Kemristek inginkan bahan alam Indonesia gantikan bahan baku obat kimia

Kemristek inginkan bahan alam Indonesia gantikan bahan baku obat kimia

Menteri Roset dan Teknologi (Menristek) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro (kanan) dan Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Group Raymond Tjandrawinata (kiri) dalam konferensi pers terkait kunjungan ke Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences Dexa Group, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (8/1/2020). ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak

kekayaan hayati harus bermanfaat untuk sesuatu salah satunya itu adalah untuk bahan obat
Jawa Barat (ANTARA) - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional menginginkan agar industri farmasi meneliti dan mengembangkan bahan baku obat dari alam Indonesia untuk menggantikan atau mensubtitusi bahan baku berbasis kimia dan bahan baku impor.

"Yang kita ingin dorong adalah substitusi bahan baku yang tadinya dari luar negeri atau berbasis kimia menjadi bahan baku obat yang berbasis kepada tanaman ataupun flora dan fauna Indonesia yang sangat kaya," kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dalam konferensi pers terkait kunjungan ke Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences Dexa Group, Bekasi, Jawa Barat, Rabu.

Menristek ingin kekayaan biodiversitas Indonesia sebagai sumber kekuatan ekonomi bangsa, salah satunya dikembangkan sebagai bahan obat-obatan.

"Kekayaan hayati harus bermanfaat untuk sesuatu salah satunya itu adalah untuk bahan obat atau untuk mendukung upaya program kesehatan di Indonesia," katanya.

Baca juga: Industri farmasi kenalkan obat herbal asli Indonesia di TEI 2019
Baca juga: BPPT kembangkan enzim dan obat herbal bersama Zhejiang University


Menristek Bambang menginginkan obat dengan khasiat yang sama tetapi dengan bahan yang asli dari biodiversitas Indonesia.

Menristek mengungkap, saat ini 95 persen bahan baku obat dalam negeri berasal dari impor, padahal Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tergolong dua terbesar dunia yang memiliki potensi bahan baku obat alami yang melimpah.

Bambang menuturkan bisnis farmasi atau bisnis obat memang tidak mudah karena saat ini dalam negeri masih sangat didominasi dengan produk impor, kemudian regulasinya sangat ketat karena menyangkut nyawa manusia sehingga harus melalui proses yang panjang sebelum mendapatkan izin untuk peredaran obat.

Di sini, pemerintah Indonesia mendukung pengembangan industri farmasi melalui kebijakan pengurangan pajak atau tax deduction, sehingga industri bisa mengalirkan dananya lebih banyak ke penelitian dan pengembangan.

Baca juga: Obat atasi gangguan lambung berbahan kayu manis peroleh Fitofarmaka
Baca juga: Manfaat kunyit untuk menurunkan kadar lemak tubuh


Kementerian Riset dan Teknologi mengapresiasi Dexa Group sebagai perusahaan swasta nasional Indonesia yang sudah berinvestasi dan mempunyai komitmen yang tinggi dalam melakukan kegiatan riset dan pengembangan yang berkaitan dengan produk obat atau farmasi.

Bambang berharap perusahaan-perusahaan dalam negeri bisa menjadikan penelitian dan pengembangan sebagai tulang punggung dalam menjalankan bisnis seperti yang dilakukan Dexa Group.

Menristek Bambang menginginkan agar industri farmasi mampu menghasilkan obat untuk penyakit yang menyebabkan tingkat kematian paling besar di Indonesia.

Baca juga: Jalan pembuktian khasiat anti-kanker bajakah masih panjang
Baca juga: Peneliti LIPI: Indonesia sumber potensial penemuan obat baru

Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dexa Group Raymond Tjandrawinata mengatakan pihaknya telah menghasilkan 18 produk berizin edar Fitofarmaka atau obat herbal yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dari 26 produk berizin edar Fitofarmaka di Indonesia.

DLBS sebagai organisasi riset bahan alam hingga saat ini telah meneliti dan memproduksi bahan baku aktif obat herbal. Upaya ini sebagai langkah mendorong kemandirian bahan baku obat nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia karena memberdayakan para petani hingga ke distributor.

DLBS telah menghasilkan obat modern asli Indonesia (OMAI) di antaranya Inlacin yakni produk obat diabetes Fitofarmaka berbahan baku bungur dan kayu manis yang telah diekspor ke Kamboja dan Filipina; Redacid berbahan baku kayu manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung.

Kemudian, Inbumin berbahan baku ikan gabus yang bermanfaat untuk membantu proses penyembuhan luka, dan Disolf berbahan baku cacing tanah yang bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah, serta rangkaian Herba Family seperti HerbaKOF untuk obat batuk, HerbaCOLD untuk flu dan HerbaPAIN untuk sakit kepala dan nyeri otot.

Baca juga: Tren obat hewan berbahan herbal tekan penggunaan antibiotikBaca juga: Pemerintah dukung pengembangan riset obat herbal

 
 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kemenristek-BRIN kelola dana riset perguruan tinggi Rp1,463 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar