur DKI Jakarta selesaikan sodetan Ciliwung

Baca juga: Jakarta sumbang alat berat untuk normalisasi situ Bogor

Pewarta: Katriana
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Banjir masih genangi Kebon Pala-Jatinegara hingga malam hari

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar