Artikel

Primata hadapi ancaman kehilangan habitat

Oleh Martha Herlinawati S

Primata hadapi ancaman kehilangan habitat

Pakar Biologi konservasi dari Universitas Indonesia Prof Jatna Supriatna yang juga Direktur Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia berbicara kepada wartawan usai presentasi di simposium Indonesia Primate Conservation and Climate Change yang diselenggarakan Universitas Nasional di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (09/01/2020). ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak/am.

Kekhawatiran saya sebagai ahli serangga adalah bagaimana kelangsungan konservasi ke depannya, khususnya produksi buah-buahan di hutan yang diperlukan satwa liar
Jakarta (ANTARA) - Primata seperti orang utan menghadapi ancaman kehilangan habitat akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia yang merusak lingkungan, seperti kebakaran hutan, pengelolaan hutan yang tidak ramah lingkungan, dan alih fungsi hutan.

"Ancaman terbesar bagi primata ke depan ini adalah 'habitat loss' (kehilangan habitat). 'Habitat loss' disebabkan oleh 'climate change' (perubahan iklim) salah satunya," kata pakar biologi konservasi dari Universitas Indonesia yang juga Direktur Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Indonesia  Prof Jatna Supriatna dalam simposium Indonesia Primate Conservation and Climate Change diselenggarakan Universitas Nasional di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis.

Indonesia saat ini penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keempat di dunia, yang mana emisi ini berkontribusi meningkatkan dampak perubahan iklim.

Penggerak utama emisi adalah efek gabungan dari pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya dengan kontribusi 44 persen dan pembangkit energi 37 persen.

Untuk itu, pembangunan harus dilakukan dengan hati-hati dan ramah lingkungan, serta didukung kajian atau analisis mengenai dampak lingkungan agar tidak mengancam habitat primata.

Kajian yang diperkuat itu bertujuan, antara lain melindungi satwa dan keanekaragaman hayati serta habitat mereka, sehingga pembangunan tidak menjadi ancaman bagi spesies yang dilindungi, seperti berkaca pada polemik pembangunan PLTA Batang Toru yang terjadi dahulu.

Berdasarkan hasil penelitian 2016, tidak lebih dari 800 individu orang utan Tapanuli hidup di tiga populasi terfragmentasi di ekosistem Batang Toru. Hal ini disebabkan tekanan akibat konversi hutan dan perkembangan lainnya.

Saat ini kawasan seluas 150.000 hektare tersebut merupakan habitat terakhir bagi orang utan Tapanuli dengan jumlah individu terpadat, yaitu kurang dari 110.000 hektare.

Baca juga: Pemerintah diminta sediakan habitat alami orangutan

Primata di Indonesia bersifat arboreal atau hidup di pepohonan sehingga hidupnya sangat bergantung dengan pepohonan dan hutan, sama seperti koala di Australia yang juga bersifat arboreal.

Jika kebakaran hutan terjadi atau penebangan hutan sembarangan terjadi maka kelangsungan hidup primata sangat terancam, bahkan bisa mati. Keselamatan primata bisa terganggu akibat asap kebakaran dan hilangnya habitat.

"Kalau ada kebakaran hutan pasti mati dia. Setelah hutan terbakar, makanannya juga tidak ada lagi, daun dan buah tidak ada lagi, jadi hidupnya sangat tergantung pada hutan," ujarnya.

Primata yakni orang utan merupakan spesies kunci atau spesies payung (umbrella species) karena memiliki keistimewaan antara lain jika orang utan hilang maka ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan juga akan hilang karena orang utan membantu regenerasi hutan melalui penyebaran biji-bijian dari sisa makanannya.

Hal ini juga didukung dengan daya jelajah orang utan yang bisa mencapai 100 km selama hidupnya, sehingga dia membantu proses konservasi hutan dengan regenerasi hutan dari biji-bijian yang dia buang sesudah makan.

"Saat ini tendensinya di hampir semua pembangunan di Indonesia, dilakukan kajian dan prediksi yang lebih bagus dan kuat sehingga tidak mengancam sudah memprediksi dulu, kan PLTA Batang Toru orang pembangunannya tidak tahu kalau ada spesies baru, sekarang sudah harus tahu dulu jadi dia sudah prediksi dulu, jauh lebih bagus kalau diprediksi dulu dibandingkan sudah terlanjur," tuturnya.

Prinsip kehati-hatian dalam pembangunan harus diprioritaskan untuk menghindari pembangunan yang merusak lingkungan dan sumber daya alam.

Misalnya, suatu tempat diubah menjadi pabrik minyak sawit padahal tempat itu sebetulnya punya potensial yang sangat besar untuk pariwisata dibandingkan dengan pabrik minyak sawit.

Dari kajian terhadap hutan tropis di Kalimantan dan Sumatera, dapat ditarik pelajaran penting bahwa pertama kurang hati-hati dalam mengelola hutan, kedua ketika perencanaan bagus dan kebijakan kementerian bagus tapi implementasi di lapangan tidak bagus karena masih banyak penebangan hutan secara ilegal dan konversi hutan tanpa izin terjadi, dapat mengancam habitat primata.

Jika mengesampingkan prinsip keberlanjutan alam maka laju pembangunan infrastruktur yang cepat serta alih fungsi lahan dan hutan dapat berdampak buruk pada perubahan iklim dan keberlanjutan habitat primata dan satwa lain serta flora.

Baca juga: Yayasan BOS kembali lepasliarkan orang utan ke habitat

Moratorium hutan yang ditetapkan Presiden Joko Widodo merupakan tindakan bagus untuk melindungi hutan, lahan gambut dan isinya.

"Artinya tidak boleh lagi ada konversi hutan karena hutan itu apalagi di hutan-hutan yang 'peatland', yang menyimpan karbon. Tapi kalau kita buka hutannya jadi karbon akan terlepas dan berdampak bagi perubahan iklim," ujarnya.

Peneliti bidang entomologi dari Museum Zoologi Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rosichon Ubaidillah mengatakan perubahan iklim menjadi perhatian serius dalam dua dasawarsa terakhir di antara komunitas ilmiah.

Berbagai penelitian mengisyaratkan bahwa perubahan iklim berdampak peningkatan fenomena pergeseran biogeografis, ketidakcocokan tanaman berbunga dan penyerbukannya, serta kemungkinan meningkat hingga tingkat kepunahan biodiversitas.

Roshicon mengkhawatirkan perubahan iklim dapat berdampak terhadap terganggunya fase penyerbukan bunga, misalnya oleh serangga dan angin, sehingga menghambat fase pembungaan dan pembuahan.

Penurunan penyerbukan ini akan berdampak pada pengurangan produksi buah-buahan di hutan dan alam yang juga menjadi masalah bagi ketersediaan makanan bagi satwa liar dan kelestarian alam.

Saat ini, dia mengatakan, di Indonesia belum ada riset tentang penurunan jumlah penyerbukan yang memengaruhi produksi buah-buahan di hutan karena buah-buahan terkait dengan makanan yang diperlukan primata dan binatang-binatang lain.

Sementara, beberapa kasus di luar negeri yang sudah dilakukan penelitian menunjukkan bukti adanya dampak perubahan lingkungan terhadap jumlah penyerbuk atau distribusi serangga.

"Kekhawatiran saya sebagai ahli serangga adalah bagaimana kelangsungan konservasi ke depannya, khususnya produksi buah-buahan di hutan yang diperlukan satwa liar," tuturnya.

Di luar negeri, riset tentang efek penyerbukan baru banyak dilakukan terhadap produksi tanaman pertanian, namun belum menyentuh hutan alam yang menjadi habitat berbagai satwa liar dan flora.

Baca juga: Habitat orangutan terancam aktivitas pertambangan

The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) menyebutkan dokumen penting tentang penyerbukan, penyerbuk, dan produksi pangan pertanian.

IPBES mencatat penurunan penyerbuk seperti lebah dan kerabat liarnya disebabkan pertanian industri yang mempromosikan monokultur, organisme yang dimodifikasi secara genetik dan intensifikasi penggunaan pestisida dan pupuk, untuk meningkatkan produksi.

Praktik-praktik ini menyebabkan hilangnya habitat, sumber makanan, dan situs bersarang untuk penyerbuk. Parasit dan perubahan iklim juga memengaruhi jumlah penyerbuk.

Rosichon mengatakan sudah banyak penelitian di Filipina dan Amerika yang menunjukkan krisis penyerbukan berdampak pada penurunan produksi buah-buahan, sedangkan di Indonesia belum banyak riset semacam itu atau riset yang menunjukkan bagaimana produksi buah-buahan di hutan yang menjadi sumber makanan satwa liar terdampak atau tidak dari perubahan iklim yang mengganggu proses penyerbukan.

Penyerbukan oleh serangga bukan hanya meningkatkan produksi buah tapi juga meningkatkan kualitas buah karena sebetulnya kebutuhan tanaman adalah untuk regenerasi.

Oleh karena itu, Rosichon merekomendasikan riset yang mendalam tentang penilaian jumlah dan sebaran spesies yang melakukan penyerbukan di hutan alam Indonesia, untuk mengetahui ada tidaknya spesies penyerbuk yang berstatus krisis terkait dengan keberadaannya, sehingga dapat ditentukan intervensi yang harus dilakukan.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama Universitas Nasional Ernawati Sinaga mengatakan ke depan perlu adanya perhatian dan gerakan yang lebih baik dalam mengelola dan melestarikan ekosistem pendukung guna menghadapi perubahan iklim yang sangat cepat.

Pengembangan restorasi hutan tropis menjadi penting tidak hanya sebagai habitat bagi primata dan spesies lainnya/

Akan tetapi, juga karena peranannya dalam menyerap karbondioksida dan memoderasi dampak perubahan iklim.

Baca juga: Pengamat: PLTA Batang Toru jangan dibenturkan dengan orang utan
Baca juga: Kaltim komitmen laksanakan program hijau berkelanjutan
Baca juga: WWF identifikasi 29 orangutan Taman Nasional Sebangau

Oleh Martha Herlinawati S
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Rere dan Eilaine kembali ke habitat

Komentar