Pemerintah diharapkan tinjau ulang pembangunan PLTSa

Pemerintah diharapkan tinjau ulang pembangunan PLTSa

Direktur Eksekutif WALHI Nasional Nur Hidayati (tengah) dan Profr Paul Connett (kedua kanan) dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/1/2020) (FOTO ANTARA/Prisca Triferna)

Insinerator adalah teknologi purba yang harus ditinggalkan. Di Eropa teknologi ini mulai ditinggalkan karena tidak berkelanjutan
Jakarta (ANTARA) - Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengharapkan pemerintah meninjau ulang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) karena dianggap merupakan solusi semu untuk permasalahan sampah.

"Gubernur DKI Jakarta harus konsisten dengan komitmen untuk membersihkan udara Jakarta. Sudah banyak sumber polusi udara di Jakarta, baik dari sektor transportasi maupun industri. Jadi, jangan menambah sumber polusi baru dari PLTSa," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nur Hidayati dalam konferensi pers di Kantor WALHI, Jakarta, Jumat.

AZWI yang merupakan gabungan dari sejumlah organisasi penggiat lingkungan, salah satu anggotanya adalah WALHI. Anggota aliansi lainnya di antaranya Greenpeace Indonesia, Nexus3, Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL), dan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi.

Opini itu, katanya, didasarkan bahwa teknologi insinerator yang menggunakan proses pembakaran tidak menyelesaikan permasalahan produksi sampah dalam bentuk ekonomi linear.

Selain itu jika tidak dilakukan pemisahan dalam proses produksinya maka ada kemungkinan sampah yang memiliki kandungan berbahaya dan beracun bisa terlepas dan mempengaruhi kualitas udara di Jakarta dan daerah-daerah tempat PLTSa akan dibangun.

Selain ada kemungkinan emisi dioksin dari pembakaran, katanya, akan tersisa juga abu terbang dan kerak yang bisa bersifat toksik dan harus diperlakukan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun  (B3) di tempat pembuangan akhir (TPA) khusus.

Baca juga: Pemkot Surakarta mulai bangun pembangkit sampah Putri Cempo

Baca juga: Gubernur Lampung wujudkan pembangunan PLTSa

Baca juga: Luhut apresiasi pengolahan sampah di Putri Cempo


Pakar zero waste dan toksikologi Profr Paul Conett, yang juga menghadiri konferensi pers tersebut mengatakan bahwa insinerator dan berbagai jenis teknologi termal dengan label sampah menjadi energi tidak ada yang membuahkan keberhasilan, terutama dalam skala besar.

"Insinerator adalah teknologi purba yang harus ditinggalkan. Di Eropa teknologi ini mulai ditinggalkan karena tidak berkelanjutan. Bahkan banyak insinerator di Eropa ditutup karena kekurangan sampah seiring dengan upaya pengurangan yang dilakukan di Eropa," kata doktor lulusan dari Dartmouth College, New Hampshire, Amerika Serikat itu.

Paul datang ke Indonesia untuk ketiga kalinya untuk mengunjungi Kota Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bali, beberapa kota yang masuk dalam prioritas proyek PLTSa.

Pemerintah sudah mengoperasikan atau tengah membangun 12 PLTSa dalam rentang 2019-2022 yang mampu menghasilkan listrik hingga 234 Megawatt (MW) dari sekitar 16 ribu ton sampah per hari.

AZWI terdiri atas WALHI, Greenpeace Indonesia, Nexus3, ICEL, dan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi.

Baca juga: Penggunaan pembangkit listrik tenaga sampah bantu penanganan sampah

Baca juga: Azwi serukan setop impor sampah plastik

Baca juga: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah perlu diperbanyak

Baca juga: Ganjar optimistis PLTSa mampu selesaikan masalah sampah

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Keramahan lingkungan PLTSa masih dalam Tahap pengujian

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar