Sektor UMKM diharapkan mampu tampung dua juta pengangguran

Sektor UMKM diharapkan mampu tampung dua juta pengangguran

Perajin membuat kendang untuk instrumen gamelan di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (3/1/2020). Kendang yang dijual Rp450 ribu hingga Rp8 juta tergantung bahan dan ukuran tersebut dipasarkan di Indonesia, Malaysia, Inggris dan Jepang. ANTARA FOTO/Maulana Surya/aww.

Koperasi dan UMKM merupakan sektor ekonomi dengan kekuatan yang bersumber dari rakyat itu sendiri
Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi koperasi Frans Meroga Panggabean mengharapkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu menampung dua juta pengangguran di Tanah Air.

Menurut dia, di Jakarta, Kamis, saat ini merupakan momentum bagi para pelaku koperasi dan UMKM untuk mengambil peran sentral sebagai tulang punggung ekonomi bangsa.

"Sektor ini sangat potensial untuk bisa menyerap tenaga kerja lebih dari dua juta terlebih bahwa koperasi dan UMKM merupakan sektor ekonomi dengan kekuatan yang bersumber dari rakyat itu sendiri, sehingga sesuai definisi ekonomi kerakyatan," katanya.

Baca juga: Jokowi ingatkan UMKM tidak lupa pasar domestik meski ekspor penting

Namun Wakil Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari ini mempertanyakan dalam Rencana Kerja Kementerian Koperasi dan UKM yang hanya menitikberatkan pada target peningkatan ekspor.

Sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan pihaknya akan mendorong naiknya kontribusi UMKM pada kegiatan ekspor pada 2024 hingga 30 persen, atau naik dua kali lipat dari saat ini yang hanya 14,5 persen.

"Jangan kita terlena euforia UMKM go global sehingga lupa sangat penting juga menekan impor dan menguasai pasar domestik. Kalau hanya sebatas barang konsumsi, hasil produksi UMKM di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan sangat mampu bersaing mutu dengan barang impor," ungkap Frans.

Ia menjelaskan bila Indonesia mampu swasembada beras, maka akan lahir 250.000 petani sawah baru, yang berkegiatan ekonomi senilai impor beras selama ini yakni lebih dari Rp15 triliun.

“Juga impor buah yang sampai Rp18 triliun itu sebanding dengan terciptanya 300.000 orang petani buah baru,” kata Frans.

Ketua DPP Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia ini pun melanjutkan, akan ada sampai 350.000 petani gula baru jika melihat selama ini Indonesia impor 2,2 juta ton gula mentah.

Bila dihitung lagi, jenis komoditas lain seperti bawang, garam, hasil laut, dan sisa industri makanan yang juga produk agrobisnis, total akan mencapai dua juta petani baru lahir jika UMKM fokus pada swasembada pangan.

"Sangat jelas dua juta pengangguran akan terhapuskan. Kami menghitung memakai patokan penghasilan Rp5 juta sebulan. Penghasilan Rp5 juta sebulan tidak masuk kategori miskin. Luar biasa kalau UMKM fokus swasembada pangan, akan lahir sampai dua juta petani baru yang hidup layak dengan Rp5 juta per bulan," katanya.

Frans yakin bila swasembada pertanian mampu diwujudkan, maka angka kemiskinan yang sekarang 9,41 persen akan turun menjadi minimal 8,5 persen.

Tingkat pengangguran yang saat ini 5,28 persen, juga akan turun menjadi minimal 4,5 persen. Untuk rasio gini pun yang berada di 0,382 juga akan turun signifikan sampai 2024.

"Dengan UMKM fokus pada upaya menekan impor akan semakin mempercepat perubahan struktur ekonomi,” kata penulis "The Ma'ruf Amin Way" ini.

Sebelumnya, Teten Masduki memastikan telah menyiapkan program percepatan strategis untuk pengembangan koperasi dan UMKM.

Sebagaimana visi Presiden Jokowi yang ingin ekonomi kerakyatan menjadi arus utama pembangunan nasional dalam lima tahun ke depan, katanya.

Baca juga: UMKM diingatkan tak terjebak euforia "go global"

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Sore

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar